Mau pasang iklan di blog anda?. Klik gambar dibawah ini............

Translate

Selasa, 07 Juni 2016

Makalah Mazhab Shahabi



Download makalah ini disini:


BAB I
PENDAHULUAN

1.1.       Latar Belakang Masalah
Generasi dimana Nabi Saw, diutus adalah generasi para sahabat. Mereka adalah sebaik-baiknya generasi, dari aspek keimanan mereka sangat memegang teguh ajaran Islam, dan mencintai Allah SWT dan RasulNya melebihi dari segalanya. Hal ini bisa dilihat dari kisah para sahabat dalam mempertahankan aqidah mereka, meskipun harus disiksa dan didera oleh berbagai siksaan dan cacian dari kafir quraisy. Mereka adalah generasi yang patut kita jadikan teladan, baik dari kuatnya keimanan, pengaplikasiannya dalam kehidupan sehari-hari dan menyebarkan ajaran Islam kepada yang lainnya.
Terlepas dari segala keutamaan yang dimiliki oleh para sahabat. Para ulama berbeda pendapat mengenai keabsahan segala hal yang sampai pada kita dari sahabat baik itu berupa perkataan, perbuatan ataupun fatwa sebagai salah satu sumber pengambilan hukum dalam Islam.

1.2.       Rumusan Masalah
a.         Apa pengertian mazhab shahabi?
b.        Jelaskan macam-macam mazhab shahabi!.
c.         Bagaimana kehujjahan mazhab shahabi?
d.        Bagaimana penerapan mazhab shahabi dalam kehidupan sehari-hari?

1.3.       Tujuan Penulisan
Tujun penulisan makalah ini adalah untuk:
a.         Untuk mengetahui pengertian mazhab shahabi
b.        Dapat menjelaskan macam-macam mazhab shahabi.
c.         Untuk mengetahui kehujjahan mazhab shahabi.
d.        Agar dapat memahami penerapan mazhab shahabi dalam kehidupan sehari-hari.
BAB II
PEMBAHASAN

2.1.       Pengertian Mazhab Shahabi
Yang dimaksud dengan madzhab shahabi ialah pendapat sahabat Rasulullah SAW tentang suatu kasus dimana hukumnya tidak dijelaskan secara tegas dalam Alquran dan sunnah Rasulullah.
Sedangkan yang dimaksud dengan sahabat Rasulullah, adalah setiap orang muslim yang hidup bergaul dengan Rasulullah dalam waktu yang cukup lama serta menimba ilmu dari Rasulullah.
Menurut sebagian ulama Ushul Fiqh, mazhab shahabi merujuk pengertian pada pendapat hukum para sahabat secara keseluruhan tentang suatu hukum syara’ yang tidak terdapat dalam Al-Qur’an dan Sunnah, dimana pendapat para sahabat tersebut merupakan hasil kesepakatan diantara mereka[1].

2.2.       Macam-macam Mazhab Shahabi
Para ulama membagi qaul al-Shahabi ke dalam beberapa macam, di antaranya[2]:
a.         Perkataan sahabat terhadap hal-hal yang tidak termasuk objek ijtihad.
Dalam hal ini para ulama semuanya sepakat bahwa perkataan sahabat bisa dijadikan hujjah. Karena kemungkinan sima’ dari Nabi SAW sangat besar, sehingga perkataan sahabat dalam hal ini bisa termasuk dalam kategori al-Sunnah, meskipun perkataan ini adalah hadits mauquf. Pendapat ini dikuatkan oleh Imam as-Sarkhasi dan beliau memberikan contoh perkataan sahabat dalam hal-hal yang tidak bisa dijadikan objek ijtihad seperti, perkataan Ali bahwa jumlah mahar yang terkecil adalah sepuluh dirham, perkataan Anas bahwa paling sedikit haid seorang wanita adalah tiga hari sedangkan paling banyak adalah sepuluh hari.
Namun contoh-contoh tesebut ditolak oleh beberapa ulama Syafi’iyah, bahwa hal-hal tersebut adalah permasalahan-permasalahan yang bisa dijadikan objek ijtihad. Dan pada kenyataannya baik jumlah mahar dan haid wanita berbeda-beda dikembalikan kepada kebiasaan masing-masing.
b.        Perkataan sahabat yang disepakati oleh sahabat yang lain.
Dalam hal ini perkataan sahabat adalah hujjah karena masuk dalam kategori ijma’.
c.         Perkataan sahabat yang tersebar di antara para sahabat yang lainnya dan tidak diketahui ada sahabat yang mengingkarinya atau menolaknya.
Dalam hal inipun bisa dijadikan hujjah, karena ini merupakan ijma’ sukuti, bagi mereka yang berpandapat bahwa ijma’ sukuti bisa dijadikan hujjah.
d.        Perkataan sahabat yang berasal dari pendapatnya atau ijtihadnya sendiri.
Qaul al-Shahabi yang seperti inilah yang menjadi perselisihan di antara para ulama mengenai keabsahannya sebagai hujjah dalam fiqh Islam.
Adapun Dr. Muhammad Sulaiman Abdullah al-Asyqar menambahkan beberapa poin mengenai macam-macam qaul al-Shahabi ini, di antaranya:
a.         Perkataan Khulafa ar-Rasyidin dalam sebuah permasalahan. Dalam hal ini para ulama sepakat untuk menjadikannya hujjah. Sebagaimana diterangkan dalam sebuah hadits, ”Hendaklah kalian mengikuti sunnahku dan sunnah para Khulafa ar-Rasyidin setelahku”
b.        Perkataan seorang sahabat yang berlandaskan pemikirannya dan ditentang oleh sahabat yang lainnya. Dalam hal ini sebagian ulama berpendapat bahwa perkataan sahabat ini tidak bisa dijadikan hujjah. Akan tetapi sebagian ulama lainnya dari kalangan Ushuliyyin dan fuqaha mengharuskan untuk mengambil perkataan satu sahabat.

2.3.       Kehujjahan Mazhab Shahabi
Pendapat sahabat tidak menjadi hujjah atas sahabat lainnya. Hal ini telah disepakati. Namun yang masih diperselisihkan ialah, apakah pendapat sahabat bisa menjadi hujjah atas tabi’n dan orang-orng setelah tabi’in. Ulama ushul memiliki tiga pendapat, di antaranya adalah[3]:
a.         Satu pendapat mengatakan bahwa mazhab Sahabat (qaulussshahabi) dapat menjadi hujjah.
Pendapat ini berasal dari Imam Maliki, Abu bakar ar-Razi, Abu Said shahabat Imam Abu Hanifah, begitu juga Imam Syafi’i dalam madzhab qadimnya, termasuk juga Imam Ahmad Bin Hanbal dalam satu riwayat.
Alasan pendapat ini adalah firman Allah SWT.
öNçGZä. uŽöyz >p¨Bé& ôMy_̍÷zé& Ĩ$¨Y=Ï9 tbrâßDù's? Å$rã÷èyJø9$$Î/ šcöqyg÷Ys?ur Ç`tã ̍x6ZßJø9$# t
Artinya: “Kamu adalah umat yang terbaik yang dilahirkan untuk manusia, menyuruh kepada yang ma'ruf, dan mencegah dari yang munkar”. (QS. Ali-Imran: 110)
Ayat ini merupakan kitab dari Allah untuk sahabat-sahabat agar mereka menganjurkan ma’ruf, sedangkan perbuatan ma’ruf adalah wajib, karena itu pendapat para sahabat wajib diterima.
Alasan yang kedua adalah hadits Rasul yang artinya; “Sahabatku bagaikan bintang-bintang siapa saja di antara mereka yang kamu ikuti pasti engkau mendapat petunjuk”.
Hadits ini menunjukkan bahwa Rasulullah SAW menjadikan ikutan kepada siapa saja dari sahabatnya sebagai dasar memperoleh petunjuk (hidayah). Hal ini menunjukkan bahwa tiap-tiap pendapat dari mereka itu adalah hujjah dan wajib kita terima/amalkan.
b.        Satu pendapat mengatakan bahwa mazhab sahabat (qaulussshahabi)  secara mutlak tidak dapat menjadi hujjah/dasar hukum.
Pendapat ini berasal dari jumhur Asya’iyah dan Mu’tazilah, Imam Syafi’i dalam mazhabnya yang jadid (baru) juga Abu Hasan al-Kharha dari golongan Hanafiyah[4].
Alasan mereka antara lain adalah firma Allah:
(#rçŽÉ9tFôã$$sù Í<'ré'¯»tƒ ̍»|Áö/F{$#
Artinya:  “. . . Maka ambillah (kejadian itu) untuk menjadi pelajaran, hai orang-orang yang mempunyai pandangan”. (QS. al-Hasyr: 2)
Maksud ayat tersebut adalah bahwa Allah SWT menganjurkan kepada orang-orang yang mempunyai pandangan/pikiran untuk mengambil i’tibar (pelajaran). Yang dimaksud i’tibar dalam ayat tersebut ialah qiyas dan ijtihad, sedangkan dalam hal mujtahid sama saja apakah mujtahid itu sahabat atau bukan sahabat.
c.         Ulama Hanafiyah, Imam Malik, qaul qadim Imam Syafi’i dan pendapat terkuat dari Imam Ahmad bin Hanbal, menyatakan bahwa pendapat sahabat itu menjadi hujjah dan apabila pendapat sahabat bertentangan dengan qiyas maka pendapat sahabat didahulukan.
Alasan yang mereka kemukakan antara lain adalah firman Allah dalam surat at-Taubah ayat 100:
šcqà)Î6»¡¡9$#ur tbqä9¨rF{$# z`ÏB tûï̍Éf»ygßJø9$# Í$|ÁRF{$#ur tûïÏ%©!$#ur Nèdqãèt7¨?$# 9`»|¡ômÎ*Î/ šÅ̧ ª!$# öNåk÷]tã  
Artinya: “Orang-orang yang terdahulu lagi yang pertama-tama (masuk Islam) dari golongan muhajirin dan anshar dan orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik, Allah ridha kepada mereka”. (QS.  at-Taubah: 100)
Dalam ayat ini menurut mereka, Allah secara jelas memuji para sahabat karena merekalah yang pertama kali masuk Islam[5].
Sabda Rasulullah yang diriwayatkan oleh al-Bukhari dari Imran bin Hushain yang berbunyi: “Sebaik-baik kamu (adalah yang hidup pada) masaku, kemudian generasi berikutnya, kemudian generasi berikutnya”[6].
Dari segi alasan logika, pendapat sahabat dijadikan hujjah  karena terdapat kemungkinan bahwa pendapat meraka itu berasal dari Rasulullah. Disamping itu karena mereka sangat dekat dengan Rasulullah dalam rentang waktu yang lama, hal ini memberikan pengalaman yang sangat luas kepada mereka dalam memahami ruh syari’at dan tujuan-tujuan persyari’atan hukum syara’. Dengan bergaul dengan Rasulullah berarti mereka merupakan murid-murid langsung dari beliau dalam menetapkan hukum, sehingga diyakini pendapat mereka lebih mendekati kebenaran. Oleh karena itu, jika pendapat mereka bertentangan dengan al-Qiyas, maka sangat mungkin ada landasan hadits yang mereka gunakan untuk itu. Sebagaimana diketahui, mereka adalah generasi terbaik (memiliki sifat al-‘Adalah), yang sangat sulit diterima menurut kebiasaan jika melahirkan pendapat syara’ tanpa alasan, sebab hal itu terlarang menurut syara’[7].
Kemudian Imam Ibnu Qayyim di dalam kitabnya I’lamul Muwaqqi’in  berkata bahwa fatwa sahabat tidak keluar dari enam bentuk[8]:
1)        Fatwa yang didengar sahabat dari Nabi
2)        Fatwa yang didasarkan dari orang yang mendengar dari Nabi
3)        Fatwa yang didasarkan atas pemahamannya terhadap Alquran yang agak kabur pemahaman ayatnya bagi kita.
4)        Fatwa yang disepakati oleh tokoh sahabat sampai kepada kita melalui salah seorang sahabat.
5)        Fatwa yang didasarkan kepada kesempurnaan ilmunya baik bahasa maupun tingkah lakunya, kesempurnaan ilmunya tentang keadaan Nabi dan maksud-maksudnya. Kelima hal inilah hujjah yang wajib diikuti
6)        Fatwa yang berdasarkan pemahaman yang tidak datang dari Nabi dan ternyata pemahamannya salah. Maka hal ini tidak jadi hujjah.

2.4.       Penerapan Mazhab Shahabi dalam Kehidupan Masyarakat
Perbedaan pendapat para ulama mengenai hujjiyah qaul as-shahabi sebagai salah satu sumber hukum, menyebabkan perbedaan pula dalam menghukumi suatu permasalahan yang tidak ada nash sharih yang menjelaskannya. Berikut ini beberapa contoh dari sekian banyak contoh yang ada, yang erat kaitannya dengan kehidupan sehari-hari.
a.        Hukum sujud Tilawah, apakah wajib atau sunnah?
Imam Malik, As-As-Syafi’i dan Ahmad berpendapat bahwa hukumnya adalah sunnah dan tidak mencapai wajib.
Imam Malik dan Imam Ahmad berdalilkan pada qaul as-shahabi, yang diriwayatkan Imam Malik dalam kitabnya Al-Muwatha dari Hisyam bin U’rwah dari ayahnya, bahwa Umar bin Khattab membaca ayat sajdah ketika di atas mimbar pada hari jum’at, maka Umar bersujud dan sujudlah semua yang hadir mengikuti Umar. Kemudian Umar membacanya pada hari jum’at yang lain, maka para sahabat lain bersiap-siap untuk bersujud, tetapi Umar berkata, ”Sesungguhnya Allah tidak mewajibkannya kecuali jika kita mau”. Umar tidak bersujud dan melarang yang lainnya untuk bersujud.
Adapun Imam As-Syafi’i berdalilkan bahwa sujud dilakukan untuk shalat. Adapun perintah untuk shalat telah dijelaskan secara global oleh Al-Qur’an dan telah diterangkan oleh As-Sunnah secara terperinci. Maka hal ini menunjukkan bahwa shalat yang diwajibkan adalah shalat yang lima, sedangkan selainnya tidaklah wajib.
Kemudian beliau berdalilkan hadits Nabi Saw. yang berbunyi, ”Bahwa Rasulullah Saw. membaca ayat dalam surat an-najm maka beliau bersujud, lalu bersujud pulalah yang lainnya kecuali dua orang”.
Imam Abu Hanifah berpendapat bahwa hukum sujud tilawah adalah wajib. Imam Abu hanifah berdalilkan dengan beberapa hadits Nabi Saw., di antaranya:
1)        Rasulullah Saw. bersabda, ”Sujud tilawah bagi siapa yang mendengarnya dan bagi siapa yang membacanya”.
2)        Dari Abu Hurairah ra. dalam Kitab Al-Iman yang dimarfu’kan kepada Nabi Saw., ”Apabila Ibnu Adam membaca ayat sajdah maka syaitan akan menyendiri dan menangis sambil berkata, ”Celakalah! Telah diperintah Ibnu Adam untuk bersujud maka dia bersujud dan baginya surga, sedangkan aku diperintah untuk bersujud tapi enggan, maka bagiku neraka”. ( HR. Muslim)
b.        Hukum shalat jum’at bagi yang shalat ‘id
1)        Imam As-Syafi’i berpendapat bahwa kewajiban shalat jum’at bagi ahli balad adapun ahli qura dirukhsah. Imam As-Syafi’i berdalilkan sebuah riwayat yang diriwayatkan oleh Imam malik dari Ibnu Syihab dari Abi U’baid bekas hamba sahaya Ibnu Azhar, dia berkata, ”Saya melakukan shalat ‘id bersama Utsman Bin Affan maka utsman shalat lalu berkhutbah dan berkata, ‘Sesungguhnya telah berkumpul pada hari ini dua ‘id, maka barang siapa yang hendak menunggu dari ahli a’liyah maka tunggulah dan barang siapa yang hendak pulang maka telah diizinkan baginya”.
2)        Imam Ahmad berpendapat bahwa shalat jum’at tidak usah dikerjakan bagi mereka yang melaksanakan shalat ‘id baik ahli balad atau ahli qura kecuali Imam. Adapun Imam ahmad berdalilkan dari yang diriwayatkan Iyas bin Abi Ramlah Asy-Syami, dia berkata, ”Saya melihat Mu’awiyah bertanya kepada Zaid bin Arqam, ”Apakah engkau pernah mendapatkan dua ‘id bersatu pada satu hari bersama Rasulullah Saw.?, maka Zaid berkata, ”Iya”. “Maka bagaimana hukumnya?” Zaid menjawab, ”Shalat ‘Id kemudian dirukhsah pada shalat jum’at”. Lalu Zaid berkata, ”Barang siapa yang hendak shalat (baca: shalat jum’at) maka shalatlah”. ( HR. Abu Daud)
3)        Adapun Imam Abu Hanifah dan Imam Malik berpendapat bahwa shalat jum’at dan shalat ‘Id wajib keduanya untuk dilaksanakan. Abu Hanifah berdalilkan bahwa hukum melaksanakan shalat jum’at adalah wajib adapun shalat ‘id maka bagi siapa yang meninggalkannya berarti sesat dan bid’ah.
c.         Hukum potong tangan bagi seorang pembantu
Jumhur ulama berpendapat bahwa hukum bagi seorang pembantu yang mencuri harta tuannya tidak dipotong. Adapun Dalilnya:
1)        Diriwayatkan oleh Imam Malik, beliau berkata, ”Telah bercerita kepada kami dari Az-Zuhri dari As-Saib bin Yazid bahwa Abdullah bin Amar bin Hadhrami datang kepada Umar bi Khattab dengan seorang hamba, lalu dia berkata, ”Potong tangannya karena dia telah mencuri”. Umar bertanya, ”Apa yang dicuri olehnya?”, dia menjawab, ”Cermin istriku yang berharga enam puluh dirham”. Maka Umar berkata, ”Lepaskan saja karena tidak ada potong tangan bagi pembantu yang mencuri hartamu”.
2)        Diriwayatkan oleh Ibnu Mas’ud bahwa seseorang datang kepadanya lalu berkata, ”Budak saya mencuri harta milik budak saya yang lain”, lalu Ibnu mas’ud berkata, ”Tidak ada potong tangan bagi “harta” (baca: budak) yang mencuri “harta” (baca: budak).
Adapun Daud Adz-dzhahiri berpendapat bahwa potong tangan tetap berlaku secara mutlak. Dengan berdalilkan Firman Allah Swt.,
ä-Í$¡¡9$#ur èps%Í$¡¡9$#ur (#þqãèsÜø%$$sù $yJßgtƒÏ÷ƒr& Lä!#ty_ $yJÎ/ $t7|¡x. Wx»s3tR z`ÏiB «!$# 3 ª!$#ur îƒÍtã ÒOŠÅ3ym ÇÌÑÈ 
Artinya: ”Laki-laki yang mencuri dan perempuan yang mencuri potonglah tangan keduanya (sebagai) pembalasan dari apa yang mereka kerjakan dan sebagai siksaan dari Allah. Dan Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana. (QS. Al-Maa’idah: 38)
d.        Status Pernikahan dalam masa ‘Iddah
Imam Malik, Al-Auza’I dan Al-Laits berpendapat bahwa mereka harus dipisahkan, dan wanita itu menjadi haram bagi laki-laki tersebut selamanya. Mereka berpendapat dengan perkataan Umar yang memisahkan antara Thalhah Al-Asdiah dengan suaminya Rasyid Ats-Tsaqafi ketika mereka menikah pada masa ‘iddah dari suaminya. Dan berkata, ”Setiap wanita yang menikah dalam masa iddahnya, apabila suami yang menikahinya itu belum menggaulinya maka harus dipisahkan keduanya. Kemudian sang wanita menyempurnakan masa iddahnya. Lalu jika pada masa iddah itu dia menikah lagi dengan yang lain dan sudah digauli maka harus dipisahkan keduanya. Kemudian sang wanita menyempurnakan masa ‘iddah dari suami yang pertama lalu dilanjutkan dengan menjalani masa iddah dari suami yang kedua. Dan antara wanita tersebut dengan suaminya yang ketiga tidak boleh bersatu selamanya”.
Adapun pendapat yang kedua bahwa dipisahkan keduanya dan sang wanita boleh mendapatkan maharnya. Dan apabila telah habis masa iddahnya apabila sang wanita berkehandak untuk menikahinya lagi maka tidak apa-apa. Sebagaimana dijelaskan oleh Ali bin Abi Thalib.



BAB III
PENUTUP

3.1.       Kesimpulan
Madzhab shahabi ialah pendapat sahabat Rasulullah SAW tentang suatu kasus dimana hukumnya tidak dijelaskan secara tegas dalam Alquran dan sunnah Rasulullah.
Para ulama membagi qaul al-Shahabi ke dalam beberapa macam, di antaranya:
a.         Perkataan sahabat terhadap hal-hal yang tidak termasuk objek ijtihad.
b.        Perkataan sahabat yang disepakati oleh sahabat yang lain.
c.         Perkataan sahabat yang tersebar di antara para sahabat yang lainnya dan tidak diketahui ada sahabat yang mengingkarinya atau menolaknya.
d.        Perkataan sahabat yang berasal dari pendapatnya atau ijtihadnya sendiri.
Para ulama ushul memiliki beberapa pendapat tentang kehujjahan mazhab shahabi, di antaranya adalah:
a.         Satu pendapat mengatakan bahwa mazhab Sahabat (qaulussshahabi) dapat menjadi hujjah.
b.        Satu pendapat mengatakan bahwa mazhab sahabat (qaulussshahabi)  secara mutlak tidak dapat menjadi hujjah/dasar hukum.
c.         Ulama Hanafiyah, Imam Malik, qaul qadim Imam Syafi’i dan pendapat terkuat dari Imam Ahmad bin Hanbal, menyatakan bahwa pendapat sahabat itu menjadi hujjah dan apabila pendapat sahabat bertentangan dengan qiyas maka pendapat sahabat didahulukan.

3.2.       Saran
Sebagai penganut agama Islam, tentu penting untuk kita memahami hukum dan sumber hukum dalam Islam. Saran kami, sebaiknya kita lebih banyak belajar mengenai hukum dan sumber hukum Islam, baik dari Ulama maupun dari berbagai literatur yang kini banyak tersedia.
DAFTAR PUSTAKA


Dahlan, Rahman. 2010. Ushul Fiqh, Cet.1. Jakarta: Amzah.
Jazuli, dkk. 2000. Ushul Fiqh Metodologi Hukum Islam. Jakarta: Raja Grafindo Persada.
Syafe’i, Rahmat. 2007. Ilmu Ushul Fiqh untuk UIN, STAIN dan PTAIS (Cet. III). Bandung : Pustaka Setia
Umam, Khairul dkk. 2000. Ushul Fiqih I, (Cet. 2). Bandung: Pustaka Setia.
Zaedan,  Abdul Karim. 1996. Al-Wajiz Fi Ushul Fiqh (Terj).Beirut: Muassasah Ar-Risalah.



[1] Rahman Dahlan,M.A,Ushul Fiqh, Cet.1, (Jakarta: Amzah, 2010), hlm.225
[2] Abdul Karim Zaedan,  Al-Wajiz Fi Ushul Fiqh (Terj), (Beirut: Muassasah Ar-Risalah, 1996), hlm. 260-261
[3] Khairul Umam, dkk, Ushul Fiqih I, cet. 2, (Bandung: Pustaka Setia, 2000), hlm. 182.
[4] Ibid, hlm. 183.
[5] Ibid, hlm. 184-185.
[6] Rahman Dahlan, Op.Cit
[7] Ibid, hlm. 228.
[8] Jazuli, dkk, Ushul Fiqh Metodologi Hukum Islam, (Jakarta: Raja Grafindo Persada, 2000), hlm. 212-213




Download makalah ini disini: