Mau pasang iklan di blog anda?. Klik gambar dibawah ini............

Translate

Rabu, 18 Maret 2015

Makalah Beberapa Masalah yang Berhubungan dengan Keimanan



MATA KULIAH MATERI AQIDAH AKHLAK
                                             
Download Makalah:

BAB I
PENDAHULUAN

1.1.       Latar Belakang Masalah
Keimanan adalah hal yany paling mendasar yang harus dimiliki seseorang. Allah memerintahkan agar ummat manusia beriman kepada-Nya, sebagaimana firman Allah yang artinya:
$pkšr'¯»tƒ tûïÏ%©!$# (#þqãYtB#uä (#qãYÏB#uä «!$$Î/ ¾Ï&Î!qßuur É=»tFÅ3ø9$#ur Ï%©!$# tA¨tR 4n?tã ¾Ï&Î!qßu É=»tFÅ6ø9$#ur üÏ%©!$# tAtRr& `ÏB ã@ö6s% 4 `tBur öàÿõ3tƒ «!$$Î/ ¾ÏmÏFs3Í´¯»n=tBur ¾ÏmÎ7çFä.ur ¾Ï&Î#ßâur ÏQöquø9$#ur ̍ÅzFy$# ôs)sù ¨@|Ê Kx»n=|Ê #´Ïèt/ ÇÊÌÏÈ
Artinya: “Wahai orang-orang yang beriman. Tetaplah beriman kepada Allah dan RasulNya (Muhammad) dan kepada Kitab (Al Qur’an) yang diturunkan kepada RasulNya, serta kitab yang diturunkan sebelumnya. Barangsiapa ingkar kepada Allah, malaikat-malaikat-Nya, Kitab-kitab-Nya, Rasul-rasulNya, dan hari kemudian, maka sungguh orang itu telah tersesat sejauh- jauh.” (Q.S. An Nisa : 136)
Ayat di atas memberikan penjelasan bahwa Bila kita ingkar kepada Allah, maka akan mengalami kesesatan yang nyata. Orang yang sesat tidak akan merasakan kebahagiaan dalam hidup. Oleh karena itu, beriman kepada Allah sesungguhnya adalah untuk kebaikan manusia.

1.2.       Rumusan Masalah
a.         Apa pengertian iman?
b.        Sebutkan beberapa ayat dan hadits tentang iman.
c.         Sebutkan rukun-rukun iman.
d.        Apa saja hal-hal yang dapat membatalkan keimanan?

BAB II
PEMBAHASAN

2.1.       Pengertian Iman
Iman (bahasa Arab:الإيمان) secara etimologis berarti 'percaya'. Perkataan iman (إيمان) diambil dari kata kerja 'aamana' (أمن) -- yukminu' (يؤمن) yang berarti 'percaya' atau 'membenarkan'.
Secara terminologi, iman adalah 'aqdun bil qalbi, waiqraarun billisaani, wa'amalun bil arkaan yang artinya diyakini dengan hati diucapkan dengan lisan dan diwujudkan dengan amal perbuatan.
Iman sering dikenal dengan istilah akidah, dimana akidah artinya ikatan "ikatan hati", maksudnya seseorang yang beriman mengikatkan hati dan perasaannya dengan sesuatu kepercayaan yang tidak lagi ditukarnya dengan kepercayaan lain.

2.2.       Iman Menurut Al-Qur’an dan As-Sunnah
2.2.1.      Menurut Al-Qur’an
a.         Surat Al-Baqarah ayat 62:
¨bÎ) tûïÏ%©!$# (#qãYtB#uä šúïÏ%©!$#ur (#rߊ$yd 3t»|Á¨Z9$#ur šúüÏ«Î7»¢Á9$#ur ô`tB z`tB#uä «!$$Î/ ÏQöquø9$#ur ̍ÅzFy$# Ÿ@ÏJtãur $[sÎ=»|¹ öNßgn=sù öNèdãô_r& yYÏã óOÎgÎn/u Ÿwur ì$öqyz öNÍköŽn=tæ Ÿwur öNèd šcqçRtøts ÇÏËÈ
Artinya: “Sesungguhnya orang-orang mukmin, orang-orang Yahudi, orang-orang Nasrani dan orang-orang Shabiin, siapa saja diantara mereka yang benar-benar beriman kepada Allah, hari Kemudian dan beramal saleh, mereka akan menerima pahala dari Tuhan mereka, tidak ada kekhawatiran kepada mereka, dan tidak (pula) mereka bersedih hati.”
b.        Surat Al-An’am ayat 82:
tûïÏ%©!$# (#qãZtB#uä óOs9ur (#þqÝ¡Î6ù=tƒ OßguZ»yJƒÎ) AOù=ÝàÎ/ y7Í´¯»s9'ré& ãNßgs9 ß`øBF{$# Nèdur tbrßtGôgB ÇÑËÈ
Artinya: “Orang-orang yang beriman dan tidak mencampuradukkan iman mereka dengan kezaliman (syirik), mereka Itulah yang mendapat keamanan dan mereka itu adalah orang-orang yang mendapat petunjuk.”
c.         Surat An-Nahl ayat 97:
ô`tB Ÿ@ÏJtã $[sÎ=»|¹ `ÏiB @Ÿ2sŒ ÷rr& 4Ós\Ré& uqèdur Ö`ÏB÷sãB ¼çm¨ZtÍósãZn=sù Zo4quym Zpt6ÍhŠsÛ ( óOßg¨YtƒÌôfuZs9ur Nèdtô_r& Ç`|¡ômr'Î/ $tB (#qçR$Ÿ2 tbqè=yJ÷ètƒ ÇÒÐÈ
Artinya: “Barangsiapa yang mengerjakan amal saleh, baik laki-laki maupun perempuan dalam keadaan beriman, Maka Sesungguhnya akan kami berikan kepadanya kehidupan yang baik dan Sesungguhnya akan kami beri balasan kepada mereka dengan pahala yang lebih baik dari apa yang Telah mereka kerjakan.”
2.2.2.      Menurut As-Sunnah
خيرالقدربامنتؤوخرالآم اليووسلهرو كتبهو ملائكته وباللهتؤمنأنالإيمان
(مسلم اهور)......ه شرو هخير
Artinya: “Iman itu adalah beriman kepada Allah, malaikat-malaikatNya, kitab-kitabNya, Rasul-rasulNya, hari akhir, dan beriman kepada taqdir Allah yang baik maupun yang buruk” (HR. Muslim)

2.3.       Rukun Iman
1.        Iman kepada Allah
Seseorang tidak dikatakan beriman kepada Allah hingga dia mengimani 4 hal: Mengimani adanya Allah. Mengimani rububiah Allah, bahwa tidak ada yang mencipta, menguasai, dan mengatur alam semesta kecuali Allah. Mengimani uluhiah Allah, bahwa tidak ada sembahan yang berhak disembah selain Allah dan mengingkari semua sembahan selain Allah Ta’ala. Mengimani semua nama dan sifat Allah (al-Asma'ul Husna) yang Allah telah tetapkan untuk diri-Nya dan yang Nabi-Nya tetapkan untuk Allah, serta menjauhi sikap menghilangkan makna, memalingkan makna, mempertanyakan, dan menyerupakanNya.
2.        Iman kepada Malaikat-malaikat Allah
Mengimani adanya, setiap amalan dan tugas yang diberikan Allah kepada mereka.
3.        Iman kepada Kitab-kitab Allah
Mengimani bahwa seluruh kitab Allah adalah ucapan-Nya dan bukanlah ciptaanNya. karena kalam (ucapan) merupakan sifat Allah dan sifat Allah bukanlah makhluk. Muslim wajib mengimani bahwa Al-Qur`an merupakan penghapus hukum dari semua kitab suci yang turun sebelumnya.
4.        Iman kepada Rasul-rasul Allah
Mengimani bahwa ada di antara laki-laki dari kalangan manusia yang Allah Ta’ala pilih sebagai perantara antara diri-Nya dengan para makhluknya. Akan tetapi mereka semua tetaplah merupakan manusia biasa yang sama sekali tidak mempunyai sifat-sifat dan hak-hak ketuhanan, karenanya menyembah para nabi dan rasul adalah kebatilan yang nyata. Wajib mengimani bahwa semua wahyu kepada nabi dan rasul itu adalah benar dan bersumber dari Allah Ta’ala. Juga wajib mengakui setiap nabi dan rasul yang kita ketahui namanya dan yang tidak kita ketahui namanya.
5.        Iman kepada Hari Akhir
Mengimani semua yang terjadi di alam barzakh (di antara dunia dan akhirat) berupa fitnah kubur (nikmat kubur atau siksa kubur). Mengimani tanda-tanda hari kiamat. Mengimani hari kebangkitan di padang mahsyar hingga berakhir di Surga atau Neraka.
6.        Iman kepada Qada dan Qadar, yaitu takdir yang baik dan buruk
Mengimani kejadian yang baik maupun yang buruk, semua itu berasal dari Allah Ta’ala. Karena seluruh makhluk tanpa terkecuali, zat dan sifat mereka begitupula perbuatan mereka adalah ciptaan Allah.

2.4.       Hal-Hal yang Membatalkan Keimanan
Pembatal iman atau “nawaqidhul iman” adalah sesuatu yang dapat menghapuskan iman sesudah iman masuk didalamnya, hal-hal yang dapat membatalkan keimanan tersebut antara lain yaitu:
1.        Mengingkari rububiyah Allah atau sesuatu dari kekhususan-kekhususanNya, atau mengaku memiliki sesuatu dari kekhususan tersebut atau membenarkan orang yang mengakuinya.
Allah Subhaanahu wa Ta’ala berfirman:
(#qä9$s%ur $tB }Ïd žwÎ) $uZè?$uŠym $u÷R9$# ßNqßJtR $uøtwUur $tBur !$uZä3Î=ökç žwÎ) ã÷d¤$!$# 4 $tBur Mçlm; y7Ï9ºxÎ/ ô`ÏB AOù=Ïæ ( ÷bÎ) öLèe žwÎ) tbqZÝàtƒ ÇËÍÈ
Artinya: “Dan mereka berkata, ‘Kehidupan ini tak lain hanyalah kehidupan di dunia saja, kita mati dan kita hidup dan tidak ada yang membinasakan kita selain masa’, dan mereka sekali-kali tidak mempu-nyai pengetahuan tentang itu, mereka tidak lain hanyalah menduga-duga saja.” (QS. Al-Jatsiyah: 24)
2.        Sombong serta menolak beribadah kepada Allah.
Allah Subhaanahu wa Ta’ala berfirman:
`©9 y#Å3YtFó¡o ßxŠÅ¡yJø9$# br& šcqä3tƒ #Yö7tã °! Ÿwur èps3Í´¯»n=yJø9$# tbqç/§s)çRùQ$# 4 `tBur ô#Å3ZtGó¡o ô`tã ¾ÏmÏ?yŠ$t6Ïã ÷ŽÉ9ò6tGó¡tƒur öNèdçŽà³ósu|¡sù Ïmøs9Î) $YèŠÏHsd ÇÊÐËÈ $¨Br'sù šúïÏ%©!$# (#qãZtB#uä (#qè=ÏJtãur ÏM»ysÎ=»¢Á9$# öNÎgŠÏjùuqãŠsù öNèduqã_é& Nèd߃Ìtƒur `ÏiB ¾Ï&Î#ôÒsù ( $¨Br&ur šúïÏ%©!$# (#qàÿs3ZtFó$# (#rçŽy9õ3tFó$#ur óOßgç/ÉjyèãŠsù $¹/#xtã $VJŠÏ9r& Ÿwur tbrßÅgs Nßgs9 `ÏiB Èbrߊ «!$# $wŠÏ9ur Ÿwur #ZŽÅÁtR ÇÊÐÌÈ
Artinya: “Al-Masih sekali-kali tidak enggan menjadi hamba bagi Allah, dan tidak (pula enggan) malaikat-malaikat yang terdekat (kepada Allah). Barangsiapa yang enggan dari menyembahNya dan menyombongkan diri, nanti Allah akan mengumpulkan mereka semua kepadaNya. Adapun orang-orang yang beriman dan berbuat amal shalih, maka Allah akan menyempurnakan pahala mereka dan me-nambah untuk mereka sebagian dari karuniaNya. Adapun orang-orang yang enggan dan menyombongkan diri, maka Allah akan menyiksa mereka dengan siksaan yang pedih, dan mereka tidak akan memperoleh bagi diri mereka, pelindung dan penolong selain daripadaNya.” (QS. An-Nisa’: 172-173)
3.        Menjadikan perantara dan penolong yang ia sembah atau ia mintai (pertolongan) selain Allah.
Allah Subhaanahu wa Ta’ala berfirman:
¼çms9 äouqôãyŠ Èd,ptø:$# ( tûïÏ%©!$#ur tbqããôtƒ `ÏB ¾ÏmÏRrߊ Ÿw tbqç7ÉftGó¡o Oßgs9 >äóÓy´Î/ žwÎ) ÅÝÅ¡»t6x. Ïmø¤ÿx. n<Î) Ïä!$yJø9$# x÷è=ö6uÏ9 çn$sù $tBur uqèd ¾ÏmÉóÎ=»t7Î/ 4 $tBur âä!%tæߊ tûï͍Ïÿ»s3ø9$# žwÎ) Îû 9@»n=|Ê ÇÊÍÈ
Artinya: “Allah-lah (hak mengabulkan) do’a yang benar. Dan berhala-berhala yang meraka sembah selain Allah tidak dapat memperkenankan sesuatu pun bagi mereka, melainkan seperti orang membukakan kedua telapak tangannya ke dalam air supaya sampai air ke mulutnya, padahal air itu tidak dapat sampai ke mulutnya. Dan do’a (ibadah) orang-orang itu, hanyalah sia-sia belaka.” (QS. Ar-Ra’d: 14)
4.        Menolak sesuatu yang ditetapkan Allah untuk diriNya atau yang ditetapkan oleh RasulNya.
Begitu pula orang yang menyifati seseorang (makhluk) dengan sesuatu sifat yang khusus bagi Allah, seperti ilmu Allah. Termasuk juga menetapkan sesuatu yang dinafikan Allah dari diriNya atau yang telah dinafikan dariNya oleh RasulNya Shalallaahu alaihi wasalam.
Allah berfirman kepada Rasulnya:
ö@è% uqèd ª!$# îymr& ÇÊÈ ª!$# ßyJ¢Á9$# ÇËÈ öNs9 ô$Î#tƒ öNs9ur ôs9qムÇÌÈ öNs9ur `ä3tƒ ¼ã&©! #·qàÿà2 7ymr& ÇÍÈ
Artinya: “Katakanlah, Dialah Allah, yang Mahaesa, Allah adalah Tuhan yang bergantung kepadaNya segala sesuatu. Dia tidak beranak dan tiada pula diperanakkan dan tidak ada seorang pun yang setara dengan Dia.” (QS. Al-Ikhlas: 1-4)
5.        Mendustakan Rasulullah Shalallaahu alaihi wasalam tentang sesuatu yang beliau bawa.
Allah Subhaanahu wa Ta’ala berfirman:
bÎ)ur šqç/Éjs3ムôs)sù z>¤x. šúïÏ%©!$# `ÏB öNÎgÎ=ö6s% öNåkøEuä!%y` Nßgè=ßâ ÏM»uZÉit7ø9$$Î/ ̍ç/9$$Î/ur É=»tFÅ3ø9$$Î/ur ÎŽÏYßJø9$# ÇËÎÈ ¢OèO ßNõs{r& tûïÏ%©!$# (#rãxÿx. ( y#øs3sù šc%x. ÎŽÅ3tR ÇËÏÈ
Artinya: “Dan jika mereka mendustakan kamu, maka sesungguhnya orang-orang yang sebelum mereka telah mendustakan (rasul-rasulNya); kepada mereka telah datang rasul-rasulNya dengan mambawa mu’jizat yang nyata, zubur, dan kitab yang memberi penjelasan yang sempurna. Kemudian Aku adzab orang-orang yang kafir; maka (lihatlah) bagaimana (hebatnya) akibat kemurkaanKu.” (QS. Fathir: 25-26)
6.        Mengolok-olok atau mengejek-ejek Allah atau Al-Qur’an atau agama Islam atau pahala dan siksa dan yang sejenisnya, atau mengolok-olok Rasulullah Shalallaahu alaihi wasalam atau seorang nabi, baik itu gurauan maupun sungguhan.
Allah Subhaanahu wa Ta’ala berfirman:
ûÈõs9ur óOßgtFø9r'y  Æä9qà)us9 $yJ¯RÎ) $¨Zà2 ÞÚqèƒwU Ü=yèù=tRur 4 ö@è% «!$$Î/r& ¾ÏmÏG»tƒ#uäur ¾Ï&Î!qßuur óOçFYä. šcrâäÌöktJó¡n@ ÇÏÎÈ Ÿw (#râÉtG÷ès? ôs% Länöxÿx. y÷èt/ óOä3ÏY»yJƒÎ) 4 bÎ) ß#÷è¯R `tã 7pxÿͬ!$sÛ öNä3ZÏiB ó>ÉjyèçR Opxÿͬ!$sÛ öNåk¨Xr'Î/ (#qçR$Ÿ2 šúüÏB̍øgèC ÇÏÏÈ
Artinya: “Dan jika kamu tanyakan kepada mereka (tentang apa yang mereka lakukan itu), tentulah mereka akan menjawab, ‘Sesung-guhnya kami hanyalah bersenda gurau dan bermain-main saja.’ Katakanlah, ‘Apakah dengan Allah, ayat-ayatNya dan RasulNya kamu selalu berolok-olok?’ Tidak usah kamu minta maaf, karena kamu kafir sesudah beriman.” (QS. At-Taubah: 65-66)
Inilah sebagian dari pembatal-pembatal keimanan yang paling nyata. Masih banyak pembatal-pembatal iman yang lain seperti sihir, menolak Al-Qur’an baik sebagian maupun keseluruhannya, atau meragukan ke-mu’jizatannya atau menghina mushaf atau sebagiannya, atau menghalalkan sesuatu yang sudah disepakati keharamannya seperti zina atau khamar, atau menghujat agama serta mencelanya dan lain sebagainya.

BAB III
PENUTUP

3.1.       Kesimpulan
Iman sering dikenal dengan istilah akidah, dimana akidah artinya ikatan "ikatan hati", maksudnya seseorang yang beriman mengikatkan hati dan perasaannya dengan sesuatu kepercayaan yang tidak lagi ditukarnya dengan kepercayaan lain.
Dalil tentang iman di antaranya terdapat dalam surat Al-Baqarah ayat 62, surat Al-An’am ayat 82 dan surat An-Nahl ayat 97, selain itu juga terdapat dalam beberapa hadits, salah satunya dalam hadits yang diriwayatkan Imam Muslim sebagaimana yang telah kami sebutkan di atas.
Rukun iman ada enam, yaitu; iman kepada Allah, iman kepada Malaikat-Malaikat Allah, iman kepada Kitab-Kitab Allah, iman kepada Nabi dan Rasul, iman kepada Hari Akhir dan iman kepada Qada dan Qadar.
Ada beberapa penyebab yang dapat membatalkan keimanan seseorang, di antaranya; syirik, menolak yang telah ditetapkan Allah untuk diriNya, atau menolak yang telah ditetapkan oleh rasulNya, mengolok-olok Allah atau mengejek Al-Qur’an dan lain sebagainya.

3.2.       Saran
Sebagai seorang muslim, sangatlah penting bagi kita untuk mengetahui seluk beluk agama ini, termasuk masalah keimanan. Untuk itu kami menyarankan kepada semua umat muslim untuk banyak-banyak belajar agama dan lebih berhati-hati dalam berbuat dan berucap, agar kita tidak terjerumus dalam perbuatan atau ucapan yang akan membatalkan keimanan kita.

DAFTAR PUSTAKA

Anwar, Rosihon Akidah Akhlak. Bandung: Pustaka Setia. Tt.
Daradjat, Zakiah, dkk. 1996. Dasar-dasar Agama Islam. Jakarta: Bulan Bintang

 

Download makalah ini, gratis...

Klik DISINI