Mau pasang iklan di blog anda?. Klik gambar dibawah ini............

Translate

Rabu, 30 Maret 2016

PENERAPAN METODE RESITASI DALAM MENINGKATKAN EFEKTIVITAS BELAJAR SISWA PADA BIDANG STUDI PENDIDIKAN AGAMA ISLAM DI SEKOLAH MENENGAH PERTAMA (SMP) NEGERI 1 PELEPAT ILIR KABUPATEN BUNGO





SKRIPSI
Di Ajukan untuk Memenuhi Salah Satu Syarat
Guna Memperoleh Gelar Sarjana Strata Satu (S1)
pada Jurusan Pendidikan Agama Islam





 

Download Skripsi ini disini:


  


Oleh:
NANANG AMARUDIN
Nim / Nimko: 211.2877/1304.1111.11053


Y A Y A S A N  N U R U L  I S L A M  ( Y A S N I )
SEKOLAH TINGGI AGAMA ISLAM (STAI)
M U A R A  B U N G O
2016


BAB I
PENDAHULUAN

A.           Latar Belakang Masalah
Perubahan dan kemampuan untuk berubah merupakan batasan dan makna yang terkandung dalam belajar. Dengan belajar, maka manusia dapat berkembang lebih jauh daripada makhluk-makhluk lainnya, sehingga ia terbebas dari kemandegan fungsinya sebagai khalifah Allah di bumi.
Belajar adalah kegiatan yang berproses dan merupakan unsur yang sangat fundamental dalam penyelenggaraan setiap jenis dan jenjang pendidikan. Ini berarti bahwa berhasil atau gagalnya pencapaian tujuan pendidikan itu sangat ditentukan oleh proses belajar yang di alami siswa baik di kelas mau pun di luar kelas.
Dalam kegiatan belajar mengajar, anak adalah subjek dan objek dari kegiatan pengajaran. Karena itu, inti dari proses pengajaran tidak lain adalah kegiatan belajar anak didik dalam mencapai tujuan pengajaran. Tujuan pengajaran tentu saja akan tercapai jika anak didik berusaha secara aktif untuk mencapainya[1]. Hanya saja tidak semua peserta didik memiliki keaktifan dalam belajar, ada sebagian yang aktif dan ada juga yang pasif. Hal ini dikarenakan setiap anak mempunyai perbedaan baik dari segi kematangan berpikir, kemampuan berbahasa, maupun tingkat inteligensi. Oleh karena itu, kemampuan anak tidak sama dalam berbicara,

mendengarkan, membaca, ataupun menulis.[2] Perbedaan itu berpengaruh pula pada pencapaian hasil belajar anak didik.
Menyikapi perbedaan seperti yang telah dijelaskan di atas, maka dalam pembelajaran diperlukan suatu metode yang tepat agar dapat mengatasi perbedaan tersebut. Sehingga setelah pelaksanaan proses pembelajaran dengan menggunakan metode tersebut, diharapkan perbedaan hasil belajar yang diperolah siswa tidak terlampau ekstrem atau mencolok. Di antara sekian banyak metode yang telah diperkenalkan para ahli, salah satu metode yang dapat digunakan dalam kegiatan belajar adalah metode resitasi, metode ini diharapkan mampu mengatasi perbedaan yang terdapat pada para siswa.
Metode resitasi ini adalah cara penyajian bahan pelajaran dimana guru memberikan tugas tertentu agar murid melakukan kegiatan belajar, kemudian dipertanggungjawabkannya. Tugas yang diberikan oleh guru dapat memperdalam bahan pelajaran, dan dapat pula mengecek bahan yang telah dipelajari. Resitasi merangsang anak untuk aktif belajar baik secara individual maupun kelompok.[3] Sehingga kegiatan belajar mengajar dapat berjalan efektif, karena selain belajar di sekolah, siswa juga akan berusaha untuk memperoleh pengetahuan di luar sekolah guna menyelesaikan tugas yang diberikan oleh guru. Dengan demikian siswa akan banyak berinteraksi dengan lingkungannya, sehingga memungkinkan nya untuk memperoleh berbagai pengetahuan yang berguna bagi perkembangan kemampuan kognitifnya.
Berdasarkan uraian di atas, maka penerapan metode resitasi pada mata pelajaran Pendidikan Agama Islam diharapkan dapat meningkatkan efektivitas belajar siswa terhadap materi pelajaran. Pengetahuan dan pemahaman siswa terhadap materi pelajaran ini sangat penting mengingat mata pelajaran Pendidikan Agama Islam ini berisi materi-materi yang merupakan pedoman hidup bagi seorang muslim, baik dalam hal hubungan manusia dengan Tuhan (ibadah), maupun hubungan dengan sesama manusia (muamalah) yang bersumber dari Al-Qur’an dan hadits. Sebagaimana firman Allah SWT. yang berbunyi:
#x»yd çŽÈµ¯»|Át/ Ĩ$¨Y=Ï9 Yèdur ×pyJômuur 5Qöqs)Ïj9 šcqãYÏ%qムÇËÉÈ  
Artinya  :         Al-Quran ini adalah pedoman bagi manusia, petunjuk dan rahmat bagi kaum yang meyakini.” (QS. Al-Jaatsiyah: 20)

Mata pelajaran Pendidikan  Agama  Islam yang merupakan bagian dari sistem pendidikan nasional, bertujuan untuk mencetak manusia Indonesia yang cerdas, bewawasan luas yang bermanfaat bagi diri, masyarakat, agama, bangsa dan negaranya, serta bertaqwa kepada Allah SWT. yang di aplikasikan dalam kehidupan sehari-hari dalam bentuk akhlakul karimah sesuai dengan kehendak Undang-Undang Nomor 2 Tahun 1989 tentang Sistem Pendidikan Nasional yang berbunyi:
“Pendidikan nasional bertujuan mencerdaskan kehidupan bangsa dan mengembangkan manusia Indonesia seutuhnya, yaitu manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa dan berbudi pekerti luhur, memiliki pengetahuan dan keterampilan, kesehatan jasmani dan rohani, kepribadian yang mantap dan mandiri serta rasa tanggung jawab kemasyarakatan dan kebangsaan.”[4]

Untuk mencapai tujuan pendidikan nasional sesuai dengan amanat Undang-Undang di atas, maka dalam proses pembelajaran dibutuhkan suatu metode yang tepat, yang efektif dan efisien, agar kegiatan belajar mengajar Pendidikan Agama Islam dapat berjalan dengan baik serta mampu menarik minat siswa untuk terlibat aktif dalam pembelajaran. Sebab, sebagaimana yang dikemukakan oleh Sumiati dan Asra, pertimbangan pokok dalam menentukan metode pembelajaran terletak pada keefektifan proses pembelajaran.[5] Karena, efektivitas belajar ini merupakan jembatan penting dalam mencapai tujuan pembelajaran.
Hal senada disampaikan oleh Pak Dwi Nugroho, selaku Kepala Sekolah di Sekolah Menengah Pertama Negeri 1 Pelepat Ilir, beliau mengatakan bahwa:
“Efektivitas pembelajaran memiliki peran besar dalam meningkatkan pemahaman dan pengetahuan siswa yang berujung pada peningkatan prestasi belajar siswa, karena itu saya menginstruksikan kepada semua guru untuk mencoba berbagai metode untuk menemukan suatu metode yang di nilai tepat guna meningkatkan efektivitas belajar siswa pada bidang studi masing-masing.”[6]

Lebih lanjut Pak Dwi Nugroho, selaku kepala Sekolah Menengah Pertama Negeri 1 Pelepat Illir, menerangkan bahwa:
“Sebagai respon atas permintaan saya untuk menggunakan metode yang tepat dalam meningkatkan efektivitas pembelajaran, guru-guru di sini masing-masing memilih beberapa metode untuk diujicobakan dalam beberapa kegiatan pembelajaran. Kemudian di setiap akhir pembelajaran dilakukan evaluasi untuk mengetahui tingkat penguasaan siswa terhadap materi pelajaran yang baru saja mereka terima. Berdasarkan evaluasi tersebut masing-masing guru dapat menentukan metode apa yang tepat untuk meningkatkan efektivitas belajar siswa pada bidang studi yang mereka ajarkan.”[7]

Pada saat melakukan observasi awal di kelas VIII/a Sekolah Menengah Pertama (SMP) Negeri 1 Pelepat Ilir, khususnya pada mata pelajaran Pendidikan Agama Islam, penulis menemukan bahwa guru mata pelajaran tersebut menerapkan metode resitasi sebagai upaya untuk meningkatkan efektivitas belajar siswa. Penerapan metode resitasi tersebut diharapkan dapat memberikan kontribusi yang maksimal dalam meningkatkan efektivitas belajar siswa, sehingga tujuan pembelajaran dengan sendirinya akan dapat tercapai.
Dalam pengamatan awal, penulis menemukan bahwa guru Pendidikan Agama Islam sudah menerapkan metode resitasi dalam meningkatkan efektivitas belajar siswa pada mata pelajaran Pendidikan Agama Islam, hasilnya cukup bagus namun belum begitu signifikan. Hal ini dapat di lihat dari pelaksanaan pembelajaran di kelas, pada sebagian siswa metode resitasi ini dapat membawa perubahan yang lebih baik dalam proses belajarnya, namun di sisi lain masih terdapat beberapa siswa yang tidak serius dan bergurau pada saat pembelajaran sedang berlangsung serta malas mengerjakan tugas yang diberikan guru.
Berdasarkan pemikiran di atas, maka penulis tertarik untuk melakukan penelitian tentang penerapan metode resitasi dalam meningkatkan efektivitas belajar siswa pada bidang studi pendidikan agama Islam di Sekolah Menengah Pertama Negeri 1 Pelepat Ilir Kabupaten Bungo.

B.            Fokus Masalah
Agar penelitian ini mendapatkan hasil yang objektif dan sesuai dengan fakta, serta agar  tidak menyimpang dari tujuan penelitian, maka penulis menetapkan penelitian tentang penerapan metode resitasi dalam meningkatkan efektivitas belajar siswa ini difokuskan pada kelas VIII/a. Sekolah Menengah Pertama (SMP) Negeri 1 Pelepat Ilir Kabupaten Bungo. Hal ini penulis lakukan mengingat siswa dan ruang belajar di sekolah tersebut cukup banyak sehingga dapat menyulitkan jika dilakukan penelitian secara menyeluruh.

C.           Rumusan Masalah
1.        Bagaimana penerapan metode resitasi dalam meningkatkan efektivitas belajar siswa pada bidang studi Pendidikan Agama Islam di kelas VIII/a Sekolah Menengah Pertama Negeri 1 Pelepat Ilir?
2.        Apa kendala yang dihadapi guru Pendidikan Agama Islam dalam menerapkan metode resitasi guna meningkatkan efektivitas belajar siswa pada bidang studi Pendidikan Agama Islam di kelas VIII/a Sekolah Menengah Pertama Negeri 1 Pelepat Ilir Kabupaten Bungo?
3.        Apa upaya guru Pendidikan Agama Islam untuk mengatasi berbagai kendala dalam menerapkan metode resitasi guna meningkatkan efektivitas belajar siswa  pada bidang studi Pendidikan Agama Islam di kelas VIII/a Sekolah Menengah Pertama Negeri 1 Pelepat Ilir Kabupaten Bungo?

D.           Tujuan dan Kegunaan Penelitian
1.        Tujuan Penelitian
a.    Untuk mengetahui penerapan metode resitasi dalam meningkatkan efektivitas belajar siswa pada bidang studi Pendidikan Agama Islam di kelas VIII/A Sekolah Menengah Pertama Negeri 1 Pelepat Ilir Kabupaten Bungo.
b.    Untuk mengetahui kendala yang dihadapi guru Pendidikan Agama Islam dalam menerapkan metode resitasi guna meningkatkan efektivitas belajar siswa pada bidang studi Pendidikan Agama Islam di kelas VIII/A Sekolah Menengah Pertama (SMP) Negeri 1 Pelepat Ilir Kabupaten Bungo.
c.    Untuk mengetahui upaya guru Pendidikan Agama Islam untuk mengatasi berbagai kendala dalam menerapkan metode resitasi guna meningkatkan efektivitas belajar siswa pada bidang studi Pendidikan Agama Islam di kelas VIII/A Sekolah Menengah Pertama (SMP) Negeri 1 Pelepat Ilir Kabupaten Bungo.

2.        Kegunaan Penelitian
a.    Sebagai sumbangan pemikiran bagi perkembangan dunia pendidikan, khususnya di Sekolah Menengah Pertama (SMP) Negeri 1 Pelepat Ilir Kabupaten Bungo.
b.    Sebagai tambahan pengalaman dan wawasan bagi penulis tentang penerapan metode resitasi dalam kaitannya dengan peningkatan efektivitas belajar siswa.
c.    Sebagai syarat guna memperoleh gelar sarjana Strata Satu (S.1) pada jurusan Pendidikan Agama Islam di STAI YASNI Muara Bungo.

E.            Landasan Teori
1.        Metode Pembelajaran
a.    Pengertian Metode Pembelajaran
Metode adalah cara atau teknik agar berhasil dalam melakukan sesuatu. Kata metode berasal dari bahasa Yunani, yang berasal dari dari dua suku kata, yaitu meta dan hodos. Meta berarti “melalui dan hodos berarti “jalan” atau “cara[8]. Metode dalam Bahasa Arab dikenal dengan istilah thariqah yang berarti langkah-langkah strategis yang dipersiapkan untuk melakukan suatu pekerjaan.[9] Jadi, metode adalah suatu langkah atau cara yang harus di tempuh dalam mencapai tujuan.
Sedangkan pembelajaran, definisinya adalah sebagai berikut:
1)   Menurut Syaiful Sagala, pembelajaran ialah membelajarkan siswa menggunakan azaz pendidikan maupun teori belajar yang merupakan penentu utama keberhasilan pendidikan. Pembelajaran merupakan proses komunikasi dua arah. Mengajar dilakukan oleh pihak guru sebagai pendidik, sedangkan belajar dilakukan oleh peserta didik.
2)   Menurut Corey, pembelajaran adalah suatu proses dimana lingkungan seseorang secara sengaja di kelola untuk memungkinkan ia turut serta dalam tingkah laku dalam kondisi khusus atau menghasilkan respon terhadap situasi tertentu.[10]
Dengan demikian, pembelajaran dapat diartikan sebagai proses untuk membuat siswa belajar melalui komunikasi dua arah antara guru di satu pihak dengan siswa di pihak lainnya.
Berdasarkan pengertian metode dan pembelajaran dapat disimpulkan bahwa metode pembelajaran adalah suatu upaya untuk membuat peserta didik dengan menggunakan cara-cara atau teknik-teknik tertentu.
b.   Macam-Macam Metode Pembelajaran
Beragam metode telah dikembangkan oleh para ahli guna memaksimalkan proses dan hasil belajar, beberapa metode tersebut diantaranya adalah sebagai berikut:


1)   Metode Ceramah
Metode ceramah adalah bentuk interaksi melalui penerangan dan penuturan lisan dari guru kepada peserta didik. Dalam pelaksanaan ceramah untuk menjelaskan uraiannya, guru dapat menggunakan alat-alat bantu seperti gambar, dan audio visual lainnya.[11]
2)   Metode Diskusi
Diskusi adalah metode pembelajaran yang menghadapkan siswa pada suatu permasalahan. Tujuan utama metode ini adalah untuk memecahkan suatu permasalahan, menjawab suatu pertanyaan, menambah dan memahami pengetahuan siswa serta untuk membuat suatu keputusan.[12]
3)   Metode Drill (latihan)
Metode latihan pada umumnya digunakan untuk memperoleh suatu ketangkasan atau keterampilan dari apa yang telah dipelajari. Drill secara denotatif merupak tindakan untuk meningkatkan keterampilan dan kemahiran. Sebagai sebuah metode, drill adalah cara membelajarkan siswa untuk mengembangkan kemahiran dan keterampilan serta dapat mengembangkan sikap dan kebiasaan.[13]


4)   Metode Eksperimen
Metode Eksperimen adalah metode yang melatih peserta didik perorangan atau kelompok untuk melakukan suatu proses atau percobaan dengan mempergunakan alat atau waktu lebih dari satu kali. Tujuan metode ini agar peserta didik menemukan sendiri jawaban dari masalah yang dihadapinya dengan mencoba sendiri.[14]
5)   Metode Demonstrasi
Metode demonstrasi merupakan metode yang paling sederhana dibandingkan dengan metode-metode mengajar lainnya. metode demonstrasi adalah pertunjukkan tentang proses terjadinya suatu peristiwa atau benda sampai pada penampilan tingkah laku yang dicontohkan agar dapat diketahui dan dipahami oleh peserta didik.[15]
6)   Metode Resitasi
Metode resitasi (penugasan) adalah metode penyajian bahan dimana guru memberikan tugas tertentu agar siswa melakukan kegiatan belajar. Teknik resitasi biasanya digunakan agar siswa memiliki hasil belajar yang lebih mantap, karena siswa melaksanakan latihan-latihan selama melakukan tugas; sehingga pengalaman siswa dalam mempelajari sesuatu dapat lebih terintegrasi. Hal itu terjadi disebabkan siswa mendalami situasi atau pengalaman yang berbeda waktu menghadapi masalah-masalah baru.[16]
c.    Fungsi Metode Pembelajaran
1)   Metode sebagai Alat Motivasi Ekstrinsik
Sebagai salah satu komponen pengajaran, metode menempati peranan yang tak kalah pentingnya dari komponen lainnya dalam kegiatan belajar mengajar. Tak ada satu pun kegiatan belajar mengajar yang tidak menggunakan metode pengajaran. Ini berarti guru memahami benar kedudukan metode sebagai alat motivasi ekstrinsik dalam kegiatan belajar mengajar. Motivasi ekstrinsik menurut Sardiman. A.M. adalah motif-motif yang aktif dan berfungsinya karena adanya perangsang dari luar. Karena itu, metode berfungsi sebagai alat perangsang dari luar yang dapat membangkitkan belajar seseorang.[17]
2)   Metode sebagai Strategi Pembelajaran
Dalam kegiatan belajar mengajar, menurut Roestiyah. N.K. yang di kutip Syaiful Bahri Djamarah dan Aswan Zain, guru harus memiliki strategi agar anak didik dapat belajar secara efektif dan efesien, mengena pada tujuan yang diharapkan. Salah satu langkah untuk memiliki strategi itu adalah harus menguasai teknik-teknik penyajian atau biasanya di sebut metode mengajar. Dengan demikian, metode mengajar adalah strategi pengajaran sebagai alat untuk mencapai tujuan yang diharapkan.[18]
3)   Metode sebagai Alat untuk Mencapai Tujuan
Metode adalah salah satu alat untuk mencapai tujuan, dengan memanfaatkan metode secara akurat, guru akan mampu mencapai tujuan pengajaran. Metode adalah pelicin jalan pengajaran menuju tujuan. Ketika tujuan dirumuskan agar anak didik memiliki keterampilan tertentu, maka metode yang digunakan harus disesuaikan dengan tujuan.[19]
2.        Metode Resitasi
a.    Pengertian Metode Resitasi
Resitasi adalah penyajian kembali atau penimbulan kembali sesuatu yang sudah dimiliki, diketahui atau dipelajari[20]. Ada tiga fase yang harus dilakukan dalam menggunakan metode resitasi, yaitu fase pemberian tugas, fase pelaksanaan tugas, dan fase mempertanggung jawabkan tugas. Menurut Syaiful Bahri Djamarah dan Aswan Zain, fase mempertanggungjawabkan tugas inilah yang disebut resitasi.[21] Jadi, resitasi adalah tahapan atau proses penyajian kembali atau mempertanggungjawabkan tugas yang sebelumnya telah diberikan guru untk dikerjakan oleh peserta didik.
Menurut Abdul Majid, metode resitasi tidak sama dengan pekerjaan rumah, tetapi lebih luas dari itu. Tugas dan resitasi merangsang anak untuk aktif belajar baik secara individu atau kelompok. Tugas dan resitasi bisa dilaksanakan di rumah, di sekolah, di perpustakaan dan tempat lainnya.[22]
Berdasarkan dari pengertian di atas, dapat disimpulkan bahwa metode resitasi adalah suatu cara atau metode untuk membelajarkan atau membuat peserta didik belajar dengan jalan memberikan tugas untuk kemudian harus dipertanggungjawabkan oleh peserta didik atau siswa di kelas.
Penerapan metode resitasi ini dalam kegiatan belajar mengajar akan dapat meningkatkan efektivitas dan efisiensi pembelajaran, ini karena materi yang dijadikan bahan penugasan oleh guru dapat dikerjakan diluar jam sekolah.
b.   Langkah-Langkah Penerapan Metode Resitasi
1)   Fase Pemberian Tugas
Tugas yang diberikan kepada siswa hendaknya mempertimbangkan:
a)    Tujuan yang akan dicapai.
b)   Jenis tugas yang jelas dan tepat sehingga anak mengerti apa yang ditugaskan tersebut.
c)    Sesuai dengan kemampuan siswa.
d)   Ada petunjuk atau sumber yang dapat membantu pekerjaan siswa.
e)    Sediakan waktu yang cukup untuk siswa mengerjakan tugas tersebut.
2)   Fase Pelaksanaan Tugas
a)    Diberikan bimbingan atau pengawasan oleh guru.
b)   Diberikan dorongan sehingga anak mau bekerja.
c)    Di usahakan atau dikerjakan oleh siswa sendiri, tidak menyuruh orang lain.
d)   Di anjurkan siswa mencatat hasil-hasil yang ia peroleh dengan baik dan sistematik.
3)   Fase Mempertanggungjawabkan Tugas
Fase inilah yang disebut resitasi. Hal yang harus dikerjakan pada fase ini adalah:
a)    Laporan siswa baik lisan atau tertulis dari apa yang telah dikerjakanya.
b)   Ada tanya jawab atau diskusi kelas.
c)    Penilaian hasil pekerjaan siswa baik dengan tes maupun nontes atau cara lainnya.[23]
c.    Kelebihan dan Kekurangan Metode Resitasi
1)   Kelebihan
a)    Peserta didik belajar membiasakan diri untuk mengambil inisiatif sendiri dalam segala tugas yang diberikan.
b)   Meringankan beban guru yang memberikan tugas.
c)    Dapat mempertebal rasa tanggung jawab. Karena hasil-hasil yang dikerjakan dipertanggungjawabkan dihadapan guru.
d)   Memupuk anak agar dapat berdiri sendiri tanpa mengharapkan bantuan orang lain.
e)    Mendorong peserta didik supaya suka berlomba-lomba untuk mencapai sukses.
f)    Hasil pelajaran akan tahan lama karena pelajaran sesuai dengan minat peserta.
g)   Dapat memperdalam pengertian dan menambah keaktifan dan kecakapan peserta didik.
h)   Waktu yang dipergunakan tak terbatas sampai pada jam-jam sekolah.[24]
Selain kelebihan-kelebihan tersebut, Roestiyah N.K, menambahkan satu kelebihan lagi, yaitu dalam penggunaan teknik resitasi ini siswa mempunyai kesempatan untuk membandingkan dengan hasil pekerjaan orang lain, dapat mempelajari dan mendalami hasil uraian orang lain. Dengan demikian akan memperluas; memperkaya dan memperdalam pengetahuan serta pengalaman siswa.[25]
2)   Kelemahan
a)    Peserta didik yang terlalu bodoh sukar sekali untuk belajar.
b)   Kemungkinan tugas yang diberikan dikerjakan orang lain.
c)    Kadang-kadang anak didik menyalin atau meniru pekerjaan temannya sehingga pengalamannya sendiri tidak ada.
d)   Kadang-kadang pembahasannya kurang sempurna.
e)    Bila tugas terlalu sering dilakukan oleh murid akan menyebabkan:
(1)     Terganggunya kesehatan peserta didik, karena mereka kembali dari sekolah selalu melakukan tugas, sehingga waktu bermain dan istirahat tidak ada.
(2)     Menyebabkan peserta didik asal mengerjakan karena mereka anggap tugas-tugas tersebut membosankan.
(3)     Mencari tugas-tugas yang sesuai dengan kemampuan setiap individu sulit, jalan pelajaran lambat dan memakan waktu lama.
f)    Kalau peserta didik terlalu banyak kadang-kadang guru tak sanggup memeriksa tugas-tugas peserta didik tersebut.[26]


d.   Cara untuk Mengatasi Kelemahan Metode Rasitasi
1)   Sesuaikan tugas-tugas yang diberikan itu dengan kemampuan peserta didik.
2)   Adakan pengontrolan terhadap tugas-tugas yang dikerjakan peserta didik supaya jangan dia memberikan hasil, tugas yang dikerjakan orang lain.
3)   Tugas-tugas yang diberikan kepada guru jangan diberikan berkepanjangan saja, tapi lakukan secara berkali-kali.[27]
3.        Efektivitas Belajar
a.    Pengertian Efektivitasi Belajar
Efektivitas merujuk pada keberhasilan dari segi tercapai atau tidaknya sasaran yang telah ditetapkan, hasil yang mendekati sasaran berarti tinggi efektivitasnya. Kata efektivitas sendiri berakar dari kata efek dan efektif. Dalam Kamus Bahasa Indonesia, efek berarti akibat atau pengaruh[28], sedangkan efektif berarti ada efek atau pengaruhnya[29]. Menurut Bambang Warsita, efektivitas menekankan pada perbandingan antara rencana dengan tujuan yang dicapai.[30]
Dengan demikian, efektivitas adalah tingkat ketercapaian atau tingkat keberhasilan dari suatu program atau sesuatu yang direncanakan.
Kata belajar mengandung arti berusaha untuk memproleh ilmu atau menguasai suatu keterampilan[31]. Sedangkan menurut Muhibbin Syah, belajar adalah tahapan perubahan seluruh tingkah laku individu yang relatif menetap sebagai hasil pengalaman dan interaksi dengan lingkungan yang melibatkan proses kognitif.[32]
Jadi, belajar adalah proses perubahan tingkah laku yang relatif menetap berupa pertambahan pengetahuan dan kemampuan, sebagai hasil dari pengalaman dan interaksi dengan lingkungan yang menyangkut aspek kognitif, afektif dan psikomotorik.
Adapun efektivitas belajar, meminjam istilah yang digunakan Reigeluth yang di kutip Hamzah B. Uno dan Nurdin Mohamad, yang menyatakan efektivitas dalam pembelajaran mengarah pada terukurnya suatu tujuan dari belajar[33]. Pendapat lainnya menyebutkan bahwa pembelajaran yang efektif adalah pembelajaran yang menghasilkan belajar yang bermanfaat dan terfokus pada siswa (student centered) melalui penggunaan prosedur yang tepat.[34]
Dari uraian di atas, dapat diperoleh suatu kesimpulan bahwa efektivitas belajar adalah kegiatan belajar yang memungkinkan peserta didik untuk dapat memperoleh perubahan yang relatif menetap berupa bertambahnya pengetahuan dan kemampuan kognitif, afektif, dan psikomotorik dengan mudah, menyenangkan, dan dapat mencapai tujuan pembelajaran sesuai yang direncanakan. Penentuan atau ukuran dari efektivitas belajar terletak pada hasilnya.
b.   Ciri-Ciri Pembelajaran yang Efektif
Ada tujuh indikator yang menunjukkan pembelajaran efektif, yaitu: a) pengorganisasian pembelajaran dengan baik; b) komunikasi secara efektif; c) penguasaan dan antusiasme dalam mata pelajaran; d) sikap positif terhadap peserta didik; e) pemberian ujian dan nilai yang adil; f) keluwesan dalam pendekatan pembelajaran; dan g) hasil belajar peserta didik yang baik.[35]
c.    Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Efektivitas Belajar
1)   Aspek Fisiologis
Kondisi fisiologis pada umumnya sangat berpengaruh terhadap kemampuan belajar seseorang. Seseorang yang sedang sakit, kelelahan atau anak yang kurang gizi akan berbeda kemampuan belajarnya di banding dengan anak yang sehat, segar dan bergizi. Berikut ini beberapa faktor kelemahan fisik yang terdapat pada siswa yang dapat mempengaruhi efektivitas pembelajaran, yaitu:
a)    Pusat susunan syaraf tidak berkembang secara sempurna karena luka atau cacat atau sakit sehingga menjadi gangguan yang cenderung menetap;
b)   Pancaindera (mata, telinga, alat bicara) berkembang kurang sempurna, sehingga menyulitkan proses interaksi secara efektif;
c)    Ketidakseimbangan perkembangan dan reproduksi serta berfungsinya kelenjar tubuh, sehingga mengakibatkan kelainan perilaku dan gangguan emosional;
d)   Cacat tubuh atau pertumbuhan yang kurang sempruna, yang dapat mengakibatkan kurang percaya diri siswa;
e)    Penyakit menahun yang dapat mengakibatkan hambatan pada siswa dalam belajar secara optimal.[36]
2)   Kondisi Psikologis
a)    Tingkat Kecerdasan atau Intelegensi Siswa
Inteligensi pada umumnya dapat diartikan sebagai kemampuan psikofisik untuk mereaksi terhadap rangsangan atau menyesuaikan diri dengan lingkungan dengan cara yang tepat.[37]
Adapun tingkat kecerdasan siswa atau intelegensi (IQ) siswa tak dapat diragukan lagi, sangat menentukan tingkat keberhasilan belajar siswa. Ini bermakna, semakin tinggi kemampuan intelegensi seorang siswa maka semakin besar peluangnya  untuk meraih sukses. Sebaliknya, semakin rendah kemampuan intelegensi seorang siswa maka semakin kecil peluangnya untuk memperoleh sukses.[38]
b)   Sikap Siswa
Sikap adalah gejala internal yang berdimensi afektif berupa kecenderungan mereaksi atau merespon (respone tendency) dengan cara yang relatif tetap terhadap objek orang, barang dan sebagainya, baik secara positif maupun negatif. Sikap (attitude) siswa yang positif, terutama kepada guru dan mata pelajaran yang guru sajikan merupakan pertanda yang baik bagi proses belajar siswa tersebut. Sebaliknya, sikap negatif siswa kepada guru dan mata pelajaran yang guru sajikan, apalagi jika disertai kebencian dapat menimbulkan kesulitan belajar siswa tersebut.[39]
c)    Bakat Siswa
Bakat adalah kemampuan potensial individu untuk mencapai keberhasilan di masa yang akan dating. Dengan demikian, sebetulnya setiap anak memiliki bakat dalam arti berpotensi dalam mencapai prestasi sampai dengan tingkat tertentu sesuai dengan kapasitasnya masing-masing. Dengan demikian secara umum bakat tersebut hampir sama dengan inteligensi. Itulah sebabnya anak yang berinteligensi sangat cerdas (superior) disebut juga dengan talented child atau anak berbakat.[40]
4.        Pendidikan Agama Islam
a.    Pengertian Pendidikan Agama Islam
John Dewey, sebagaimana yang dikutip oleh Hasbullah menyebutkan bahwa pendidikan adalah proses pembentukan kecakapan-kecakapan fundamental secara intelektual dan emosional ke arah alam dan sesama manusia.[41]
Sedangkan dalam Undang-Undang Nomor 20 tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional, disebutkan bahwa:
“Pendidikan adalah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, serta keterampilan yang diperlukan dirinya, masyarakat, bangsa dan negara.”[42]

Dengan demikian dapat dipahami bahwa pendidikan adalah proses penanaman, pembentukan dan pengembangan kemampuan peserta didik yang dilakukan secara sengaja dan terencana agar anak didik menjadi manusia yang bertaqwa, berakhlak mulia, cerdas dan terampil, sehingga dapat bermanfaat bagi dirinya sendiri, keluarga, agama, bangsa dan negaranya.
Adapun agama, dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia disebutkan bahwa agama berarti prinsip kepercayaan kepada Tuhan dengan aturan syariat tertentu.[43]
Sedangkan menurut Muhammad Abdul Qadir Ahmad, agama (ad-din) adalah sistem kehidupan yang lengkap menyangkut berbagai aspek kehidupan termasuk aqidah, akhlak, ibadah, dan amal perbuatan yang diisyaratkan Allah untuk manusia. Manusia diperintahkan untuk mengamalkan dan mempedomaninya dengan rasa tunduk dan patuh kepada-Nya. Dan Allah membalas kepatuhannya atau keingkaran terhadap sistem ini. Inilah dia pengertian agama.[44]
Sampai disini dapat disimpulkan bahwa agama adalah  ajaran-ajaran yang diturunkan Tuhan  melalui  para utusan-Nya, yang menyangkut seluruh aspek kehidupan manusia. Mulai dari aqidah, ibadah, hingga muamalah.
Islam menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia berarti agama yang dibawa oleh Nabi Muhammad SAW. yang ajarannya bersumber dari Al-Qur’an dan Hadits.[45] Kata Islam berasal dari bahasa Arab, Aslama artinya menyerahkan diri sebagaimana yang terdapat dalam firman Allah SWT. yang berbunyi:
ô`tBur ß`|¡ômr& $YYƒÏŠ ô`£JÏiB zNn=ór& ¼çmygô_ur ¬! uqèdur Ö`Å¡øtèC yìt7¨?$#ur s'©#ÏB zOŠÏdºtö/Î) $ZÿÏZym 3 xsƒªB$#ur ª!$# zOŠÏdºtö/Î) WxŠÎ=yz ÇÊËÎÈ
Artinya:   “Dan siapakah yang lebih baik agamanya dari pada orang yang ikhlas menyerahkan dirinya kepada Allah, sedang diapun mengerjakan kebaikan, dan ia mengikuti agama Ibrahim yang lurus? dan Allah mengambil Ibrahim menjadi kesayanganNya.” (QS. An-Nisaa’: 225)

Jadi, Islam adalah salah satu agama samawi yang diturunkan kepada manusia melalui perantara nabi Muhammad SAW. yang ajarannya bersumber dari Al-Qur’an dan Hadits.
Sedangkan bidang studi Pendidikan Agama Islam, menurut Dirjen Pembinaan Kelembagaan Agama Islam Departemen Agama RI, menyebutkan bahwa:
"Pendidikan agama Islam adalah usaha sadar untuk  menyiapkan siswa dalam meyakini, memahami,  menghayati,  dan mengamalkan  agama  Islam  melalui  kegiatan  bimbingan, pengajaran, dan atau latihan dengan  memperhatikan  tuntutan  untuk  menghormati  agama  lain  dalam hubungan  kerukunan  antar  umat  beragama  dalam  masyarakat  untuk mewujudkan persatuan nasional".[46]

Dengan demikian, Pendidikan Agama Islam adalah suatu kegiatan yang dilakukan secara sadar, terencana dan sistematis guna menanamkan pengetahuan dan pemahaman serta menekankan pengamalannya kepada siswa terhadap ajaran atau syariat yang dibawa oleh Nabi Muhammad SAW. yang bersumber dari Al-Qur’an dan hadits.
b.   Ruang Lingkup Pendidikan Agama Islam
Ruang lingkup pendidikan agama Islam meliputi keserasian, keselarasan dan keseimbangan antara:
1)   Hubungan manusia dengan Allah SWT
2)   Hubungan manusia dengan sesama manusia
3)   Hubungan manusia dengan dirinya sendiri
4)   Hubungan manusia dengan makhluk lain dan lingkungannya.[47]
Adapun ruang lingkup bahan pelajaran pendidikan Agama Islam meliputi lima unsur pokok, yaitu: 1) Al-Qur’an; 2) Aqidah; 3) Syari’ah; 4) Akhlak; dan 5) Tarikh.[48]
c.    Fungsi Pendidikan Agama Islam
1)   Pengembangan, yaitu meningkatkan keimanan dan ketakwaan peserta didik kepada Allah SWT. yang telah sebelumnya ditanamkan dalam lingkungan keluarga.
2)   Penyaluran, yaitu untuk menyalurkan peserta didik yang memiliki bakat khusus dibidang agama agar bakat tersebut dapat berkembang secara optimal sehingga bermanfaat untuk dirinya sendiri dan dapat pula bermanfaat bagi orang lain.
3)   Perbaikan, yaitu untuk memperbaiki kesalahan-kesalahan, kekurangan-kekurangan, kelemahan-kelemahan peserta didik dalam keyakinan, pemahaman dan pengamalan ajaran Islam dalam kehidupan sehari-hari.
4)   Pencegahan, yaitu menangkal hal-hal negatif dari lingkungannya atau dari budaya lain yang dapat membahayakan dirinya dan dapat menghambat perkembangannya menuju manusia Indonesia seutuhnya.
5)   Penyesuaian, yaitu untuk menyesuaikan diri dengan lingkungan nya, baik lingkungan fisik maupun lingkungan sosial dan dapat mengubah lingkungannya sesuai dengan ajaran Islam.
6)   Sumber lain, yaitu memberikan pedoman hidup untuk mencapai kebahagiaan hidup didunia dan akhirat.[49]
d.   Tujuan Pendidikan Agama Islam di SMP
Pendidikan agama di Sekolah Menengah Pertama bertujuan untuk membekali murid dengan berbagai pengetahuan agama sesuai dengan perkembangannya, baik tentang dasar-dasar atau hikmah-hikmah hukum Islam, maupun tentang bacaan dan hafalan Al-Qur’an. Mempraktikkan ibadah baik di sekolah maupun di luar sekolah untuk meningkatkan aqidah dan pengetahuan agama agar menjauhkan diri dari berbagai kepercayaan yang salah, yang dapat merusak kemurnian agama.[50]
1)   Tujuan Umum
Menurut Hamdani Ihsan dan Fuad Ihsan, tujuan umum pendidikan Islam harus dikaitkan pula dengan tujuan pendidikan nasional negara tempat pendidikan Islam itu dilaksanakan serta harus dikaitkan pula dengan tujuan institusional lembaga yang menyelenggarakan pendidikan itu.[51]
Sedangkan menurut Muhammad Abdul Qadir Ahmad, tujuan umum Pendidikan Agama Islam adalah untuk meletakkan dasar yang kokoh dalam jiwa anak, pendidik Sekolah Menengah Pertama ini mempunyai peran yang sangat menentukan, karena saat ini murid mulai berpikir kritis dan kepribadian mereka mulai tumbuh. Oleh karena itu, anak-anak perlu dibekali dengan berbagai pengetahuan agama yang dapat menuntun dan memelihara mereka dari melakukan perbuatan salah.[52]
2)   Tujuan Khusus
a)    Meningatkan kemampuan murid membaca Al-Qur’an secara baik dan benar.
b)   Menguatkan hubungan murid dengan kitabullah, sehingga mereka akan merasakan indahnya metode yang di pakai oleh Al-Qur’an.
c)    Menjelaskan maksud Al-Qur’an tentang tanda-tanda kekuasaan Allah dan anjurkan untuk mempelajari tentang sifat-sifat-Nya.
d)   Menjelaskan bahwa sunnah Rasul berfungsi sebagai penafsir Al-Qur’an.
e)    Membekali murid dengan berbagai ibadah, hukum-hukum agama dan problema-problema masyarakat, agar agama dan ibadah mereka benar serta bermoral tinggi.
f)    Menganjurkan kepada murid untuk mengikuti jejak para sahabat dan pahlawan muslim yang saleh dan merasa bangga atas kepahlawanan mereka. Hal tersebut akan membuat murid tetap berpegang pada persatuan dan persaudaraan yang didasarkan pada Islam.
g)   Para murid agar menerapkan pelajaran ini dalam kehidupan mereka dan dalam berbagai kegiatan, baik kegiatan agama maupun kegiatan sosial.[53]
3)   Tujuan Sementara
Tujuan sementara ialah tujuan yang hendak dicapai setelah anak didik di beri sejumlah pengalaman tertentu yang direncanakan dalam suatu kurikulum pendidikan formal. Tujuan operasional dalam bentuk tujuan instruksional yang dikembangkan menjadi tujuan instruksional umum dan tujuan instruksional khusus (TIU dan TIK) dapat di anggap sebagai tujuan sementara dengan sifat yang agak berbeda.[54]

BAB II
PROSEDUR PENELITIAN

A.           Pendekatan Penelitian
Penelitian ini dilaksanakan di Sekolah Menengah Pertama Negeri 1 Pelepat Ilir Kabupaten Bungo, adapun permasalahan yang akan dideskripsikan dalam penelitian ini adalah penerapan metode resitasi guna meningkatkan efektivitas belajar siswa pada Pendidikan Agama Islam.
Pendekatan yang digunakan dalam penelitian ini adalah pendekatan kualitatif. Menurut Djam’an Satori dan Aan Komariah, pendekatan kualitatif merupakan suatu paradigma penelitian untuk mendeskripsikan peristiwa, perilaku orang atau suatu keadaan pada tempat tertentu secara rinci dan mendalam dalam bentuk narasi.[55]
Moeloeng menyebutkan:
“Penelitian kualitatif adalah penelitian yang bermaksud untuk memahami fenomena tentang apa yang di alami oleh subjek penelitian misalnya perilaku, persepsi, motivasi, tindakan, dll., secara holistik, dan dengan cara deskripsi dalam bentuk kata-kata dan bahasa, pada suatu konteks khusus yang alamiah dan dengan memanfaatkan berbagai metode alamiah.[56]

Secara umum dalam penelitian yang menggunakan pendekatan kualitatif terdapat hal-hal berikut.
1.    Data disikapi sebagai data verbal atau sebagai sesuatu yang dapat ditransposisikan sebagai data verbal.

2.    Diorientasikan pada pemahaman makna baik itu merujuk pada ciri, hubungan sistematika, konsepsi, nilai, kaidah, dan abstraksi formulasi pemahaman.
3.    Mengutamakan hubungan secara langsung antara peneliti dengan hal yang di teliti.
4.    Mengutamakan peran peneliti sebagai instrumen kunci.[57]
Dari pengertian di atas dapat disimpulkan bahwa penelitian kualitatif adalah penelitian yang berangkat dari temuan alamiah, dan temuan-temuan tersebut tidak di peroleh dari prosedur penghitungan secara statistik.

B.            Setting dan Subjek Penelitian
1.    Setting Penelitian
Setting penelitian adalah tempat dimana penelitian itu dilakukan yang meliputi situasi dan kondisi  ketika penelitian itu dilakukan.
Penelitian ini mengambil setting di Sekolah Menengah Pertama Negeri 1 Pelepat Ilir Kabupaten Bungo yang meliputi lingkungan sekolah, guru, anak didik dan semua objek termasuk situasi dan kondisi yang bisa diambil sebagai sumber data. Pemilihan setting ini didasarkan pada tiga pertimbangan yaitu: Pertama, lokasi penelitian berdekatan dengan tempat tinggal penulis, sehingga penulis tidak perlu mengeluarkan banyak biaya untuk menuju ke lokasi penelitian. Kedua, di Sekolah Menengah Pertama Negeri 1 Pelepat Ilir Kabupaten Bungo masih terdapat permasalahan dalam menerapkan metode resitasi guna meningkatkan efektivitas belajar siswa pada bidang studi Pendidikan Agama Islam. Ketiga, permasalahan tersebut belum pernah di teliti oleh orang lain.
2.    Subjek Penelitian
Subjek penelitian adalah subjek yang di tuju untuk diteliti oleh peneliti[58], mencakup aspek-aspek yang berkaitan dengan penerapan metode resitasi dalam meningkatkan efektivitas belajar siswa pada bidang studi Pendidikan Agama Islam, dalam penelitian ini subjek tersebut meliputi kepala sekolah, guru, siswa-siswi.
Sedangkan pemilihan sampel dalam penelitian ini penulis menggunakan teknik snowball sampling. Teknik snowball sampling adalah suatu proses menyebarnya sampel seperti bola salju yang pada mulanya kecil kemudian semakin membesar dalam proses “bergulir-menggelinding”nya.[59] Maksudnya yaitu sampel yang digunakan pada mulanya sedikit kemudian bertambah banyak sesuai dengan kebutuhan.
C.           Jenis dan Sumber Data
1      Jenis data
a.    Data Primer
Menurut Mukhtar, data primer adalah data yang di ambil langsung dari peneliti kepada sumbernya, tanpa adanya perantara. Sumber yang dimaksud, dapat berupa benda-benda, situs, atau manusia.[60] Data primer yang penulis peroleh langsung dari sumber pertama (first hand) baik melalui observasi maupun wawancara dilapangan adalah mengenai penerapan metode resitasi guna meningkatkan efektivitas belajar siswa pada bidang studi Pendidikan Agama Islam di kelas VIII/a Sekolah Menengah Pertama Negeri 1 Pelepat Ilir Kabupaten Bungo
b.    Data Skunder
Data skunder adalah data yang bukan diusahakan sendiri pengumpulannya oleh peneliti misalnya dari biro statistik, majalah, koran, keterangan-keterangan atau publikasi lainnya. Jadi, data sekunder berasal dari tangan kedua, ketiga dan seterusnya, artinya melewati satu atau lebih pihak yang bukan peneliti sendiri.”[61] Data sekunder dalam penelitian ini merupakan data yang penulis peroleh dari sumber kedua berupa dokumentasi, peristiwa yang bersifat lisan dan tertulis seperti struktur organisasi sekolah  dan sebagainya.
2      Sumber Data
Menurut Suharsimi Arikunto, sumber data dalam penelitian adalah subjek dari mana data diperoleh.[62] Dalam penelitian ini, subjek yang penulis gunakan untuk memperoleh data adalah sumber data berupa orang yaitu kepala sekolah, guru bidang studi Pendidikan Agama Islam, siswa-siswi, kemudian sumber data berupa tempat seperti ruang kelas dan kantor, selain itu juga menggunakan sumber data berupa simbol seperti huruf, angka dan gambar dalam bentuk arsip dan dokumentasi Sekolah Menengah Pertama Negeri 1 Pelepat Ilir.

D.           Metode Pengumpulan Data
1.    Metode Observasi
Metode observasi ialah metode atau cara-cara menganalisis dan mengadakan pencatatan secara sistematis mengenai tingkah laku dengan melihat atau mengamati individu atau kelompok secara langsung. Metode ini digunakan untuk melihat dan mengamati secara langsung keadaan dilapangan agar peneliti memperoleh gambaran yang lebih luas tentang permasalahan yang diteliti.[63]
Observasi ini merupakan upaya yang dilakukan oleh pelaksana penelitian kualitatif untuk merekam segala peristiwa dan kegiatan yang terjadi dengan menggunakan alat bantu atau tidak. Dalam penelitian formal, observasi dilakukan untuk mengumpulkan data yang sahih dan handal.
Pada saat melaksanakan observasi untuk mengumpulkan data dalam penelitian ini, penulis menggunakan teknik observasi nonpartisipan (non partisipant observation), yaitu observasi yang dilakukan di mana si peneliti mengamati perilaku dari jauh tanpa ada interaksi dengan subjek yang sedang diteliti[64]. Dalam observasi nonpartisipan peneliti tidak terlibat dan hanya sebagai pengamat independen.[65]
Melalui observasi ini, penulis berharap dapat memperoleh gambaran mengenai (1) Situasi dan keadaan Sekolah Menengah Pertama Negeri 1 Pelepat Ilir secara keseluruhan, (2) Penerapan metode resitasi dalam efektivitas belajar siswa pada bidang studi Pendidikan Agama Islam, dan (3) Kendala-kendala yang dihadapi guru dalam menerapkan metode resitasi guna meningkatkan efektivitas belajar siswa pada bidang studi Pendidikan Agama Islam, serta upaya guru untuk mengatasi kendala-kendala tersebut.
2.    Wawancara
Wawancara adalah percakapan dengan maksud tertentu. Percakapan itu dilakukan oleh dua pihak, yaitu pewawancara (interviewer) yang mengajukan pertanyaan dan terwawancara (interviewee) yang memberikan jawaban atas pertanyaan itu.[66]
Wawancara dilakukan untuk memahami informasi secara mendetail dan mendalam dari informan sehubungan dengan fokus permasalahan yang diteliti. Dari wawancara ini diharapkan respon dari opini subjek penelitian yang berkaitan dengan Penerapan metode resitasi dalam efektivitas belajar siswa pada bidang studi Pendidikan Agama Islam di Sekolah Menengah Pertama Negeri 1 Pelepat Ilir Kabupaten Bungo.
Subjek penelitian yang akan penulis wawancara dalam penelitian ini adalah subjek yang berupa manusia, yaitu kepala sekolah, guru bidang studi guru, serta siswa dan siswi, serta pihak-pihak lain yang memungkinkan dapat memberikan data yang relevan.
3.    Dokumentasi
Dokumentasi, dari asal katanya dokumen yang berasal dari bahasa latin yaitu docere, yang berarti mengajar. Dalam bahasa Inggris disebut document yaitu “something written or printed, to be used as a record or evidence”, atau sesuatu tertulis atau dicetak untuk digunakan sebagai suatu catatan atau bukti[67]. Menurut McMillan dan Schumacher yang dikutip oleh Djam’an Satori, dokumen merupakan rekaman kejadian masa lalu yang ditulis atau dicetak, dapat berupa catatan anekdotal, surat, buku harian dan dokumen-dokumen. Dokumen kantor termasuk lembaran internal, komunikasi bagi publik yang beragam, file siswa dan pegawai, deskripsi program dan data statistik pengajaran.[68]
Metode dokumentasi ini merupakan sumber data non manusia, sumber ini adalah sumber yang cukup bermanfaat sebab telah tersedia sehingga akan relatif murah pengeluaran biaya untuk memperolehnya. Metode ini digunakan untuk mengumpulkan data yang sudah tersedia dalam catatan dokumen. Fungsinya sebagai pendukung dan pelengkap bagi data primer yang diperoleh melalui observasi dan wawancara. Dokumen yang dianggap relevan yang akan diperoleh antara lain; struktur organisasi, tata tertib, program kerja dan sejarah singkat Sekolah Menengah Pertama Negeri 1 Pelepat Ilir Kabupaten Bungo serta data-data lainnya yang dianggap perlu.

E.            Analisis Data
1.    Analisis Domain
Analisis domain, menampilkan keseluruhan jenis temuan yang diperoleh dalam penelitian[69]. Analisis domain pada umumnya dilakukan untuk memperoleh gambaran yang umum dan menyeluruh tentang situasi sosial yang diteliti atau objek penelitian. Data diperoleh dari grand tour question. Hasilnya berupa gambaran umum tentang objek yang diteliti, yang sebelumnya belum pernah diketahui. Dalam analisis informasi yang diperoleh belum mendalam masih dipermukaan, namun menemukan domain–domain atau kategori dari situasi sosial yang diteliti.[70]
Analisis domain ini digunakan untuk menganalisis data yang diperoleh dari lapangan penelitian secara garis besarnya yaitu mengenai penerapan metode resitasi dalam rangka meningkatkan efektivitas belajar siswa pada bidang studi Pendidikan Agama Islam di Sekolah Menengah Pertama Negeri 1 Pelepat Ilir Kabupaten Bungo.
2.    Analisis Taksonomi
Setelah peneliti melakukan penelitian domain, sehingga ditemukan domain–domain atau kategori dari situasi sosial tertentu maka selanjutnya domain yang dipilih oleh peneliti ditetapkan fokus penelitian, perlu diperdalam lagi melalui pengumpulan data dilapangan. Pengumpulan data dilakukan secara terus menerus melalui pengamatan, wawancara, mendalam dan dokumentasi sehingga data yang terkumpulkan menjadi banyak. Oleh karena itu, pada tahap ini diperlukan analisis lagi yang disebut dengan analisis taksonomi.[71]
Analisis taksonomi ini digunakan dalam menganalisis data tentang:
a)    Penerapan metode resitasi dalam meningkatkan efektivitas belajar siswa pada bidang studi Pendidikan Agama Islam di Sekolah Menengah Pertama Negeri 1 Pelepat Ilir Kabupaten Bungo.
b)   Kendala yang dihadapi guru Pendidikan Agama Islam dalam menerapkan metode resitasi guna meningkatkan efektivitas belajar siswa pada bidang studi Pendidikan Agama Islam di Sekolah Menengah Pertama Negeri 1 Pelepat Ilir Kabupaten Bungo.
c)    Upaya guru Pendidikan Agama Islam untuk mengatasi berbagai kendala dalam menerapkan metode resitasi guna meningkatkan efektivitas belajar siswa  pada bidang studi Pendidikan Agama Islam di Sekolah Menengah Pertama Negeri 1 Pelepat Ilir Kabupaten Bungo.
3.    Analisis Komponensial
Pada analisis komponensial, yang dicari untuk diorganisasikan dalam domain bukanlah keserupaan dalam domain, tetapi justru yang memiliki perbedaan atau yang kontras. Data ini dicari melalui observasi, wawancara dan dokumentasi yang terseleksi. Dengan teknik pengumpulan data yang bersifat triangulasi tesebut, sejumlah dimensi yang spesifik dan berbeda pada setiap elemen akan dapat ditemukan.[72]
Analisis komponensial ini digunakan untuk menjawab permasalahan–pemasalahan dalam penerapan metode resitasi dalam meningkatkan efektivitas pembelajaran pada bidang studi Pendidikan Agama Islam di Sekolah Menengah Pertama Negeri 1 Pelepat Ilir.

F.       Teknik Penjamin Keabsahan Data
1.    Triangulasi
Triangulasi adalah teknik pemeriksaan keabsahan data yang memanfaatkan suatu yang lain diluar data itu untuk keperluan pengecekan atau sebagai pembanding terhadap data itu. Denzin yang di kutip oleh Moleong, membedakan empat macam triangulasi sebagai teknik pemeriksaan yang memanfaatkan penggunaan sumber, metode, penyidik, dan teori.[73]
Jadi dalam hal ini, mengecek sumber data yang diperoleh di lapangan berkenaan dengan penelitian ini, Peneliti menggunakan triangulasi dengan sumber yakni membandingkan dan mengecek balik derajat kepercayaan atau informasi yang diperoleh melalui waktu dan alat yang berbeda dalam penelitian kualitatif. Hal ini dapat dicapai dengan jalan:
a.    Membandingkan data hasil pengamatan dengan hasil wawancara.
b.    Membandingkan apa yang dikatakan orang didepan umum dengan apa yang dikatan secara pribadi.
c.    Membandingkan apa yang dikatakan orang–orang tentang situasi penelitian dengan apa yang dikatakan sepanjang waktu.
d.   Membandingkan keadaan dan presfektif seseorang dengan membagi pendapat dan pandangan orang seperti rakyat biasa, orang pendidikan menengah atau tinggi, orang kaya, dan orang pemerintah.
e.    Membandingkan hasil wawancara dengan isi suatu dokumen yang berkaitan.[74]
2.    Perpanjangan Keikutsertaan
Perpanjangan keikutsertaan berarti peneliti tinggal di lokasi penelitian lebih lama guna memperoleh data yang benar-benar akurat dan dapat diyakini kebenarannya. Perpanjangan keikutsertaan dapat menjamin dan bahkan meningkatkan derajat kepercayaan terhadap data yang dikumpulkan.
Menurut Moleong, peneliti dengan perpanjangan keikutsertaannya akan banyak mempelajari ‘kebudayaan’, dapat menguji ketidakbenaran informasi yang diperkenalkan oleh distorsi, baik yang berasal dari diri sendiri maupun responden, dan membangun kepercayaan subjek.[75]
perpanjangan keikut sertaan di lapangan, bertujuan tujuan supaya peneliti memperoleh data yang benar-benar valid dan natural. Data yang memiliki karakteristik meragukan maka penulis telaah kembali dengan menguji kebenarannya di lapangan. Teknik ini penulis gunakan untuk menemukan data tentang efektivitas belajar siswa pada bidang studi Pendidikan Agama Islam, apakah penerapan metode resitasi benar-benar dapat meningkatkan efektivitas belajar siswa atau justru sebaliknya.
3.    Pemeriksaan Sejawat Melalui Diskusi
Pemeriksaan sejawat berarti pemeriksaan yang dilakukan dengan jalan mengumpulkan rekan-rekan yang sebaya, yang memiliki pengetahuan umum tentang masalah yang sedang di teliti, sehingga bersama mereka peneliti dapat me-review persepsi, pandangan, dan analisis yang telah dilakukan.
Teknik ini mengandung beberapa maksud sebagai salah satu teknik pemeriksaan data, yaitu:
Pertama, untuk membuat agar peneliti tetap mempertahankan sikap terbuka dan kejujuran. Dalam diskusi analitik tersebut kemelencengan peneliti di singkap dan pengertian mendalam di telaah yang nantinya menjadi dasar bagi klarifikasi penafsiran. Pertanyaan-pertanyaan yang diajukan agar di susun sehingga dapat diklasifikasikan menurut persoalan-persoalan yang berkaitan dengan teori subtantif, metodologi, hukum dan peraturan, etika atau lain-lain yang relevan. Peneliti sebagai pemimpin diskusi hendaknya sepenuhnya menyadari posisi, keadaan, dan proses yang ditempuhnya sehingga dapat memperoleh hasil yang diharapkan.
Kedua, diskusi dengan sejawat ini memberikan suatu kesempatan awal yang baik untuk mulai menjajaki dan menguji hipotesis kerja yang muncul dalam pemikiran peneliti. Ada kemungkinan hipotesis yang muncul dalam benak peneliti sudah dapat dikonfimasikan, tetapi dalam diskusi analitik ini mungkin sekali dapat terungkap segi-segi lainnya yang justru membongkar pemikiran peneliti. Sekiranya peneliti tidak dapat mempertahankan posisinya, maka dia perlu mempertimbangkan kembali arah hipotesisnya itu.[76]

G.      Jadwal Penelitian

NO

NAMA KEGIATAN
BULAN
Agt
Sept
Okt
Nov
Des
Jan
1
Pengajuan judul






2
Penulisan proposal penelitian






3
Seminar proposal penelitian






4
Pengumpulan data lapangan






5
Analisis data






6
Penulisan dan bimbingan laporan penelitian






7
Sidang munaqasyah
Sesuai jadwal akademis STAI YASNI



Download Skripsi ini disini:



[1] Syaiful Bahri Djamarah dan Aswan Zain, Strategi Belajar Mengajar, (Jakarta: Rineka Cipta, 2013), cet ke-5, hlm. 38
[2] Syaiful Bahri Djamarah, Psikologi Belajar, (Jakarta: Rineka Cipta, 2011), cet ke-3, hlm. 73
[3] Syaiful Sagala, Konsep dan Makna Pembelajaran: untuk Membantu Memecahkan Problematika Belajar dan Mengajar, (Bandung: Alfabeta, 2013), cet ke-11, hlm. 219
[4] Oemar Hamalik, Proses Belajar Mengajar, (Jakarta: Bumi Aksara, 2009), cet ke 10, hlm. 82
[5] Sumiati dan Asra, Metode Pembelajaran, (Bandung: Wacana Prima, 2007), hlm. 91
[6] Wawancara, Hari Rabu Tanggal 2 Desember 2015
[7] Wawancara, Hari Sabtu Tanggal 2 Desember 2015
[8] Ramayulis, Metodologi Pendidikan Agama Islam, (Jakarta: Kalam Mulia, 2008), cet ke-5, hlm. 2
[9] Ibid., hlm. 2-3
[10] Ramayulis, Ilmu Pendidikan Islam, (Jakarta: Kalam Mulia,  2011), cet. ke-9, hlm. 239
[11] Syaiful Sagala, Op.Cit., hlm. 201
[12] Abdul Majid, Strategi Pembelajaran, (Bandung: Remaja Rosdakarya, 2014), cet ke-3, hlm. 200
[13] Ibid., hlm. 214
[14] Martinis Yamin, Strategi & Metode dalam Model Pembelajaran, (Jakarta: Referensi, 2013), hlm. 153
[15] Syaiful Sagala, Op.Cit., hlm. 210
[16] Roestiyah N.K., Strategi Belajar Mengajar: Salah Satu Unsur Pelaksanaan Strategi Belajar Mengajar: Teknik Penyajian, Jakarta: Rineka Cipta, 2012, cet ke-8, hlm. 133
[17] Syaiful Bahri Djamarah dan Aswan Zain, Op.Cit., hlm. 73
[18] Ibid., hlm. 74
[19] Ibid., hlm. 75
[20] Ramayulis, Metodologi.....Op.Cit., hlm. 330
[21] Syaiful Bahri Djamarah dan Aswan Zain, Op.Cit., hlm. 86
[22] Abdul Majid, Op.Cit., hlm. 208
[23] Syaiful Bahri Djamarah dan Aswan Zain, Loc.Cit.
[24] Ramayulis, Metodologi....Op.Cit., hlm. 331
[25] Roestiyah N.K., Op.Cit., hlm. 134
[26] Ramayulis, Metodologi....Op.Cit., hlm. 331-332
[27] Ibid., hlm. 332
[28] Adam Normies SAE dkk., Kamus Bahasa Indonesia, Surabaya: Karya Ilmu, 1992, hlm. 55
[29] Adam Nomiwe SAE dkk., Loc.Cit
[30] Bambang Warsita, Teknologi Pembelajaran: Landasan & Aplikasinya, Jakarta: Rineka Cipta, 2008, hlm. 287
[31] Tim Prima Pena, Kamus Besar Bahasa Indonesia, (Situbondo: Gitamedia Press, tt), hlm. 27
[32] Muhibbin Syah, Psikologi Belajar, (Jakarta: RajaGrafindo Persada, 2009), cet. ke-9, hlm. 68
[33] Hamzah B. Uno dan Nurdin Mohamad, Belajar dengan Pendekatan PAIKEM: Pembelajaran Aktif, Inovatif, Lingkungan, Kreatif, Efektif, Menarik, Jakarta: Bumi Aksara, 2014, cet ke-5, hlm. 173
[34] Ibid., hlm. 173-174
[35] Bambang Warsita, Op.Cit., hlm. 289-290
[36] Hamzah B. Uno dan Nurdin Mohamad, Op.Cit., hlm. 198
[37] Ibid., hlm. 199
[38] Muhibbin Syah, Op.Cit., hlm. 148
[39] Ibid., hlm. 150
[40] Hamzah B. Uno dan Nurdin Mohamad, Op.Cit., hlm. 200
[41] Hasbullah, Dasar-Dasar Ilmu Pendidikan, (Jakarta: RajaGrafindo Persada, 2013), cet ke-11, hlm. 2
[42] Syaiful Sagala, Administrasi Pendidikan Kontemporer, (Bandung: Alfabeta, 2008), cet ke-4, hlm. 6
[43] Tim Prima Pena, Op.Cit., hlm. 20
[44] Muhammad Abdul Qadir Ahmad, Metodologi Pengajaran Agama Islam (terj: H.A. Mustofa), (Jakarta: Rineka Cipta, 2008), hlm. 3-4
[45] Tim Prima Pena, Op.Cit., hlm. 352
[46] Agustin Wardiyati, Hubungan antara Motivasi dengan Prestasi Belajar Bidang Studi Pendidikan Agama Islam (Studi Penelitian pada Siswa Kelas II SMP Islam Al-Fajar Kedaung Pamulang Tangerang), Skripsi, (Jakarta: Fakultas Ilmu Tarbiyah Dan Keguruan Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta, 2006), hlm. 17
[47] Ramayulis, Metodologi....Op.Cit., hlm. 22
[48] Ibid., hlm. 23
[49] Ibid., hlm. 21-22
[50] Muhammad Abdul Qadir Ahmad, Op.Cit., hlm. 258
[51] Hamdani Ihsan dan Fuad Ihsan, Filsafat Pendidikan Islam, (Bandung : Pustaka Setia, 2007), hlm. 63.
[52] Muhammad Abdul Qadir Ahmad, Op.Cit., hlm. 258-259
[53] Ibid., hlm. 260-261
[54] Hamdani Ihsan dan Fuad Ihsan, Op.Cit., hlm. 64-65
[55] Djam’an Satori dan Aan Komariah, Meodologi Penelitian Kualitatif, (Bandung: CV. Alfabeta, 2011), hlm. 219
[56] Lexy J. Moeloeng, Metodologi Penelitian Kualitatif, (Bandung: Remaja Rosdakarya, 2014), (edisi revisi) cet ke-32, hlm. 6
[57] Basrowi & Suwandi, Memahami Penelitian Kualitatif, (Jakarta: Rineka Cipta, 2008), hlm. 20
[58] Suharsimi Arikunto, Prosedur penelitian, Suatu pendekatan praktek; (Jakarta: Rineka Cipta, 2006), hlm. 145
[59] Mukhtar, Bimbingan Skripsi, Tesis dan Artikel Ilmiah: Panduan Berbasis Penelitian Kualitatif Lapangan dan Perpustakaan, (Jambi: Sulthan Thaha Press, 2007), hlm. 81
[60] Ibid., hlm. 87-88
[61] Mukhtar, Op.Cit., hlm. 91
[62] Suharsimi Arikunto, Op.Cit., hlm. 129
[63] Basrowi & Suwandi, Op.Cit., hlm. 93-94
[64] Djam’an Satori dan Aan Komariah, Op.Cit., hlm. 119
[65] Basrowi & Suwandi, Op.Cit., hlm. 109
[66] Lexy J. Moeloeng, Op.Cit., hlm. 186
[67] Djam’an Satori dan Aan Komariah, Op.Cit., hlm. 146
[68] Ibid., hlm. 147
[69] Mukhtar, Op.Cit., hlm. 117
[70] Sugiono, Metode Penelitian Pendidikan : Pendekatan Kuantitatif, Kualitatif dan R&D, (Bandung : Alfabeta, 2007), hlm. 349.
[71] Ibid., hlm. 356.
[72] Ibid,. hlm. 359 – 360.
[73] Lexy J. Moleong, Op.Cit., hlm. 330.
[74] Ibid., hlm. 330 – 331.
[75] Ibid., hlm. 328
[76] Ibid., hlm. 333