Translate

Rabu, 03 Juli 2013

Makalah Istishab


MAKALAH USHUL FIQH

”ISTISHAB”

BAB I
PENDAHULUAN

1.1.       Latar Belakang
Tidak diragukan lagi bahwa Syariat Islam adalah penutup semua risalah samawiyah, yang membawa petunjuk dan tuntunan Allah Swt untuk ummat manusia dalam wujudnya yang lengkap dan final. Itulah sebabnya, dengan posisi seperti ini, maka Allah pun mewujudkan format Syariat Islam sebagai syariat yang abadi dan komprehensif.
Hal itu dibuktikan dengan adanya prinsif-prinsif dan kaidah-kaidah hukum yang ada dalam Islam yang membuatnya dapat memberikan jawaban terhadap hajat dan kebutuhan manusia yang berubah dari waktu ke waktu, seiring dengan perkembangan zaman. Secara kongkrit hal itu ditunjukkan dengan adanya dua hal penting dalam hukum Islam: (1) nash-nash yang menetapkan hukum-hukum yang tak akan berubah sepanjang zaman dan (2) pembukaan jalan bagi para mujtahid untuk melakukan ijtihad dalam hal-hal yang tidak dijelaskan secara sharih dalam nash-nash tersebut.
Dan jika kita berbicara tentang ijtihad, maka sisi ra’yu (logika-logika yang benar) adalah hal yang tidak dapat dilepaskan darinya. Karena itu, dalam Ushul Fiqih sebuah ilmu yang “mengatur” proses ijtihad dikenallah beberapa landasan penetapan hukum yang berlandaskan pada penggunaan kemampuan ra’yu para fuqaha. Dan salah satunya adalah istishhab yang akan dibahas dan diuraikan secara singkat dalam makalah ini.

1.2.       Rumusan Masalah
Berangkat dari latar belakang masalah di atas maka permasalahan yang dapat kami penulis rumuskan adalah sebagai berikut :
a.         Apa pengertian istishab itu ?
b.        Bagaimanakah pembagian ishtishab ?
c.         Apa dasar hukum istishab ?
d.        Bagaimanakah pendapat ulama tentang kehujjahan istishab ?
e.         Bagaiman kaidah-kaidah yang membangun ishtishab ?
f.         Seperti apa aplikasi ulama fiqh dengan istishab ?


1.3.       Tujuan Penulisan
Adapun tujuan penulisan dari makalah ini adalah untuk mengetahui jawaban dari semua pertanyaan yang terangkum dalam rumusan masalah di atas.



BAB II
PEMBAHASAN

عن أبى أمامة الباهليّ عن رسول لله صلّى الله عليه و سلم قال : لينقضنّ عرى الاسلام عروة عروة فكلّما انتقضت عروة تشبّث النّاس بالّتى تليها و اوّلهنّ نقضا الحكم و أخرهنّ الصّلاة ( رواه احمد )
”Dari Abi Umamah Al-Bahily dari Rasulullah Saw. Beliau bersabda : ” Untaian tali-tali Islam ini akan terurai satu persatu, setiap kali satu untaian terurai maka orang-orang berpegang pada untaian berikutnya. Dan untaian yang terurai pertama kali adalah hukum, sedangkan yang terakhir adalah shalat.” (HR.Ahmad ).
Berangkat dari pijakan Hadits di atas, maka kita senantiasa meyakini akan terjadinya suatu keadaan seperti yang di gambarkan Rasulullah beberapa abad silam lamanya yaitu syari’at islam sedikit demi sedikit akan hilang dari para pemeluknya sehingga suatu saat nanti akan asing melihat orang yang menjalankan syari’at Islam .
Pada masa Khulafa Ar-Rasyidin pernah terjadi adanya yang tidak mau membayar zakat, sehingga sampai diperangi. Masa kini mungkin akan semakin banyak penyimpangan terhadap syari’at Islam di Mesir, Rifa’ah Al-Tafthawi (1800-1873), yang tinggal 7 tahun di Paris dan kembali ke Mesir pada tahun 1983, adalah peletak batu pertama dalam memusuhi hijab dengan menghalalkan dansa antara antara laki-laki dan perempuan. di Indonesia penyimpangan-penyimpangan syari’at Islam mungkin akan semakin pelik dan beragam, dengan lahirnya sebuah kelompok yang suka merasionalisasikan urusan yaitu : Jaringan Islam Liberal ( JIL) sampai saat ini mereka paling giat mengotak-atik teks al-Quran sehingga tak sedikit ayat al-Quran yang mereka langkahi dan mengedapankan rasio mereka dengan dalih itu untuk kemaslahatan manusia. Padahal Rasulullah telah bersabda: “barang siapa yang menafsirkan al-Quran dengan menggunakan rasio atau tanpa ilmu maka bersiap-siaplah untuk menempati neraka.“. Bukan tidak boleh kita melakukan itu. akan tetapi, akal kita harus selaras dengan syari’at bukan syari’at yang harus menyelaraskan dengan akal. itu yang harus jadi pegangan kita agar kita bisa menjadi golongan yang selamat di dunia dan akhirat.
2.1.    Pengertian Istishab
Istishhab secara etimologi adalah isim masdar dari istashaba yastashhibu istishhaban diambil dari “استفعال من الصّحبة ” yang berarti thalab as-shuhbah atau mencari hubungan atau adanya saling keterkaitan.
Sedangkan istishhab secara terminologi, beberapa ulama mengeluarkan pendapatnya, sebagai berikut:
a.         Ibnu Qoyyim Aj-Jauziy mengistilahkan :
استدامة اثبات ما كان ثابتا او نفي ما كان منفيّا
”Tetapnya sebuah ketentuan yang sebelumnya sudah menjadi suatu ketentuan atau tetapnya sebuah larangan yang sebelumnya sudah menjadi larangan.“
b.        Imam Asy-Syaukani mengistilahkan :
الاستصحاب هو بقاء الامر ما لم يوجد ما يغيّره
”Tetapnya sesuatu perkara selama tidak ada dalil yang merubahnya.” Istilah ini bisa dipahami dengan makna : apa yang sudah ditetapkan pada masa lalu pada dasarnya merupakan sebagai sebuah ketetapan pula pada masa yang akan datang.”
c.         Ibnu Hazm membuat definisi ishtishhab :
الاستصحاب هو بقاء حكم الأصل الثّابت بالنصوص حتّى يقوم الدّليل منها على التّغيير
” Tetapnya hukum asal yang ditetapkan oleh nushush sehingga ada dalil dari nushush tersebut yang merubahnya “


2.2.    Pembagian Ishtishab
Ada beberapa pendapat ulama mengenai pembagian Istishab, di antaranya berikut ini:
a.         Muhammad Abu Zahroh membagi Istishhab menjadi 4 bagian :
1.         Istishab al-Bara`ah al-Ashliyyah dapat dipahami dengan contoh sebagai berikut : tidak adanya kewajiban melaksanakan syari’at bagi manusia, sehingga ada dalil yang menunjukan dia wajib melaksanakan kewajiban tersebut,. Maka apabila dia masih kecil maka dalilnya adalah ketika dia sudah baligh.
2.         Ishtishab ma dalla asy-Syar’i au al-’Aqli ‘ala Wujudih bisa dipahami yaitu bahwa nash menetapkan suatu hukum dan akal pun membenarkan (menguatkan ) sehingga ada dalil yang menghilangkan hukum tersebut. Seperti dalam contoh : seperti dalam pernikahan bahwa pernikahan itu akan tetap sah ketika belum ada dalil yang menunjukan telah berpisah.
3.         Istishab al-hukmi bisa dipahami apabila hukum itu menunjukan pada dua terma yaitu boleh atau dilarang, maka itu tetap di bolehkan sehingga ada dalil yang mengharamkan dari perkara yang diperbolehkan tersebut, begitu juga sebaliknya. Seperti dalam sebuah ayat Allah Swt, berfirman :
uqèd Ï%©!$# šYn=y{ Nä3s9 $¨B Îû ÇÚöF{$# $YèŠÏJy_ §NèO #uqtGó$# n<Î) Ïä!$yJ¡¡9$# £`ßg1§q|¡sù yìö7y ;Nºuq»yJy 4 uqèdur Èe@ä3Î/ >äóÓx« ×LìÎ=tæ ÇËÒÈ
Artinya: “Dia-lah Allah, yang menjadikan segala yang ada di bumi untuk kamu dan dia berkehendak (menciptakan) langit, lalu dijadikan-Nya tujuh langit. dan dia Maha mengetahui segala sesuatu.”(QS. Al-Baqarah: 29)
Maka setiap apa yang ada di muka bumi ini pada asalnya adalah boleh sehingga ada dalil yang melarangnya.
4.         Istishab al-Washfi dipahami dengan menetapkan sifat asal pada sesuatu, seperti tetapnya sifat hidup bagi orang hilang sehingga ada dalil yang menunjukan bahwa dia telah meninggal, dan tetapnya sifat suci bagi air selama belum ada najis yang merubahnya baik itu warna, rasa atau baunya.
b.        Ibnu Qoyim aj-Jauziy membagi menjadi tiga bagian :
Dua dari tiga pembagian itu sudah tercakup oleh yang dibagi oleh Muhammad Abu Zahrah pada no 1 dan 4, ada satu yang beda yaitu : Ishtishhab hukmi al-Ijma’ fi Mahalli an-Naza’ dimana pada suatu keadaan mereka ( sahabat ) sepakat kemudian keadaan itu berubah, maka hukum yang lama itu selaras dengan keadaan yang baru, sehingga ada dalil yang menunjukan ada hukum yang menghususkan bagi keadaan tersebut.
Seperti : orang yang bertayamum melihat air ketika masih melaksanakan shalat, maka shalatnya tetap sah ditetapkan dengan menggunakan istishhab ijma yang menetapkan sahnya shalatnya orang yang bertayamum sehingga ada dalil bahwa melihat air membatalkan shalatnya orang yang bertayamum.


2.3.    Dasar Hukum Istishab
a.         Dalil Naqli :
1.         Al-Quran
Ayat yang digunakan dalam aplikasi istishab yaitu dengan memperhatikan (istiqra) ayat-ayat yang menjelaskan tentang hukum syara dan itu tetap selama tidak ada dalil yang merubahnya.
Seperti haramnya alkohol di tetapkan oleh al-quran yang menjelaskan haramnya khomer, apabila sudah berubah sifatnya menjadi al-khol ( cuka ) maka itu tidak haram lagi karena sudah hilang sifat memabukannya.
Allah SWT. berfirman:
$pkšr'¯»tƒ tûïÏ%©!$# (#þqãYtB#uä $yJ¯RÎ) ãôJsƒø:$# çŽÅ£øŠyJø9$#ur Ü>$|ÁRF{$#ur ãN»s9øF{$#ur Ó§ô_Í ô`ÏiB È@yJtã Ç`»sÜø¤±9$# çnqç7Ï^tGô_$$sù öNä3ª=yès9 tbqßsÎ=øÿè? ÇÒÉÈ
Artinya: “Hai orang-orang yang beriman, Sesungguhnya (meminum) khamar, berjudi, (berkorban untuk) berhala, mengundi nasib dengan panah, adalah termasuk perbuatan syaitan. Maka jauhilah perbuatan-perbuatan itu agar kamu mendapat keberuntungan.” ( QS. Al-Ma’idah : 90 )
2.         As-Sunnah
Dari Abi Hurairah Rasulullah Saw. Bersabda : “Apabila salah seorang diantara kamu merasakan sesuatu diperutnya maka dia ragu apakah keluar sesuatu atau tidak, maka janganlah keluar meninggalkan mesjid sehingga terdengar suara, atau keluar angin.” ( Hr. Muslim )
b.        Dalil ‘Aqli :
Secara naluriah akal kita bisa menghukumi segala sesuatu boleh atau tidak, ada dan tiada dengan melihat pada asal mulanya. selama belum ada dalil yang mengingkari sebaliknya, maka itu tetap di hukumi seperti asalnya, seperti bahwa manusia terlahir kedunia ini selamanya di sifati hidup sebelum ada bukti yang jelas bahwa dia telah meninggal.

2.4.       Perbedaan Pendapat Tentang Hujjatul Istishab
Para ahli ushul terbagi menjadi beberapa madzhab madzhab :
a.         Jumhur diantaranya : malikiyyah, hanabilah, sebagian besar syafi’iyyah, dan sebagian hanafiyyah. Berpendapat bahwa istishhab sebagai hujjah secara mutlaq baik itu nafyi atau itsbat.
b.        Sebagian syafi’iyyah, sebagian besar hanabilah dan mutakallimin seperti husein al-Bishri. Mereka berpendapat bahwa istishhab bukan hujjah secara mutlak baik itu dalam nafyi atau itsbat.
c.         Para pengikut hanafiyyah al-mu’ashir mereka berpendapat : bahwa istishhab sebagai hujjah liddaf’I la lil itsbat.
d.        Al-Baqalani berpendapat bahwa istishhab itu hujjah bagi mujtahid akan tetapi tidak boleh digunakan dalam perkara yang di perdebatkan.
e.         Abu Ishaq menukil dari Imam Syafi’i berpendapat bahwa istishhab hanya boleh dijadikan sebagai penguat dari dalil, tidak untuk yang lain.
f.         Abu manshur al-Bagdadi dari sebagian syafi’iyyah berpendapat bahwa mustashhib jika tujuannya melarang apa yang sebenarnya telah dilarang maka itu boleh, akan tetapi bila tujuannya itsbat berbeda dengan pandangan orang yang memungkinkan menggunakan istihhab al-hal dalam melarang maka apa yang di itsbatkannya itu tidak sah ( salah ).
2.5.    Kaidah-Kaidah Yang Membangun Ishtishab
a.         Al-Qur’an:
uqèd Ï%©!$# šYn=y{ Nä3s9 $¨B Îû ÇÚöF{$# $YèŠÏJy_ §NèO #uqtGó$# n<Î) Ïä!$yJ¡¡9$# £`ßg1§q|¡sù yìö7y ;Nºuq»yJy 4 uqèdur Èe@ä3Î/ >äóÓx« ×LìÎ=tæ ÇËÒÈ
Artinya: “Dia-lah Allah, yang menjadikan segala yang ada di bumi untuk kamu dan dia berkehendak (menciptakan) langit, lalu dijadikan-Nya tujuh langit. dan dia Maha mengetahui segala sesuatu.” (QS. Al-Baqarah : 29)
Maka bisa di ambil sebuah kesimpulan bahwa setiap apa yang ada di muka ini pada asalnya adalah boleh selama tidak ada dalil yang melarangnya.
b.        Hadits Nabi SAW.
Dari Abi Hurairah Rasulullah Saw. Bersabda : Apabila salah seorang diantara kamu merasakan sesuatu diperutnya maka dia ragu apakah keluar sesuatu atau tidak, maka janganlah keluar meninggalkan mesjid sehingga terdengar suara, atau keluar angin. (Hr. Muslim)
Atas dasar hadits tersebut, maka apabila seseorang ragu telah buang angin atau tidak, wudhu’nya di anggap belum batal sepanjang ia belum terasanya keluar angina tau mendengar suara.

2.6.       Aplikasi Ulama Fiqh dengan Istishab
a.        Ibnu Abi Laila ( 74-148 H)
Muhammad bin Abdurrahman bin Abi Laila Al-Anshari seorang Hakim dan Faqih di Kufah pada masa Umayyah sampai Abbasiyah beliau adalah orang yang berfatwa dengan ra’yu sebelum Abu Hanifah
Ibnu Qudamah meriwayatkan bahwasanya Abu Laila berkata tidak ada zakat untuk madu dengan alasan tidak ada dalil yang kuat yang menjelaskan wajibnya zakat madu. Dari sana kita mengetahuai metode pendekatan yang dilakukan oleh Abu Laila adalah dengan cara ishtishhab yaitu al-Bara`ah al-Ashliyah (pada asalnya tidak ada hukum) dalam menetapkan menentukan suatu hukum maka selama tidak ada dalil shahih yang menerangkan wajibnya zakat maka pada madu itu tetap tidak ada wajib zakat.
b.        Abu Hanifah ( 81-150 H )
Imam al-Kurkhi dan al-Sarkhosy mengatakan bahwa Abu Hanifah dan pengikutnya ( hanafiyah ) menjadikan sebuah qo’idah sebagai rujukan yaitu ” ma Tsabata bi al-Yaqin la Yazulu bi asy-Syak “ suatu yang ditetapkan dengan yakin tidak bisa hilang dengan suatu yang diragukan.
Seperti yang diriwayatkan dari al-Kurdi : dikisahkan salah seorang datang kepada Abu Hanifah kemudian dia bertanya kepada Abu Hanifah : aku tidak tahu apakah aku sudah menolak istriku atau tidak ? maka Abu Hanifah menjawab : kamu tidak men-talaq istri kamu sehingga, kamu benar-benar yakin telah men-talaqnya.
Dan imam As-Sarkhosy meriwayatkan bahwa imam Abu Hanifah berkata : barang siapa yang ragu apakah dia berhadats maka dia memiliki wudhunya dan apabila ragu apakah punya wudlu atau tidak maka dia adalah berhadats. Dari kedua contoh diatas menunjukan bahwa imam Abu Hanifah mengamalkan kaidah al-Yakin la Yu’aridlu bi as-Syak yang merupakan salah satu kaidah yang selaras dengan methode istishhab.
c.         Imam Malik ( 93-179 H )
Dalam kitab al-Mudawwanah dituliskan : imam Malik berkata ” tidak boleh dibagikan harta warisan orang yang hilang sehingga ada kabar tentang kematiannya atau setelah mencapai masa yang tidak mungkin dia masih hidup, maka harta warisan itu dibagikan hari itu yang jadi ditetapkannya bahwa dia sudah meninggal.
Dan imam Malik meriwayatkan sebuah hadits Rasulullah Saw. : barang siapa ragu dalam jumlah raka’at shalat maka dia harus menetapkan dengan yakin yaitu mengambil yang sedikit.
Akan tetapi kita mendapatkan bahwa imam Malik dalam beberapa masalah beliau berfatwa berbeda dari apa yang telah di tetapkannya dengan methode istishhab yaitu mengambil yang lebih kecil (sedikit ) Imam Sahnun meriwayatkan : aku bertanya ” kalau ada suami yang men-talaq istrinya kemudian dia tidak tahu apakah dia men-talaqnya yang pertama, kedua atau ketiga.Bagaimanakah pendapat malik ? imam Malik menjawab : tidak halal baginya sehingga ada orang lain yang menikahinya terlebih dahulu. Dan pendapat ini bertentangan dengan pendapat jumhur yang mengambil yang lebih kecil.
d.        Imam Asy-Syafi’i ( 150-204 H )
Imam asy-Syafi’I pernah mengamalkan ishtishhab yaitu beliau pernah berkata : apabila seseorang melakukan perjalanan dan dia membawa air maka dia ragu apakah sudah ada najis yang tercambur dengan air tersebut dengan tidak yakin, maka air itu tetap dalam kesuciannya. Dia boleh berwudhu dan minum dari air tersebut sehingga dia yakin ada najis yang sudah bercampur dengan air tersebut.
Dan imam asy-Syafi’I pernah berkata : kalau seseorang ragu apakah keluar mani atau tidak? Maka dia tidak wajib mandi sehingga dia yakin, akan tetapi dalam menjaga kehati-hatian dianjurkan mandi.




BAB III
PENUTUP

3.1.    Kesimpulan
Imam al-Khawarizmy berkata : Ishtishab adalah akhir cara untuk membuat fatwa, jika mufti ditanya tentang hukum dari perkara yang baru, maka mufti mencari hukumnya pertama dari al-quran, as-Sunnah, ijma’, kemudian qiyas. Maka jika tidak ada dalil yang dia mengambil hukumnya dengan istishhab al-hal dalam melarang atau menetapkan, maka jika berselisih dalam ketiadaan maka pada asalnya adalah ada, dan jika berselisih dalam ada atau tidak maka asalnya tidak ada.
Hanafiyyah dan malikiyyah menjadikan istishab liddaf’I la lil isbat yaitu dalil dalam menetapkan sesuatu yang pada asalnya sudah ditetapkan dan bukan menjadi hujah menetapkan sesuatu perkara yang belum ada. Sedangkan syafi’iyyah dan hanabilah berpendapat bahwa istishhab itu hujjah liddaf’I wa lil istbat yaitu menetapkan hukum yang pada sudah ditetapkan pada awalnya kemudian menetapkannya seolah-olah dengan dalil baru.
Dari uraian-uraian tentang Istishab di atas maka penulis berpendapat bahwa istishhab bisa di jadikan sebagai salah satu methode dalam mencari sebuah hukum setelah merujuk terlebih dahulu pada al-quran, as-sunnah, maka jika tidak ada dalil yang menunjukan secara detail maka methode ishtishhab bisa di lakukan.

3.2.    Saran
Apabila dalam penulisan makalah ini terdapat kekurangan, kami penulis meminta kepada pembaca umumnya dan khususnya kepada bapak dosen mata kuliah Ushul Fiqih ini untuk memberikan saran dan kritik yang membangun untuk makalah ini. Mudah-mudahan Allah Swt senantiasa memberkahi kita semua. Amin ya Rabbal ‘Alamin.



DAFTAR PUSTAKA

Rahmat Syafe’i. 2007. Ilmu Ushul Fiqih Cetakan ketiga). Bandung: Pustaka Setia
Wahbah Zuhaily. 2004. Ushul Fiqh al-Islami (Terjemahan cetakan kedua). Damaskus-Syuria: Dar Al-Fikr



Tidak ada komentar: