Mau pasang iklan di blog anda?. Klik gambar dibawah ini............

Translate

Sabtu, 20 Desember 2014

Makalah Sifat Jujur dalam Perkataan dan Perbuatan (Menurut Al-Qur’an) Versi - 2

MATA KULIAH QUR’AN HADITS


Download Makalah:


BAB I
PENDAHULUAN

1.1.       Latar Belakang Masalah
Kejujuran adalah adalah salah satu kunci kesuksesan dalam hidup. Banyak perkara-perkara sulit yang dapat teratasi dengan oleh orang-orang yang dikenal kejujurannya.
Kejujuran juga merupakan salah satu faktor keselamatan baik di dunia mau pun di akhirat, oleh karena itu Islam memandang penting akan sifat jujur dari penganut-penganutnya.

1.2.       Rumusan Masalah
1.        Apa pengertian jujur?
2.        Apa saja bentuk-bentuk kejujuran?
3.        Sebutkan ayat beberapa ayat Al-Qur’an yang berbicara tentang kejujuran!
4.        Apa keutamaan sifat jujur?

BAB II
PEMBAHASAN

2.1.    Pengertian Jujur
Jujur adalah mengatakan sesuatu apa adanya. Jujur lawannya dusta. Ada pula yang berpendapat bahwa jujur itu tengah-tengah antara menyembunyikan dan terus terang[1]. Dengan demikian, jujur berarti keselarasan antara berita dengan kenyataan yang ada. Jadi, kalau suatu berita sesuai dengan keadaan yang ada, maka dikatakan benar atau jujur, tetapi kalau tidak, maka dikatakan dusta.
Dalam bahasa Arab, Jujur merupakan terjemahan dari kata shidiq yang artinya benar, dapat dipercaya. Dengan kata lain, jujur  adalah perkataan dan perbuatan sesuai dengan kebenaran. Jujur merupakan induk dari sifat-sifat terpuji (mahmudah). Jujur juga disebut dengan benar, memberikan sesuatu yang benar atau sesuai dengan kenyataan[2].
Kejujuran itu ada pada ucapan, juga ada pada perbuatan, sebagaimana seorang yang melakukan suatu perbuatan, tentu sesuai dengan yang ada pada batinnya. Seorang yang berbuat riya’ tidaklah dikatakan sebagai orang yang jujur karena dia telah menampakkan sesuatu yang berbeda dengan apa yang dia sembunyikan (di dalam batinnya). Begitu pula orang munafik tidaklah dikatakan sebagai seorang yang jujur karena dia menampakkan dirinya sebagai seorang yang bertauhid, padahal sebaliknya.

2.2.    Bentuk-Bentuk Kejujuran
Ada beberapa bentuk kejujuran yang sudah semestinya dimiliki oleh setiap muslim, yaitu:
1.        Kejujuran lisan (shidqu al lisan)
Kejujuran lisan yaitu memberitakan sesuatu sesuai dengan realita yang terjadi, menepati sumpah atau janji, kecuali untuk kemashlahatan yang dibenarkan oleh syari’at seperti dalam kondisi perang, mendamaikan dua orang yang bersengketa atau menyenangkan istri, dan semisalnya. Rasulullah saw. Bersabda yang artinya: “Jaminlah kepadaku enam perkara dari diri kalian, niscaya aku menjamin bagi kalian surga: jujurlah jika berbicara, penuhilah jika kalian berjanji, tunaikan jika kalian dipercaya, jagalah kemaluan kalian, tundukkanlah pandangan kalian, dan tahanlah tangan kalian”. (HR Hakim)
2.        Kejujuran niat dan kemauan (shidqu an niyyah wa al iradah)
Yang dimaksud dengan kejujuran niat dan kemauan adalah motivasi bagi setiap gerak dan langkah seseorang dalam semua kondisi adalah dalam rangka menunaikan hukum Allah Ta’ala dan ingin mencapai ridhaNya. Dalam hal ini Rasul saw. Bersabda yang berarti:  “Barang siapa menginginkan syahid dengan penuh kejujuran maka dia akan dikaruninya, meski tidak mendapatkannya”. (HR Muslim)
3.        Kejujuran tekad dan amal Perbuatan
Jujur dalam tekad dan amal berarti melaksanakan suatu pekerjaan sesuai dengan yang diridhai oleh Allah Swt. dan melaksanakannya secara kontinyu. Allah Swt. Berfirman.
z`ÏiB tûüÏZÏB÷sßJø9$# ×A%y`Í (#qè%y|¹ $tB (#rßyg»tã ©!$# Ïmøn=tã ( Nßg÷YÏJsù `¨B 4Ó|Ós% ¼çmt6øtwU Nåk÷]ÏBur `¨B ãÏàtF^tƒ ( $tBur (#qä9£t/ WxƒÏö7s? ÇËÌÈ
Artinya: “Di antara orang-orang mukmin itu ada orang-orang yang menepati apa yang Telah mereka janjikan kepada Allah; Maka di antara mereka ada yang gugur. dan di antara mereka ada (pula) yang menunggu- nunggu dan mereka tidak merobah (janjinya).” (QS. Al Ahzab: 23)

2.3.    Ayat Al-Qur’an Tentang Sikap Jujur dalam Perkataan dan Perbuatan
Ayat ke – 1:
(#qèù÷rr&ur ÏôgyèÎ/ «!$# #sŒÎ) óO?yg»tã Ÿwur (#qàÒà)Zs? z`»yJ÷ƒF{$# y÷èt/ $ydÏÅ2öqs? ôs%ur ÞOçFù=yèy_ ©!$# öNà6øn=tæ ¸xŠÏÿx. 4 ¨bÎ) ©!$# ÞOn=÷ètƒ $tB šcqè=yèøÿs? ÇÒÊÈ
Artinya: “Dan tepatilah perjanjian dengan Allah apabila kamu berjanji dan janganlah kamu membatalkan sumpah-sumpah(mu) itu, sesudah meneguhkannya, sedang kamu Telah menjadikan Allah sebagai saksimu (terhadap sumpah-sumpahmu itu). Sesungguhnya Allah mengetahui apa yang kamu perbuat.” (QS. An-Nahl: 91)
Ayat ke – 2:
Ÿwur (#qçRqä3s? ÓÉL©9$%x. ôMŸÒs)tR $ygs9÷xî .`ÏB Ï÷èt/ >o§qè% $ZW»x6Rr& šcräÏ­Fs? óOä3uZ»yJ÷ƒr& KxyzyŠ öNä3oY÷t/ br& šcqä3s? îp¨Bé& }Ïd 4n1ör& ô`ÏB >p¨Bé& 4 $yJ¯RÎ) ÞOà2qè=ö7tƒ ª!$# ¾ÏmÎ/ 4 ¨ûsöÍhu;ãs9ur ö/ä3s9 tPöqtƒ ÏpyJ»uŠÉ)ø9$# $tB óOçGYä. ÏmŠÏù tbqàÿÎ=tGøƒrB ÇÒËÈ
Artinya: “Dan janganlah kamu seperti seorang perempuan yang menguraikan benangnya yang sudah dipintal dengan kuat, menjadi cerai berai kembali, kamu menjadikan sumpah (perjanjian) mu sebagai alat penipu di antaramu, disebabkan adanya satu golongan yang lebih banyak jumlahnya dari golongan yang lain. Sesungguhnya Allah Hanya menguji kamu dengan hal itu. dan Sesungguhnya di hari kiamat akan dijelaskan-Nya kepadamu apa yang dahulu kamu perselisihkan itu.” (QS. An-Nahl: 92)

2.4.    Tafsir Ayat
1.        An-Nahl Ayat 1
Apapun hubungannya, yang jelas ayat ini memerintahkan: tepatilah perjanjian yang telah kamu ikrarkan dengan Allah apabila kamu berjanji, dan janganlah kamu membatalkan sumpah-sumpah sesudah kamu meneguhkannya yakni perjanjian-perjanjian yang kamu akui di hadapan Perusuh Allah. Demikian juga sumpah-sumpah kamu yang menyebut nama-Nya. Betapa kamu tidak harus menepatinya sedang kamu telah menjadikan Allah sebagai saksi dan pengawas atas diri kamu terhadap sumpah-sumpah dan janji-janji itu. Sesungguhnya allah mengetahui apa yang kamu perbuat, baik niat, ucapan maupun tindakan, dan baik jani, sumpah maupun selainnya, yang nyata maupun yang rahasia.
Yang dimaksud dengan (تنقصوا) membatalkan adalah melakukan sesuatu yang bertentangan dengan kandungan sumpah/janji.
Yang dimaksud dengan (بعهدالله) perjanjian Allah dalam konteks ayat ini antara lain bahkan terutama adalah bai’at yang mereka ikrarkan di hadapan Nabi Muhammad saw.
Firman-Nya: (بعد توكيدها) ada yang memahaminya dalam arti sesudah kamu meneguhkannya. Atas dasar itu, sementara yang menganut faham ini – seperti al-Biqa’i dan al-Qurthubi – memahami kata tersebut sebagai berfungsi mengecualikan apa yang diistilahkan dengan laghwu al-aiman yakni kalimat yang mengandung redaksi sumpah tetapi tidak dimaksudkan oleh pengucapnya sebagai sumpah (baca QS. al-Baqarah [2]: 225).
Ayat ini tidak bertentangan dengan sabda Rasul SAW. yang menyatakan bahwa: “Sesungguhnya aku, insya Allah, tidak bersumpah dengan suatu sumpah – lalu melihat ada yang lebih baik darinya – kecuali melakukan yang lebih baik dan membatalkan sumpahku dengan mebayar kafarah”. (HR. Bukhari dan Muslim). Ini tidak bertentangan – tulis Ibn Katsir – karena sumpah yang dimaksud oleh ayat ini adalah yang masuk dalam perjanjian, sedang sumpah yang dimaksud oleh hadits Nabi saw. itu adalah yang merupakan kegiatan perorangan yang berkaitan dengan anjuran atau halangan. Demikian Ibn Katsir. Di sisi lain, pembatalan oleh hadits tersebut adalah pembatalan ke arah yang lebih baik. Dengan demikian, dapat dikatakan bahwa keumuman larangan yang dikandung oleh ayat ini dikecualikan dan dipersempit oleh kandungan hadits tersebut[3].
2.        An-Nahl Ayat 2
Setelah ayat yang lalu memerintahkan menepati janji dan memenuhi sumpah, ayat ini melarang secara tegas membatalkannya sambil mengilustrasikan keburukan pembatalan itu. Pengilustrasian ini merupakan salah satu bentuk penekanan. Memang penegasan tentang perlunya menepati janji merupakan sendi utama tegaknya masyarakat, karena itulah yang memelihara kepercayaan berinteraksi dengan anggota masyarakat. Bila kepercayaan itu hilang, bahkan memudar, maka akan lahir kecurigaan yang merupakan benih kehancuran masyarakat.
Kata (دخلا) dari segi bahasa berarti kerusakan, atau sesuatu yang buruk. Yang dimaksud di sini adalah alat atau penyebab kerusakan. Ini karena dengan bersumpah seseorang menanamkan keyakinan dan ketenangan di hati mitranya, tetapi begitu dia mengingkari sumpahnya, maka hubungan mereka menjadi rusak, tidak lain penyebabnya kecuali sumpah itu yang kini telah diingkari. Dengan demikian, sumpah menjadi alat atau sebab kerusakan hubungan.
Kata (أربى) terambil dari kata (الربو) yaitu tinggi atau berlebih. Dari akar yang sama lahir kata riba yang berarti kelebihan. Kelebihan dimaksud bisa saja dalam arti kuantitas, sehingga bermakna lebih banyak bilangannya, atau kualitasnya yakni lebih tingg kualitas hidupnya dengan harta yang melimpah dan kedudukan yang terhormat.
Ayat di atas menyebut kata (أمة) atau golongan sebanyak dua kali. Banyak pakar tafsir memahami ayat ini berbiacara tentang kelakuan beberapa suku pada masa Jahiliyah[4].

2.5.    Keutamaan Jujur
Nabi menganjurkan umatnya untuk selalu jujur karena kejujuran merupakan mukadimah akhlak mulia yang akan mengarahkan pemiliknya kepada akhlak tersebut. Terdapat beberapa keutamaan jujur, diantaranya:
1.        Menentramkan hati. Rasulullah SAW bersabda: “Jujur itu merupakan ketentraman hati”.
2.        Membawa berkah. Rasulullah SAW bersabda: “Dua orang yang jual beli itu boleh pilih-pilih selama belum berpisah. Jika dua-duanya jujur dan terus terang, mereka akan diberkahi dalam jual belinya. Dan jika dua-duanya bohong dan menyembunyikan, hilanglah berkah jual beli mereka”.
3.        Meraih kedudukan yang syahid. Rasulullah SAW bersabda: “Barangsiapa yang meminta syahid kepada Allah dengan sungguh-sungguh (jujur), maka Allah akan menaikkannya ke tempat para syuhada meskipun mati di tempat tidurnya”.
4.        Mendapat keselamatan[5]. Dusta juga dalam hal-hal tertentu diperbolehkan, jika jujur ketika itu bisa menimbulkan kekacauan.
Jujur dalam kehidupan sehari-hari; merupakan anjuran dari Allah dan Rasulnya. Banyak ayat Al Qur'an menerangkan kedudukan orang-orang jujur antara lain: QS. Ali Imran (3): 15-17, An Nisa' (4): 69, Al Maidah (5): 119. Begitu juga secara gamblang Rasulullah menyatakan dengan sabdanya: "Wajib atas kalian untuk jujur, sebab jujur itu akan membawa kebaikan, dan kebaikan akan menunjukkan jalan ke sorga, begitu pula seseorang senantiasa jujur dan memperhatikan kejujuran, sehingga akan termaktub di sisi Allah atas kejujurannya. Sebaliknya, janganlah berdusta, sebab dusta akan mengarah pada kejahatan, dan kejahatan akan membewa ke neraka, seseorang yang senantiasa berdusta, dan memperhatikan kedustaannya, sehingga tercatat di sisi Allah sebagai pendusta" (HR. Bukhari-Muslim dari Ibnu Mas'ud).
Realisasi dari kejujuran itu membutuhkan kerja keras. Terkadang pada kondisi tertentu dia dapat berbuat jujur, tetapi di tempat lainnya sebaliknya. Salah satu tanda kejujuran adalah menyembunyikan ketaatan dan kesusahan, dan tidak senang orang lain mengetahuinya. Kejujuran senantiasa mendatangkan berkah, sebagaimana disitir dalam hadist yang diriwayatkan dari Hakim bin Hizam dari Nabi, beliau bersabda,
“Penjual dan pembeli diberi kesempatan berfikir selagi mereka belum berpisah. Seandainya mereka jujur serta membuat penjelasan mengenai barang yang diperjualbelikan, mereka akan mendapat berkah dalam jual beli mereka. Sebaliknya, jika mereka menipu dan merahasiakan mengenai apa-apa yang harus diterangkan tentang barang yang diperjualbelikan, maka akan terhapus keberkahannya.”
Tidaklah kita dapati seorang yang jujur, melainkan orang lain senang dengannya, memujinya. Baik teman maupun lawan merasa tentram dengannya. Berbeda dengan pendusta. Temannya sendiripun tidak merasa aman, apalagi musuh atau lawannya. Alangkah indahnya ucapan seorang yang jujur, dan alangkah buruknya perkataan seorang pendusta.
Orang yang jujur akan mendapat kebahagiaan sebagai ganjarannya, baik di dunia maupun diakhirat. Kebahagiaan di dunia diantaranya:
1.        Dipercaya orang, sehingga dengan dipercayanya oleh orang mudah untuk mendapat amanah baik harta, tahta maupun amanah lainnya.
2.        Dengan kejujuran hidup tidak akan banyak mendapat masalah, karena dengan kejujuran semua pekerjaan dan kepercayaan akan terjamin.
3.        Mudah untuk mendapatkan kepercayaan lagi dari berbagai kalangan, baik dari teman, orang tua maupun masyarakat.
Adapun kebahagiaan di akhirat diantaranya adalah:
1.        Surga yang telah disediakan bagi orang yang jujur.
2.        Pemeriksaan di alam kubur oleh Malaikat Munkar dan Nakir akan lancar, karena tidak banyak masalah di alam dunia[6].

BAB III
PENUTUP

3.1.       Kesimpulan
Jujur adalah mengatakan sesuatu apa adanya. Jujur lawannya dusta. Ada pula yang berpendapat bahwa jujur itu tengah-tengah antara menyembunyikan dan terus terang. Dengan demikian, jujur berarti keselarasan antara berita dengan kenyataan yang ada. Jadi, kalau suatu berita sesuai dengan keadaan yang ada, maka dikatakan benar atau jujur, tetapi kalau tidak, maka dikatakan dusta.
Nabi menganjurkan umatnya untuk selalu jujur karena kejujuran merupakan mukadimah akhlak mulia yang akan mengarahkan pemiliknya kepada akhlak tersebut.
Firman Al-Qur’an yang membicarakan tentang kejujuran di antaranya terdapat dalam surat An-Nahl ayat 91 dan 92.

3.2.       Saran
Sebagai manusia biasa yang penuh kekurangan, kami menyadari bahwa makalah hasil karya kami ini tidaklah sempurna, oleh karena itu kami mengharapkan pihak-pihak yang berkompeten untuk berkenan memberi masukan.

DAFTAR PUSTAKA

Anonim. 2011. Tafsir Surat An-Nahl ayat 91-92, dari http://www.islam2pedia.com ada tanggal 24 September 2014 pukul 21:45 Wib.
Sa’aduddin, Iman Abdul Mukmin. 2006. Meneladani Akhlak Nabi Membangun Kepribadian Muslim. Bandung: Rosdakarya
Tabrani, A. Rusyan. 2006. Pendidikan Budi Pekerti. Jakarta: Inti Media Cipta Nusantara.



[1] Iman Abdul Mukmin Sa’aduddin, Meneladani Akhlak Nabi Membangun Kepribadian Muslim, Rosdakarya, 2006, hal, 181
[2] A. Tabrani Rusyan, Pendidikan Budi Pekerti, Inti Media Cipta Nusantara, 2006, hal. 25
[3] Anonim, Tafsir Surat An-Nahl ayat 91-92, di akses dari http://www.islam2pedia.com/2011/04/tafsir-surat-nahl-ayat-91-92.html ada tanggal 24 September 2014 pukul 21:45 Wib
[4] Ibid
[5] Iman Abdul Mukmin Sa’aduddi, op.cit. Hal. 190
[6] A. Tabrani Rusyan, Op. Cit. Hal. 28



Download makalah ini DISINI