Mau pasang iklan di blog anda?. Klik gambar dibawah ini............

Translate

Sabtu, 08 Juni 2013

Makalah Sejarah Perkembangan Tasawuf Salafi, Falsafi Dan Syi’i



Sejarah Perkembangan Tasawuf Salafi, Falsafi Dan Syi’i

BAB I
PENDAHULUAN

1.1.       Latar Belakang
Dalam sejarah perkembangannya, para ahli membagi tasawuf menjadi dua arah perkembangan. Ada tasawuf yang mengarah pada teori-teori prilaku; ada pula tasawuf yang mengarah pada teori-teori yang begitu rumit dan memerlukan pemahaman yang lebih mendalam.
Pada perkembangannya, tasawuf yang berorientasi ke arah pertama disebut sebagai tasawuf salafi, tasawuf akhlaqi, atau tasawuf sunni. Ada pun tasawuf yang berorientasi ke arah kedua disebut tasawuf falsafi. Tasawuf jenis kedua banyak dikembangkan para sufi yang berlatar belakang sebagai filosof, disamping sebagai sufi.

1.2.       Rumusan Masalah
Dari uraian tentang tasawuf di atas, kami merumuskan beberapa permasalahan yang akan kita bahas dalam makalah ini, yaitu:
a.         Bagaimana sejarah perkembangan dan ajaran tasawuf Salafi (akhlaqi) ?
b.        Bagaimana sejarah perkembangan dan ajaran tasawuf Falsafi ?
c.         Dan bagaimana pula sejarah perkembangan tasawuf Syi’i ?

1.3.       Tujuan Penulisan
Agar dapat menjelaskan:
a.         Sejarah perkembangan serta ajaran tasawuf Salafi (akhlaqi)
b.        Sejarah perkembangan serta ajaran tasawuf Falsafi
c.         Dan sejarah perkembangan tasawuf Syi’i
BAB II
PEMBAHASAN

2.1.    Tasawuf Salafi (Akhlaqi)
a.        Sejarah Perkembangan Tasawuf Salafi (Akhlaqi)
Pada mulanya tasawuf merupakan perkembangan dari pemahaman dari intuisi-intuisi Islam. Sejak zaman sahabat dan tabi’in, kecendrungan pandangan orang terhadap ajaran Islam secara lebih analitis sudah muncul.
1.         Abad Kesatu dan Kedua Hijriah
Perkembangan tasawuf dalam Islam telah mengalami beberapa fase: pada abad pertama dan kedua hijriah dikenal sebagai fase asketisme (zuhud). Sikap asketisme (zuhud) ini banyak dipandang sebagai pengantar kemunculan tasawuf. Pada fase ini, terdapat individu-individu dari kalangan muslim yang lebih memusatkan diri pada ibadah. Mereka menjalankan konsepsi asketis dalam kehidupan, yaitu tidak mementingkan makanan, pakaian, maupun tempat tinggal. Mereka lebih banyak beramal untuk hal-hal yang berkaitan dengan kehidupan akhirat, yang menyebabkan mereka lebih memusatkan diri pada jalur kehidupan dan tingkah laku yang asketis. Tokoh yang sangat popular dari kalangan mereka adalah Hasah Al-Bashri (wafat pada 110 H) dan Rabi’ah Al-Adawiyah (185 H). kedua tokoh ini dijuluki sebagai zahid.
2.         Abad Ketiga Hijriah
Pada abad ketiga hijriyah, para sufi mulai menaruh perhatian terhadap hal-hal yang berkaitan dengan jiwa dan tingkah laku.perkembangan doktrin-doktrin dan tingkah laku sufi ditandai dengan upaya menegakkan moral di tengah terjadinya dekadensi moral yang berkembang saat itu sehingga di angan mereka, tasawuf pun berkembang menjadi ilmu moral keagamaan. Kajian yang berkenaan dengan akhlak ini menjadikan tasawuf terlihat  sebagai amalan yang sangat sederhana dan mudah dipraktekan oleh semua orang terlebih oleh kaum salaf. Kaum salaf tersebut melaksanakan amalan-amalan tasawuf dengan menampilkan akhlak yang terpuji, dengan maksud memahami kandungan batiniah ajaran Islam yang mereka nilai banyak mengandung muatan anjuran untuk berakhlak yang terpuji. Pada abad ketiga ini mulai ada segolongan ahli tasawuf yang mencoba menyelidiki inti ajaran tasawuf yang berkembang masa itu, mereka membaginya menjadi tiga macam, yaitu:
Ø  Tasawuf yang berintikan ilmu jiwa, yaitu tasawuf yang berisi suatu metode yang lengkap tentang pengobatan jiwa, yang mengkonsentrasikan-kejiwaan manusia kepada Khaliqnya, sehingga ketegangan kejiwaan akibat pengaruh keduniaan dapat teratasi dengan baik.
Ø  Tasawuf yang berintikan ilmu akhlak; yaitu didalamnya terkandung petunjuk-petunjuk tentang tata cara berbuat baik serta cara menghindari keburukan; yang dilengkapi dengan riwayat dari kasus yang pernah di alami oleh para sahabat Nabi.
Ø  Tasawuf yang berintikan metafisika; yaitu didalamnya terkandung ajaran yang melukiskan hakikat Ilahi, yang merupakan satu-satunya yang ada dalam pengertian yang mutlak, serta melukiskan sifat-sifat Tuhan, yang menjadi alamat bagi orang-orang yang akan tajalli kepada-Nya.
3.         Abad Keempat Hijriah
Pada abad keempat hijriah ditandai dengan kemajuan ilmu tasawuf yang lebih pesat dibandingkan dengan abad ketiga hijriah, karena usaha maksimal para ulama tasawuf untuk mengembangkan ajaran tasawufnya masing-masing. Akibatnya, kota Baghdad satu-satunya kota yang terkenal sebagai pusat kegiatan tasawuf paling besar sebelum masa itu tersaingi oleh kota-kota besar lainnya.
Upaya untuk mengembangankan tasawuf diluar kota Baghdad pada abad keempat ini dipelopori oleh beberapa ulama tasawuf yang terkenal kealimannya, antara lain:
Ø  Musa Al-Anshary; mengajarkan ilmu tasawuf di Khurasan (Persia atau Iran), dan wafat disana tahun 320 H.
Ø  Abu Hamid bin Muhammad Ar-Rubazy; mengajarkannya disalah satu kota di Mesir, dan wafat disana tahun 322 H.
Ø  Abu Zaid Al-Adamy; mengajarkannya di Semenanjung Arabiyah, dan wafat disana tahun 314 H.
Ø  Abu Ali Muhammad bin Abdil Wahhab As-Saqafy; mengajarkannya di Naisabur dan kota Syaraz, hingga ia wafat tahun 328 H.
Perkembangan tasawuf diberbagai negeri dan kota tidak mengurangi perkembangan tasawuf kota Baghdad bahkan,penulisan kitab-kitab tasawuf disana mulai bermunculan, misalnya kitab Qutubul Qultib Fi Mu’amalatil Mahbub, yang dikarang oleh Abu Thalib Al-Makky (meninggal di Baghdad tahun 386 H).
Ciri-ciri lain yang terdapat pada abad keempat ini adalah semakin kuatnya unsur filsafat yang mempengaruhi corak tasawuf, karena banyaknya buku filsafat yang tersebar dikalangan umat Islam hasil dari terjemahan orang-orang musliam sejak permulaan Daulah Abbasiyah. Pada abad ini pula mulai dijelaskan perbedaan ilmu zahir dan ilmu batin, yang dibagi oleh ahli tasawuf menjadi empat macam:
Ø  Ilmu Syariah
Ø  Ilmu Thariqah
Ø  Ilmu Haqiqah
Ø  Ilmu Ma’rifah
4.         Abad Kelima Hijriah
Pada abad kelima hijriah muncullah Imam Al-Ghazali, yang sepenuhnya hanya menerima tasawuf berdasarkan Al-Quran dan As-Sunnah serta bertujuan asketisme, kehidupan sederhana, pelurusan jiwa, dan pembinaan moral. Pengetahuan tentang tasawuf berdasarkan tasawuf dikajinya dengan begitu mendalam. Di sisi lain, ia melancarkan kritikan tajam terhadap para filosof, kaum Mu’tazilah dan Batiniyah. Al-Ghazali berhasil mengenalkan prinsip-prinsip tasawuf yang moderat, yang seiring dengan aliran ahlu sunnah waljama’ah, dan bertentangan dengan tasawuf Al-Hajjaj dan Abu Yazid Al-Busthami, terutama mengenai soal karakter manusia.
5.         Abad Keenam Hijriah
Pada abad keenam hijriah, sebagai akibat pengaruh keperibadian Al-Ghazali yang begitu besar, pengaruh tasawuf Sunni semakin meluas ke seluruh pelosok dunia Islam. Keadaan ini memberi peluang bagi munculnya para tokuoh sufi yang mengembangkan tarikat-tarikat untuk mendidik para murid mereka, seperti Sayyid Ahmad Ar-Rifa’i (wafat pada tahun 570 H) dan Sayyid Abdul Qadir Al-Jailani (wafat pada tahun 651 H).

b.        Ajaran Tasawuf Salafi (Akhlaqi)
1.         Takhalli
Takhalli merupakan langkah pertama yang harus di lakukan oleh seorang sufi.Takhalli adalah usaha mengosongkan diri dari perilaku dan akhlak tercela. Salah satu dari akhlak tercela yang paling banyak menyebabkan akhlak jelek antara lain adalah kecintaan yang berlebihan kepada urusan duniawi.
2.         Tahalli
Tahalli adalah upaya mengisi dan menghiasi diri dengan jalan membiasakan diri dengan sikap, perilaku, dan akhlak terpuji. Tahapan tahalli dilakukan kaum sufi setelah mengosongkan jiwa dari akhlak-akhlak tercela. Dengan menjalankan ketentuan agama baik yang bersifat eksternal (luar) maupun internal (dalam). Yang disebut aspek luar adalah kewajiban-kewajiban yang bersifat formal seperti sholat, puasa, haji dll. Dan adapun yang bersifat dalam adalah seperti keimanan, ketaatan dan kecintaan kepada Tuhan. Sikap mental dan perbuatan yang baik sangat penting diisikan kedalam jiwa manusia akan dibiasakan dalam perbuatan dalam rangka pembentukan manusia paripurna, antara lain:
Ø  Taubat: Yaitu rasa penyesalan sungguh – sungguh dalam hati yang disertai permohonan ampun serta berusaha meninggalkan perbuatan yang menimbulkan dosa.
Ø  Cemas dan Harap (Khauf dan Raja’) : yaitu perasaan yang timbul karena banyak berbuat salah dan seringkali lalai kepada Allah.
Ø  Zuhud:  Yaitu meninggalkan kehidupan duniawi dan melepaskan diri dari pengaruh materi.
Ø  Al-Faqr: Yaitu sikap yang tidak menuntut lebih banyak dari apa yang telah dipunyai dan merasa puas dengan apa yang sudah dimiliki sehingga tidak meminta sesuatu yang lain.
Ø  Al-Sabru: Yaitu suatu keadaan jiwa yang kokoh, stabil, dan konsekuen dalam pendirian.
Ø  Ridha: Yaitu menerima dengan lapang dada dan hati terbuka terhadap apa saja yang datang dari Allah.
Ø  Muraqabah: yaitu seseorang menyadari bahwa dirinya tidak pernah lepas dari pengawasan Allah sehingga selalu membawanya pada sikap mawas diri atau self correction.
3.         Tajalli
Untuk pemantapan dan pendalaman materi yang telah dilalui pada fase tahalli, maka rangkaian pendidikan akhlak selanjutnya adalah fase tajalli. Kata tajalli bermakna terungkapnya nur ghaib. Agar hasil yang telah diperoleh jiwa dan organ-organ tubuh –yang telah terisi dengan butir-butir mutiara akhlak dan sudah terbiasa melakukan perbuatan-perbuatan yang luhur- tidak berkurang, maka, maka rasa ketuhanan perlu dihayati lebih lanjut. Kebiasaan yang dilakukan dengan kesadaran optimum dan rasa kecintaan yang mendalam dengan sendirinya akan menumbuhkan rasa rindu kepada-Nya.

2.2.    Tasawuf Falsafi
a.        Sejarah Perkembangan Tasawuf Falsafi
Tasawuf falsafi, disebut juga denga tasawuf nazhari, merupakan tasawuf yang ajaran-ajarannya memadukan antara visi mistis dan visi rasional sebagai penggagasnya. Berbeda dengan tasawuf salafi (akhlaqi), tasawuf filodofi menggunakan terminologi filosofis dalam pengungkapannya.
Selama abad kelima hijriah, aliran tasawuf salafi (akhlaqi) terus tumbuh dan berkembang. Sebaliknya, aliran tasawuf falsafi ini mulai tenggelam dan muncul kembali dalam bentuk lain pada pribadi-pribadi sufi yang juga filosof. Tenggelamnya aliran ini adalah imbas dari kejayaan teologi Ahlussunnah Wal Jama’ah di atas aliran-aliran lain.
Sejak abad keenam hijriah muncul sekelompok tokoh tasawuf yang memadukan tasawuf mereka dengan filsafat, dengan teori mereka yang bersifat setengah-setengah. Artinya, disebut murn tasawuf bukan, disebut murni filsafat juga bukan. Di antara mereka yaitu Syukhrawardi Al-Maqtul (meninggal tahun 549 H), penyusun kitab Hikmah Al-Insyraqiyah, Syekh Akbar Muhyidin Ibnu Arabi (meninggal pada Tahun 638 H), dan lain-lain. Mereka banyak menimba berbagai sumber dan pendapat asing, seperti filsafat Yunani dan khususnya Neo-Platonisme. Mereka pun banyak mempunyai teori mendalam mengenai jiwa, moral, pengetahuan, wujud dan sangat bernilai baik ditinjau dari segi tasawuf maupun filsafat, dan berdampak besar bagi para sufi mutakhir.
Dengan munculnya para sufi yang juga filosof, orang mulai membedakannya dengan tasawuf yang mula-mula berkembang , yakni tasawuf akhlaqi. Kemudian, tasawuf akhlaqi ini didentik dengan tasawuf sunni. Hanya saja, titik tekan penyebutan tasawuf sunni dilihat pada upaya yang dilakukan oleh sufi-sufi yang memegari tasawufnya dengan Al-Quran dan As-Sunnah. Dengan demikian terbagi menjadi dua, yaitu sunni yang lebih berorientasi pada pengokohan akhlak , dan tasawuf falsafi, yakni aliran yang menonjolkan pemikiran-pemikiran filosofis dengan ungkapan-ungkapan ganjilnya (syathahiyat) dalam ajaran-ajaran yang dikembangkannya. Ungkapan-ungkapan syathahiyat itu bertolak dari keadaan yang fana menuju pernyataan tentang terjadinya penyatuan ataupun hulul.
Tokoh-tokoh yang terkenal dalam tasawuf falsafi antara lain, yaitu Ibn Masarrah (dari Cordova, Andalusia, wafat tahun391 H), Syukhrawardi (dari Persia, wafat dibunuh di Aleppo tahun 587 H), dan Ibn Arabi (sufi Andalusia, wafat di Damaskus tahun 638 H). bila tasawuf sunni memperoleh bentuk final pada pengajaran Al-Ghazali, maka tasawuf falsafi mencapai puncak kesempurnaannya pada pengajaran Ibn Arabi. Dengan pengetahuannya yang amat kaya, baik dalam lapangan keislaman mapun dalam lapangan filsafat, ia berhasil membuat karya tulis yang luar biasa banyaknya (di antaranya, Futuhat Al-Makkiyah dan Fushush Al-Hikam). Hampir semua praktik, pengajaran, dan ide-ide yang berkembang dikalangan sufi diliputinya dengan penjelasan-penjelasan memadai. Ajaran sentral Ibn Arabi adalah tentang kesatuan wujud (Wahdah Al-Wujud).

b.        Ajaran Tasawuf Falsafi
Ciri umum tasawuf falsafi menurut At-Taftazani adalah ajarannya yang samar-samar akibat banyaknya istilah khusus yang hanya dapat difahami oleh siapa saja yang memahami ajaran tasawuf jenis ini. Tasawuf falsafi tidak hanya dipandang sebagai filsafat karena ajaran dan metodenya didasarkan pada rasa (dzauq), tetapi tidak dapat pula dikategorikan sebagai tasawuf dalam pengertian yang murni, karena ajarannya sering diungkapkan dalam bahasa filsafat dan lebih berorientasi pada panteisme. Para sufi yang juga filosof pendiri aliran tasawuf ini mengenal dengan baik filsafat Yunani serta berbagai alirannya seperti Socrates, Aristoteles, aliran Stoa, dan aliran Neo_Platonisme dengan filsafatnya tentang emanasi. Bahkan mereka pun cukup akrab dengan filsafat yang sering kali disebut hermenetisme yang karya-karyanya sering diterjemahkan ke dalam bahasa Arab, dan filsafat-filsafat Timur kuno, baik dari Persia maupun dari India serta filsafat-filsafat Islam seperti yang diajarkan oleh Al-Farabi dan Ibn Sina.  Mereka pun dipengaruhi aliran Batiniyah sekte Ismailiyah aliran Syi’ah dan risalah-risalah Ikhwan Ash-Shafa.
Berbagai paham dalam tasawuf falsafi selalu dipresentasikan dalam ungkapan-ungkapan ganjil dan aneh (syathahat) yang meresahkan umat Islam. Karena itu wajar jika para fuqaha merasa gelisah sehingga mengeluarkan berbagai kritik bahkan kecaman serius terhadap para sufi falsafi.
Objek yang menjadi ajaran para tasawuf filosof adalah:
1.         Latihan rohaniah dengan rasa, instiusi serta intropeksi diri yang timbul darinya.
2.         Iluminasi atau hakekat yang tersingkap dari alam gaib, seperti sifat–sifat rabbani, ‘arsy, kursi, malaikat dll.
3.         Peristiwa–peristiwa dalam alam maupun kosmos yang berpengaruh terhadap berbagai bentuk kekeramatan atau keluarbiasaan.
4.         Penciptaan ungkapan – ungkapan yang pengertiannya sepintas samar–samar (syatahiyyat).

2.3.    Sejarah Perkembangan Tasawuf Syi’i
Diluar dua aliran tasawuf di atas, ada juga yang memasukkan tasawuf aliran ketiga, yaitu tasawuf Syi’I atau Syi’ah. Pembagian tasawuf aliran ketiga ini didasarkan atas ketajaman pemahaman kaum sufi dalam menganalisis kedekatan manusia dengan Tuhan. Kaum Syi’ah dinisbatkan kepada pangikut Ali bin Abi Thalib. Dalam sejarahnya, setelah perang Shiffin (yakni perang antara pendukung Khalifah Ali dengan pendukung Muawiyah bin Abu Sufyan), para pendukung fanatik Ali memisahkan diri, dan banyak berdiam didaratan Persia. Daratan Persia terkenal sebagai daerah yang telah banyak mewarisi tradisi pemikiran semenjak Imperium Persia Berjaya, dan disinilah kontak budaya antara Islam dan Yunani telah berjalan sebelum dinasti Islam berkuasa di Persia.
Perkembangan tasawuf Syi’i dapat ditinjau melalui kaca mata keterpengaruhan Persia oleh pemikiran-pemikiran filsafat Yunani. Ibnu Khaldun dalm Al-Muqaddimah telah menyinggung soal kedekatan kaum Syi’ah dengan paham tasawuf. Ibnu Khaldun melihat kedekatan tasawuf falosofis dengan sekte ismailiyah dan Syi’ah. Sekte ismailiyah menyatakan terjadinya hulul atau ketuhanan para imam mereka. Menurutnya, kedua kelompok ini memiliki kesamaan, khususanya dalam persoaalan “quthb” dan “abdal”. Bagi para sufi filosof, quthb adalah puncak kaum arifin, sedangkan abdal merupakan perwakilan. Ibnu Khaldun menyatakan bahwa doktrin yang seperti ini mirip dengan doktrin aliran Ismailiyah tentang imam dan para wakilnya begitu juga tentang pakaian compang-camping yang disebut-sebut berasal dari imam Ali. Jika berbicara tentang tasawuf syi’i, maka akan diikuti oleh tasawuf sunni. Dimana dua macam tasawuf yang dibedakan berdasarkan “kedekatan” atau “jarak” ini memiliki perbedaan. Paham tasawuf syi’i beranggapan, bahwa manusia dapat meninggal dengan tuhannya karena ada kesamaan esensi antara keduanya.


http://pub.kliksaya.com?refid=210879



BAB III
PENUTUP

3.1.    Kesimpulan
 Dari segi linguistik tasawuf adalah sikap mental yang selalu memelihara kesucian diri, beribadah, hidup sederhana, rela berkorban untuk kebaikan, dan selalu bersikap bijaksana. Sikap yang demikian itu pada hakikatnya adalah akhlak mulia yang mampu membentuk seseorang ke tingkat yang mulia.
Tasawuf akhlaqi adalah tasawuf yang berkonsentrasi pada teori-teori perilaku, akhlaq atau budi pekerti atau perbaikan akhlaq. Dengan metode-metode tertentu yang telah dirumuskan, tasawuf seperti ini berupaya untuk menghindari akhlaq mazmunah dan mewujudkan akhlaq mahmudah.
Tasawuf falsafi adalah tasawuf yang ajaran-ajarannya memadukan antara visi mistis dan visi rasional pengasasnya. Berbeda dengan tasawuf akhlaqi, tasawuf falsafi menggunakan terminologi filosofis dalam pengungkapannya.
Tasawuf Syi’i atau Syi’ah,  tasawuf aliran ketiga ini didasarkan atas ketajaman pemahaman kaum sufi dalam menganalisis kedekatan manusia dengan Tuhan.

3.2.    Saran
Setelah para pembaca selesai membaca makalah ini, pastilah terdapat banyak kesalahan di dalam penulisan makalah di atas, memang makalah ini masih jauh dari sempurna, maka penulis mengharapkan kritik dan saran dari semua pihak demi perbaikan dalam penulisan makalah kami yang selanjutnya.


http://pub.kliksaya.com?refid=210879



DAFTAR PUSTAKA

Tidak ada komentar: