Translate

Senin, 19 Mei 2014

Makalah Pemimpin Masa Depan Harus Pemimpin Yang Baik





Penulis:           tiara herfiana

BAB I
PENDAHULUAN

1.1.  Latar Belakang Masalah
Tugas umum seorang pemimpin adalah bersama-sama pengikutnya sampai kepada tujuan yang hendak dicapai. Untuk mencapai tujuan tersebut dibutuhkan pemimpin pilihan yang mampu menggerakkan, memberi tuntunan dan binaan, memberikan teladan, dan menunjukkan jalan yang paling baik untuk sampai kepada tujuan tersebut.
Seorang pemimpin biasanya memiliki kecerdasan yang lebih tinggi dibandingkan pengikutnya, dengan kecerdasan yang luar biasa pemimpin dapat berpikir maju dan melihat lebih banyak dibandingkan pengikutnya. Tapi bisakah semua pemimpin yang cerdas itu dikatakan pemimpin yang baik, karena dalam makalah ini topik “Pemimpin yang baik” akan dibahas dari sudut pandang moral dan etika bukan dari intelegensia saja.
Konsep baik dalam segi moral dan etika mungkin dianggap remeh oleh sebagian besar orang, tapi jika kita menyelami tentang hal ini dan membandingkan dengan permasalahan-permasalahan yang dihadapi pemimpin-pemimpin Indonesia akan terdapat rasa butuh akan sosok baik ini. Terutama harapan untuk membawa negara kita Indonesia tercinta ini keluar dari permasalahan-permasalahan mendasar dalam negara yaitu kemiskinan dan sumber daya manusia yang rendah.
Dewasa ini banyak pemimpin-pemimpin muda hadir dengan kelebihan-kelebihanya, berbicara tentang perubahan, perubahan bagaimana yang dimaksud, bisakah seorang anak muda mendikte yang tua dan berpengalaman. Bisakah pemimpin yang berpengalaman dikatakan pemimpin yang baik, atau pemimpin yang mengumbar-ngumbar janji perubahan, dapatkan mereka menempatkan diri serta bertahan dengan banyaknya permasalahan yang dihadapi bangsa ini.
Mempelajari pengalaman dalam memimpin dari para pemimpin Indonesia di masa lalu menjadi penting sekarang, mereka yang pernah merasakan duduk di kursi presiden dan memerintah serta membangun bangsa ini dapat kita pelajari sisi baik dan buruknya. Moral dan etika sangat penting artinya dalam memimpin bangsa ini serta hal buruk yang terjadi jika terdapat krisis moral dan etika dalam tonggak kepemimpinan Indonesia.

1.2.  Rumusan Masalah
1.         Bagaimanakah cara menjadikan diri sebagai pemimpin yang baik dengan mengedepankan moral ?
2.         Apakah dampak dengan adanya pemimpin yang baik dalam kepemimpinan di Indonesia ?

1.3.  Tujuan Penulisan
        Memberikan pandangan tentang memilih, mengikuti, dan menjadi pemimpin ideal secara moral agar didapatkan sosok pemimpin yang berbudi pekerti sehingga membawa Indonesia ke arah yang lebih baik sekarang dan dimasa yang akan datang


BAB II
PEMBAHASAN
2.1.      Pemimpin masa lalu dan sekarang
Dewasa ini banyak yang berpendapat pemimpin itu harus tegas, jujur dan peduli. Semua sifat-sifat yang mulia dari pemimpin itu tidak didapatkan secara cepat, memantaskan diri menjadi pemimpin dapat dilakukan sejak kecil dan bertahap hingga dewasa. Teori genetis yang menyatakan pemimpin itu tidak dibuat, akan tetapi lahir dan dikaruniai bakat-bakat alami yang luar biasa sejak lahir semakin diragukan. Teori sosial yang adalah lawan dari teori genetis menyatakan pemimpin itu harus disiapkan, dididik, dan dibentuk tidak serta merta dilahirkan begitu saja, jadi setiap orang bisa menjadi pemimpin, melalui usaha penyiapan dan pendidikan, serta didorong oleh kemauan sendiri.
Dari kedua teori yang sudah dijelaskan teori sosial lebih mumpuni untuk dijadikan patokan menjadikan seseorang pemimpin yang baik. Karena kebaikan tidak dilahirkan tapi diperoleh dari tindakan yang dilakukan. Perasaan untuk berbagi dan berbuat adil harus diasa terus menerus agar sensitif dan diharapkan pemimpin-pemimpin melakukan sesuatu yang harus dilakukan bukan yang ingin dilakukan.
Sejarah manusia membuktikan bahwa berdirinya perguruan tinggi, biara, dan pesantren, jelas dimaksudkan untuk mendidik, mempengaruhi dan mengubah sikap amak manusia, melalui pembentukan dan pembiasaan diri. Dalam lembaga-lembaga pendidikan tersebut anak-anak muda disiapkan untuk menjadi pemimpin-pemimpin di berbagai bidang kehidupan, sekarang maupun dimasa mendatang.
Indonesia dalam sejarahnya telah melahirkan pemimpin-pemimpin dunia yang gaya kepemimpinanya terus dikenang dan dijadikan pedoman bagi pengikutnya. lantas kepemimpinan itu tidak serta merta menjadikan pemimpin itu sempurna, kebijakan yang dinilai salah menurunkan dan membuat mereka turun tahta, tetap saja kebaikan dimasa lalu tetap dikenang dan menjadi sejarah yang tak telupakan. Cerita tentang pahlawan nasional kita Muhammad Natsir. Ketika Natsir berhenti jadi perdana menteri, di hari terakhir masa jabatannya, Natsir dengan mengendarai sendiri mobil dinasnya datang ke istana untuk mengembalikan mandat pemerintahannya kepada Presiden Soekarno, diikuti di belakangnya oleh sopirnya yang mengendarai sepeda. Setelah mandat pemerintahannya dikembalikan, Natsir sekaligus ingin mengembalikan mobil dinasnya. Ketika petugas menanyakan, setelah dikembalikan, dengan apa Natsir akan kembali ke rumah dan menawarkan untuk diantar, Natsir menolak sambil menunjuk sopirnya yang sedang menunggu di luar dengan sepedanya. Natsir pulang ke rumah dengan diboncengi sepeda oleh sopirnya. Kemuliaan budi pekerti ini membuat Natsir kemudian dijuluki pengikut dan pengagumnya “hati nurani umat”. Cerita singkat tentang Natsir ini membuat kita belajar kesederhanaan dan profesionalitas. Dibandingkan cerita tentang pemimpin-pemimpin masa kini yang haus kekuasaan, harta dan kehormatan hingga melakukan tindakan yang tidak pantas dan memalukan adalah suatu  ironi yang dapat mengerdilkan jiwa dan perasaan baik dalam diri sendiri.
Dari cerita tentang Natsir kita akan membanding-bandingkan dengan pemimpin-pemimpin kita masa kini. Banyak pemimpin yang pintar, tapi tidak semuanya berakhlak mulia, tidak banyak yang dapat menjadi panutan dan cerminan bagi warga masyarakat yang dipimpinnya.
Kepemimpinan bukanlah hal yang mati dan beku. Kepemimpinan adalah sesuatu yang sangat dinamis, mudah berubah, dan harus selalu disesuaikan dengan perubahan lingkungan. Untuk itu seorang pemimpin harus memiliki jiwa dan pikiran yang terbuka sehingga ia tidak kaku dalam mengambil keputusan. Tindakan yang berani harus diimbangi dengan persiapan yang matang.
Moral menjadi dasar utama disini, baik yang dimaksud adalah baik dalam segi moral, moral itu sendiri adalah pengetahuan yang menyangkut budi pekerti manusia yang beradab. Moral juga berarti ajaran yang baik dan buruk perbuatan, dan kelakuan (akhlak). Seseorang dapat dikatakan bermoral yang baik saat ia melakukan banyak hal dengan tindakan baik. Moral menurut Prof. Dr. H. Veithhzal Rivai, S.E., M.M., MBA dari bukunya “Pemimpin dan kepemimpinan dalam organisasi” ada dua macam, yaitu :
a.         Moral murni, yaitu moral yang terdapat pada setiap manusia, sebagai suatu pengejawantahan dari pancaran ilahi. Moral murni disebut pula hati nurani.
b.         Moral terapan, adalah moral yang didapat dari ajaran filosofis, agama, adat yang menguasai pemutaran manusia.
Moral dalam perspektif Islam adalah akhlak, oleh karena pembahasan moral disini lebih ditekankan pada pengertian akhlak, sehingga emosional sangat erat kaitanya dengan hal ini, orang tidak bisa melakukan hal baik, saat dia memang tidak memiliki emosi untuk melakukan hal baik. Terkadang tindakan terpuji seperti yang dilakukan Natsir dan Jokowi dianggap absurb bagi kebanyakan orang.
Seorang pemimpin seharusnya mengetahui keadaan rakyatnya, merasakan langsung penderitaan mereka. Saat  pemimpin sudah sampai ditahap merasakan hal yang sama dengan yang dirasakan rakyatnya ia telah sampai pada titik yang dinamakan Kepemimpinan yang melayani.
1.         Hati yang melayani
Kepemimpinan yang melayani dimulai dari dalam diri kita. Kepemimpinan menuntut suatu transformasi dari dalam hati dan perubahan karakter. Kepemimpinan sejati dimulai dari dalam dan kemudian bergerak keluar untuk melayani mereka yang dipimpinya. Kembali kita lihat, betapa banyak pemimpin yang mengaku wakil rakyat, ataupun pejabat publik justru tidak memiliki integritas sama sekali. Karena apa yang diucapkan dan dijanjikan tidak sama dengan yang dilakukan. Seorang pemimpin sejati seharusnya memiliki hastrat untuk membangun dan mengembangkan mereka yang dipimpinnya sehingga tumbuh banyak pemimpin di kelompoknya. Pemimpin yang melayani adalah pemimpin yang memiliki kasih dan perhatian kepada mereka yang dipimpinnya. Kasih itu mewujud  dalam bentuk kepedulian akan kebutuhan, kepentingan, impian, dan harapan dari mereka yang dipimpinnya.
2.         Kepala yang melayani
Seorang pemimpin sejati tidak cukup hanya memiliki hati atau karakter semata, tetapi harus memiliki serangkaian metode kepemimpinan agar dapat menjadi pemimpin yang efektif. Seorang pemimpin yang efektif adalah seorang pelatih atau pendamping bagi orang-orang yang dipimpinnya. Artinya dia memiliki kemampuan untuk menginspirasim mendorong dan memampukan yang dipimpinnya dalam melakukan tugasnya agar tujuan akhir dapat tercapai.
3.         Tangan yang melayani
Pemimpin bukan sekedar memperlihatkan karakter dan integritas serta memiliki kemampuan dalam metode kepemimpinan, tetapi dia harus menunjukkan perilaku maupun kebiasaan seorang pemimpin.
Kita tidak bisa sukses dalam melakukan hal yang besar jika masih gagal melakukan hal-hal yang kecil. Contoh dari kepemimpinan yang melayani sudah diberikan diatas, betapa hal kecil yang baik dilakukan akan membekas dihati rakyat, dikenang dan menjadi cerminan, bahwasanya setiap orang mempunyai potensi sebagai pemimpin dan diharapkan potensi yang dibangun dan terus dikembangkan adalah potensi menjadi pemimpin yang baik.

2.2. Dampak kepemimpinan yang baik bagi Indonesia
1.         Produktivitas dan efektivitas dalam berkarya
            Setiap bangsa melahirkan pemimpinnya masing-masing dengan gaya kepemimpinan yang berbeda-beda pula. Tapi tetap saja apapun bangsanya, sejarahnya, dan wilayahnya sosok pemimpin yang baik dan tentu berakhlak masih sangat dirindukan. Dalam pandangan ilmu pengetahuan akhlak dapat menunjang prestasi/produktifitas. Memang banyak orang yang merasa bahwa tidak ada kaitanya antara prestasi/produktifitas dengan akhlak, jelas pandangan ini benar-benar keliru. Bila kita memahami sungguh-sungguh nilai-nilai akhlak mulia, maka kita akan menemukan bahwa nilai-nilai tersebut merupakan nilai-nilai yang dapat saling bersinergi dalam menumbuhkan potensi manusia kita. Dengan potensi yang seperti ini bayangkan betapa indahnya kombinasi antara kemuliaan akhlak dengan tingginya produktifitas dan efektivitas dalam berkarya. Berkarya yang dimaksudkan disini secara lebih signifikan adalah kebijakan yang pro rakyat agar dekat dengan kesejahteraan. Indonesia adalah negara yang kaya, Tuhan menganugerahkan kita dengan sumber daya di darat dan di laut yang sempurna, tinggal tugas kita yang mengelolanya agar kekayaan tersebut tidak hanya untuk kepentingan pribadi dan kelompok tapi mencakup luas yaitu seluruh rakyat Indonesia.
2.         Pengambilan keputusan
Pemimpin yang baik dalam akhlaknya pun berdampak pada setiap keputusan yang diambilnya. Kepemimpinan seseorang sangat besar peranannya dalam setiap pengambilan keputusan, sehingga membuat keputusan dan bertanggung jawab terhadap hasilnya adalah salah satu tugas pemimpin. Kepemimpinan mendasar dari pengambilan keputusan ini menuntut beberapa disiplin ilmu, terutama ilmu-ilmu sosial yang menjadi acuan bagi pengertian yang lebih baik bagaimana keputusan itu dibuat atau seharusnya dibuat. Kita harus sadar bahwa hidup penuh dengan keputusan sulit yang harus dibuat. Dan mungkin kita tidak menyadari bahwa setiap keputusan yang cepat tidak selalu menjadi keputusan yang benar. Sesuatu yang benar tidak selalu populer dan sesuatu yang populer tidak selalu benar. Pemimpin sangat membutuhkan kecerdasan emosional dalam pengambilan setiap keputusan. Terutama keputusan – keputusan genting yang dampaknya dirasakan secara nasional, contoh: krisis ekonomi dunia yang membuat suasana tidak kondusif di negara kita pada tahun 2008, ada keputusan-keputusan dari pemimpin kita saat itu yang masih dipersoalkan sampai sekarang, kasus Century yang belum selesai dan terlihat mandek  disebabkan kesalahan pengambilan keputusan, dan diharapkan tidak lagi terjadi di masa yang akan datang.
3.        Mengendalikan konflik
Siklus kehidupan manusia selalu dikelilingi oleh pertentangan alamiah sebagai ketetapan Tuhan yang tertata sedemikian rupa sehingga melahirkan dinamika bagi kehidupan manusia itu sendiri. Dengan demikian merupakan suatu kewajaran bahwa pertentangan selalu ada selama manusia itu ada baik secara individu maupun kelompok. Apalagi kita menyadari betul negara kita dengan bentuk negara yang merupakan kepulauan sehingga memiliki banyak budaya, suku bangsa, agama dan bahasa. Sehingga rentan terjadi konflik internal yang mengancam keutuhandan persatuan NKRI. Karena itu pengendalian konflik merupakan salah satu tugas pemimpin dalam kepemimpinanya. Keberhasilah pemimpin dinilai dari bagaimana ia mampu mengendalikan dan mengelola konflik. Kegagalan seorang pemimpin dalam mengendalikan dan mengelola konflik akan berimbas pada sesuatu yang merugikan bahkan perpecahan pada kelompok tersebut.  Pemimpin yang baik akan mampu menjadikan konflik sebaga peluang sehingga dapat menimbulkan rasa tenggang rasa, menciptakan kreativitas, dan keterpaduan di kelompok itu sendiri.


BAB III
PENUTUP
Kesimpulan dan Saran
Karakter pemimpin yang baik sangat dibutuhkan oleh masyarakat Indonesia di masa kini maupun yang akan datang karena cita-cita negara yang sejahtera sangat erat kaitannya dengan peran dari seorang pemimpin untuk mewujudkannya. Terlepas dari sumber daya manusia sebagai pendukung utama, peran pemimpin memiliki posisi yang sangat penting karena di sini segala kebijakan dan program yang berhubungan dengan rakyat yang menjadi penentu atau pegambil keputusan yang mengatur harkat hidup orang banyak datangnya dari pemimpin. Dalam organisasi publik atau pemerintahan, posisi pemimpin memiliki peran yang besar sebagai penghubung antara organisasi yang dipimpinya dengan masayarakat yang merasakan langsung dampak dari kebijakan dan program yang dipimpinnya, ia mempunyai pengaruh besar karena pemimpin bukan hanya sebagai penentu kebijakan tapi lebih daripada itu ia sebagai contoh dan tauladan bagi orang yang dipimpinnya. Oleh karenanya negeri kita ini diharapkan dapat dipimpin oleh sesorang yang bermoral dan pro terhadap rakyat, memang tidak mudah pilihan tidak dapat diberikan secara instan dan hanya karena suka tapi juga harus melihat lebih jauh sepak terjang, masa lalu, dan latar pendidikannya. Sehingga diharapkan Indonesia 5 tahun yang akan datang dipimpin oleh sosok yang baik, yang telah lama dirindukan.  

DAFTAR PUSTAKA

Kartono, kartini, Pemimpin dan Kepemimpinan, Jakarta, Divisi Buku Perguruan Tinggi,  PT. RajaGrafindo Persada, 1982
Rifai, Veith, Pemimpin dan Kepemimpinan dalam Organisasi, Jakarta, Divisi Buku Perguruan Tinggi, PT RajaGrafindo Persada, 2012
Robiyanto. 2014. Wawancara tentang "Kepemimpinan" di kantin Universitas Bangka Belitung, Kampus Terpadu Balun Ijuk Merawang Bangka, Bangka Belitung.
Zulkifli. (2013). Kepemimpinan Nasional Dalam Sejarah Perjalanan Bangsa: Dari Pemimpin Pergerakan, Pemimpin Pejuang, Pemimpin Pembangun ke Pemimpin yang     Baik. Fisip Universitas Sriwijaya: Palembang.



Baca juga:

Sabtu, 05 April 2014

Makalah Fiqih Muamalah (Syirkah, Mudharabah, Musaqah, Muzara’ah dan Mukhabarah)



MATA KULIAH MATERI FIQIH

BAB I
PENDAHULUAN

1.1.  Latar Belakang Masalah
Islam adalah agama yang sempurna, kesempurnaan ini tercerminkan ketentuan-ketentuan hukum Islam yang mengatur disemua lini kehidupan manusia, mulai dari persoalan ibadah, munakahat hingga muamalah semuanya tidak lepas dari sentuhan hukum Islam.
Produk hukum Islam menjelaskan detil terperinci dari suatu permasalahan yang ada dalam kehidupan, semua itu bersumber dari dalil yang jelas, yakni Al-Qur’an dan al-hadits.

1.2.  Rumusan Masalah
1)        Jelaskan tentang syirkah dan hal-hal yang berkaitan dengannya!.
2)        Jelaskan tentang mudharabah dan hal-hal yang berkaitan dengannya!.
3)        Jelaskan tentang musaqah dan hal-hal yang berkaitan dengannya!.
4)        Jelaskan tentang muzara’ah dan mukhabara serta hal-hal yang berkaitan dengannya!.

1.3.  Tujuan Penulisan
Yaitu untuk menambah pengetahuan dan wawasan tentang fiqih muamalah, khususnya tentang syirkah, mudharabah, musaqah, muzara’ah dan mukhabarah.



BAB II
PEMBAHASAN

2.1. Syirkah
2.1.1.   Definisi dan Dasar Hukum
Menurut bahasa, syirkah berarti perhimpunan (serikat / persekutuan), sedangkan menurut syara’ yaitu Ákad yang menuntut adanya kepastian suatu hak milik dua orang atau lebih untuk suatu tujuan dengan sistem bagi untung rugi secara merata.
Dasar hukum syirkah yaitu firman Allah Ta’ala yang artinya: “...Maka mereka bersekutu dalam yang sepertiga itu, sesudah dipenuhi wasiat yang dibuat olehnya atau sesudah dibayar hutangnya dengan tidak memberi mudharat (kepada ahli waris). (Allah menetapkan yang demikian itu sebagai) syari'at yang benar-benar dari Allah, dan Allah Maha mengetahui lagi Maha Penyantun.....” (QS. An-Nisaa’: 12)
Dan hadits qudsi Allah berfirman:
َنَا ثَالِثُ الشَّرِيْكَيْنِ مَالَمْ يَخُنْ اَحَدُهُمَا صَاحِبَهُ فَإِذَا خَانَهُ خَرَجْتُ مِنْ بَيْنِهِمَا
“Aku adalah pihak ketiga dari dua orang yang bersekutu selama salah seorang dari mereka tidak menciderai rekannya. Ketika dia menciderai rakannya, Aku keluar dari persekutuan di antara mereka berdua”. (HR. Abu Daud dan Al-Hakim).
2.1.2.   Persyaratan Akad, rukun dan Macam-Macam Syirkah
Akad syirkah atau serikat sah hukumnya apabila di adakan oleh para pihak telah baligh, berakal dan waras.
Rukun syirkah ada empat, yaitu sighat, pihak yang berakad, kekayaan dan pekerjaan.
Syirkah terdiri atas empat macam, yaitu:
1)   Serikat yang berkenaan dengan badan atau pekerjaan
Yaitu persekutuan dari para pemilik pekerjaan, dengan kesepakatan bahwa hasil dari pekerjaan yang dilakukan mereka menjadi milik mereka secara merata, baik mereka melakukan pekerjaan yang sama atau tidak. Misalnya, kerjasama antara kuli angkut dalam memborong suatu pekerjaan yang upahnya akan dibagi rata.
Menurut ulama Syafi’iyah hukum serikat semacam ini batal, karena tidak ada modal yang dihimpun didalamnya, dan ada unsur tindak penipuan. Sebab masing-masing pihak tidak mengetahui rekanannya menghasilkan keuntungan atau tidak.
2)   Serikat Dagang
Yaitu serikat dengan ketentuan para pemilik saham memiliki hak dan kewajiban yang sama, atau persekutuan beberapa orang dengan menerima hasil dan tanggung jawab secara bersama-sama. Misalnya, barang yang dighashab (rampas). Serikat semacam ini menurut ulama Syafi’iyah hukumnya juga batal, karena didalamnya ada kemungkinan terjadinya penipuan.
Sementara itu, ulama Hanafiyah dan Malikiyah memperbolehkannya, karena serikat semacam ini hampir sama dengan mudharabah.
3)   Serikat Wujuh
Yaitu persekutuan yang di adakan oleh beberapa orang dalam hal keuntungan bisnis dari perniagaan mereka hingga masa tertentu. Serikat semacam ini, menurut ulama Syafi’iyah dan Malikiyah hukumnya juga batal, karena tidak ada kekayaan yang terhimpun diddalamnya yang bisa ditarik kembali jika terjadi pembatalan akad.
4)   Serikat ‘inan
Yaitu perserikatan beberapa orang dalam pengumpulan harta yang dipergunakan untuk berdagang, atau masing-masing pihak membawa kekayaan untuk dihimpun dengan kekayaan milik rekanannya. Menurut ijma’ ulama, serikat semacam ini hukumnya boleh, hal ini sesuai dengan hadits yang telah disampaikan dimuka.
2.1.3.   Sistem Pembagian Keuntungan
Keuntungan dan kerugian dibagi secara merata sesuai dengan kadar kepemilikan kekayaan tersebut. Karena keuntungan membuktikan adanya perkembangan kedua kekayaan itu, sedangkan kerugian menandakan adanya penurunan kekayaan tersebut. Oleh karena itu, keuntungan dan kerugian harus disesuaikan dengan kadar harta tersebut.

2.2. Mudharabah
2.2.1.   Definisi dan Dasar Hukum
Kata mudharabah merupakan istilah yang dipakai oleh penduduk Iraq, karena masing-masing pihak yang mengadakan akad bergerak mengambil keuntungan yang diperoleh, dalam hal ini umumnya mengandung unsur safar. Sementara safar disebut pergerakan (dharb) dimuka bumi. Sedangkan menurut bahasa penduduk Hijaz disebut qiradh, di ambil dari kata dasar al-qardh yang artinya membagi, karena pemilik modal menanamkan sebagian kekayaannya kepada pengusaha untuk mengelolanya dan memberikan sebagian keuntungannya.
Madharabah atau qiradh menurut syara’ adalah penanaman sejumlah modal oleh pemilik kekayaan kepada seseorang (pengusaha) untuk kepentingan bisnis dibidang perdagangan, dan laba yang diperoleh menjadi milik bersama di antara mereka.
Dasar hukum pensyari’atan mudharabah yaitu firman Allah SWT:
}§øŠs9 öNà6øn=tã îy$oYã_ br& (#qäótGö;s? WxôÒsù `ÏiB öNà6În/§ 4
Artinya: “Tidak ada dosa bagimu untuk mencari karunia (rezki hasil perniagaan) dari Tuhanmu. ......” (QS. Al-Baqarah: 198)



Serta hadits Nabi SAW.:
قَالَ رَسُوُّلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ثَلاَثٌ فِيْهِنَّ الْبَرَكَةُ الْبَيْعُ إِلىَ اَجَلٍ وَاْلمقَارَضَةُ وَاَخْلاَطُ الْبُرِّ بِاالشَّعِيْرِ لِلْبَيْتِ لاَلِلْبَيْعِ
Artinya: “Rasulullah saw bersabda: “Tiga hal yang di dalamnya terdapat keberkahan, yaitu jual beli secara tangguh, muqaradhah (bagi hasil) dan mencampur gandum putih dengan gandum merah untuk keperluan rumah bukan untuk dijual.”  (HR. Ibnu Majjah)
2.2.2.   Rukun dan Syarat Mudharabah
Secara umum rukun dan syarat-syarat sah mudharabah adalah sebagai berikut:
1)        Orang yang berakad, yaitu investor (pemilik modal) dan pengelola (mudharib). Kedua belah pihak yang melakukan akad disyaratkan mampu melakukan tasharruf atau cakap hukum, maka dibatalkan akad anak-anak yang masih kecil, orang gila, dan orang-orang yang berada di bawah pengampuan.
2)        Modal atau harta pokok (mal), syarat-syaratnya yakni:
a.         Berbentuk uang
Mayoritas ulama berpendapat bahwa modal harus berupa uang dan tidak boleh barang. Mudharabah dengan barang dapat menimbulkan kesamaran, karena barang pada umumnya bersifat fluktuatif. Apabila barang itu bersifat tidak fluktuatif seperti berbentuk emas atau perak batangan (tabar), para ulama berbeda pendapat. Imam malik dalam hal ini tidak tegas melarang atau membolehkan. Namun para ulama mazhab Hanafi membolehkannya dan nilai barang yang dijadikan setoran modal harus disepakati pada saat akad oleh mudharib dan shahibul mal.
Contohnya, seorang memiliki sebuah mobil yang akan diserahkan kepada mudharib (pengelola modal). Ketika akad kerja sama tersebut disepakati, maka mobal tersebut wajib ditentukan nilai mata uang saat itu, misalnya Rp 90.000.000, maka modal mudharabah tersebut adalah Rp 90.000.000.
b.        Jelas jumlah dan jenisnya
Jumlah modal harus diketahui dengan jelas agar dapat dibedakan antara modal yang   diperdagangkan dengan laba atau keuntungan dari perdagangan tersebut yang akan dibagikan  kepada dua belah pihak sesuai dengan perjanjian yang telah disepakati.
c.         Tunai
Hutang tidak dapat dijadikan modal mudharabah. Tanpa adanya setoran modal, berarti shahibul mal tidak memberikan kontribusi apapun padahal mudharib telah bekerja. Para ulama syafi’i dan Maliki melarangnya karena merusak sahnya akad.
d.        Modal diserahkan sepenuhnya kepada pengelola secara langsung
Apabila tidak diserahkan kepada mudharib secara langsung dan tidak diserahkan sepenuhnya (berangsur-angsur) dikhawatirkan akan terjadi kerusakan pada modal, yaitu penundaan yang dapat mengganggu waktu mulai bekerja dan akibat yang lebih jauh mengurangi kerjanya secara maksimal. Apabila modal itu tetap dipegang sebagiannya oleh pemilik modal, dalam artian tidak diserahkan sepenuhnya, maka menurut ulama Hanafiyah, Malikiyah, dan Syafi’iyah, akad mudharabah tidak sah. Sedangkan ulama Hanabilah menyatakan boleh saja sebagian modal itu berada di tangan pemilik modal, asal tidak mengganggu kelancaran usahanya.
3)        Sighat (Ijab Qobul)
Melafazkan ijab dari pemilik modal, misalnya aku serahkan uang ini kepadamu untuk dagang jika ada keuntungan akan dibagi dua dan kabul dari pengelola.
4)        Pembagian Keuntungan
a.         Proporsi jelas. Keuntungan yang akan menjadi milik pengelola dan pemilik modal harus jelas persentasenya, seperti 60% : 40%, 50% : 50% dan sebagainya menurut kesepakatan bersama.
b.        Keuntungan harus dibagi untuk kedua belah pihak, yaitu investor (pemilik modal) dan pengelola (mudharib).
2.2.3.   Kewajiban Mudharib
1)        Tidak memberikan modal ke pihak lain tanpa seizin pemilik modal, karena tugas yang di embannya berdasarkan izin.
2)        Tidak berdagang kecuali perdagangan yang di izinkan pemilik modal, karena pengusaha tidak mempunyai kewenangan untuk melakukan tindakan tanpa lisensi dari pemilik modal.
3)        Tidak membeli barang melebihi modal dasar, karena izin diberikan sesuai besaran modal dasar.

2.3. Musaqah
2.3.1. Definisi dan Dasar Hukum Musaqah
Menurut bahasa, musaqah di ambil dari kata dasar as-saqyu (pengairan).
Menurut syara’, musaqah adlah kerjasama perawatan tanaman, seperti menyirami dan lain sebagainya dengan perjanjian bagi hasil atas buah atau manfaat yang dihasilkan.
Dasar hukum musaqah adalah sabda Rasulullah SAW.:
حديث ابْنِ عُمَرَ، أَنَّ النَّبِيَّ صلى الله عليه وسلم عَامَلَ خَيْبَرَ بِشَطْرِ مَا يَخْرُجُ مِنْهَا مِنْ ثَمَرٍ أَوْ زَرْعٍ، فَكَانَ يُعْطِي أَزْوَاجَهُ مِائَةَ وَسْقٍ: ثَمَانُونَ وَ سْقَ تَمْرٍ، وَعِشْرُونَ وَ سْقَ شَعِيرٍ؛ فَقَسَمَ عُمَرُ خَيْبَرَ فَخَيَّرَ أَزْوَاجَ النَبِيِّ صلى الله عليه وسلم أَنْ يُقْطِعَ لَهُنَّ مِنَ الْمَاءِ وَالأَرْضِ أَوْ يُمْضِيَ لَهُنَّ، فَمِنْهُنَّ مَنِ اخْتَارَ الأَرْضَ وَمِنْهُنَّ مَنِ اخْتَارَ الْوَسْقَ، وَكَانَتْ عَائِشَةُ اخْتَارَتِ الأَرْضَ
Artinya: Ibn Umar r.a. berkata. Nabi Saw. menyerahkan sawah ladang dan tegal di Khaibar kepada penduduk Khaibar dengan menyerahkan separuh dari penghasilannya berupa kurma atau buah dan tanaman, maka Nabi SAW. memberi isteri-isterinya seratus wasaq (I wasaq = 60 sha 1 sha' - 4 mud atau 2 1/2 kg), delapan puluh wasaq kurma tamar, dan dua puluh wasaq sya'ier (jawawut). Kemudian di masa Umar r.a. membebaskan kepada isten isteri Nabi SAW. untuk memilih apakah minta tanahnya atau tetap minta bagian wasaq itu, maka di antara mereka ada yang memilih tanah dan ada yang minta bagian hasilnya berupa wasaq. A'isyah r.a. telah memilih tanah. (HR. Bukhari, Muslim).
2.3.2.   Rukun dan Persyaratan Musaqah
Rukun-rukun musaqah menurut jumhur ulama ada lima :
1)        Sighat, (ungkapan) ijab dan qabul;
2)        Al-aqidain, dua orang pihak yang melakukan transaksi;
3)        Obyek al-musaqah, yang terdiri atas pepohonan yang berbuah baik berbuahnya dalam bentuk tahunan atau juga setahun sekali, seperti padi, jagung, dll;
4)        Ketentuan mengenai pembagian hasil dari musaqah tersebut;
5)        Masa kerja, hendaknya ditentukan lama waktu yang akan dipekerjakan.
Sedangkan menurut ulama Hanafiyah yang menjadi rukun dalam musaqah itu hanyalah ijab dari pemilik tanah perkebunan dan qabul dari petani penggarap, dan pekerjaan dari pihak petani penggarap.
Adapun syarat-syarat yang harus dipenuhi oleh masing-masing rukun adalah:
1)        Ucapan yang dilakukan kadang jelas (sharih) dan dengan samaran (kinayah), disyaratkan shigat itu dengan lafazd dan tidak cukup dengan perbuatan saja;
2)        Kedua belah pihak yang melakukan transaksi al-musaqah harus yang mampu dalam bertindak yaitu dewasa (akil baligh) dan berakal;
3)        Dalam obyek al-musaqah terdapat perbedaan pendapat ulama fiqh. Menurut Hanafiyah yang menjadi obyeknya adalah pepohonan yang berbuah, seperti kurma, anggur dan terong atau pohon yang mempunyai akar ke dasar bumi. Menurut ulama Malikiyah mengatakan bahwa obyeknya adalah tanaman keras dan palawija, seperti kurma, anggur, terong dan apel, dengan syarat bahwa: (a) Akad al-musaqah itu dilakukan sebelum buah itu layak panen; (b) Tenggang waktu yang ditentukan harus jelas; (c) Akad dilakukan setelah tanaman itu tumbuh; (d) Pemilik perkebunan tidak mampu untuk mengelola dan memelihara tanaman itu. Menurut Hanabilah yang boleh dijadikan obyek al-musaqah adalah tanaman yang yang buahnya boleh dikonsumsi, maka dari itu al-musaqah tidak berlaku terhadap tanaman yang tidak berbuah. Sedangkan ulama Syafiiyah berpendapat bahwa yang boleh dijadikan obyek itu adalah kurma dan anggur saja. Sebagaimana terlampir dalam hadist Rasulullah SAW yang berbunyi :
Artinya : Rasulullah Saw. menyerahkan perkebunan kurma di Khaibar kepada Yahudi dengan ketentuan sebagian hasilnya, baik dari buah-buahan maupun dari biji-bijian menjadi mililk orang Yahudi itu;
4)        Tanah itu diserahkan sepenuhnya kepada petani penggarap setelah akad berlangsung untuk digarapi, tanpa campur tangan pemiliknya;
5)        Hasil (buah) yang dihasilkan dari kebun itu merupakan hak mereka bersama, sesuai dengan kesepakatan yang mereka buat, baik dibagi menjadi dua, atau tiga, dsb;
6)        Lamanya perjanjian itu harus jelas, karena transaksi ini hampir sama dengan transaksi ijarah ( sewa menyewa ).
2.3.4.   Perbedaan Al-Musaqah Dengan Al-Muzara’ah
Ulama Hanafiyah menyatakan bahwa ada perbedaan antara al-musaqah dengan al-muzara’ah, yaitu:
1)        Jika salah satu pihak dalam akad al-musaqah tidak mau melaksanakan hal-hal yang telah disetujui dalam akad, maka yang bersangkutan boleh dipaksa untuk melaksanakan kesepakatan itu. Berbeda dengan akad al-muzara’ah, bahwa jika pemilik benih tidak mau kerjasama dalam menuaikan benih maka ia tidak boleh dipaksa. Menurut jumhur ulama, akad al-musaqah itu bersifat mengikat kedua belah pihak. Beda dengan al-muzara’ah yang sifatnya baru mengikat jika benih sudah disemaikan, apabila benih belum disemaikan, maka pemilik boleh saja untuk membatalkan perjanjian itu. Berbeda dengan pendapat Hanabilah yang mengatakan bahwa akad al-musaqah dan al-muzara’ah itu merupakan akad yang tidak mengikat kedua belah pihak, oleh karena itu boleh saja salah satu pihak yang melakukan akad membatalkan;
2)        Menurut Hanafiyah penentuan waktu dalam al-musaqah itu bukanlah salah satu syarat, penentuan lamanya akad itu berlangsung disesuaikan dengan adat kebiasaan setempat. Sedangkan dalam akad al-muzaraah itu dalam penentuan waktu, ada dua pendapat. Menurut Hanafi; pertama disyaratkannya tenggang waktu, dan kedua tidak disyaratkan;
3)        Apabila tenggang waktu yang disetujui dalam akad al-musaqah berakhir, akad dapat terus dilanjutkan tanpa ada imbalan terhadap petani penggarap. Sedangkan dalam akad al-muzara’ah bila tenggang waktu telah habis dan tanaman belum juga panen, maka petani penggarap melanjutkan pekerjaannya dengan syarat ia berhak menerima upah dari hasil bumi yang dipetik.
2.3.5.   Berakhirnya Akad Al-Musaqah
Menurut para ulama berakhirnya akad al-musaqah itu apabila :
1)        Tenggang waktu yang disepakati dalam akad telah habis;
2)        Salah satu pihak meninggal dunia;
3)        Ada udzur yang membuat salah satu pihak tidak boleh melanjutkan akad.
Dalam udzur disini para ulama berbeda pendapat tentang apakah akad al-musaqah itu dapat diwarisi atau tidak :
Ulama Malikiyah: bahwa al-musaqah adalah akad yang boleh diwarisi, jika salah satunya meninggal dunia dan tidak boleh dibatalkan hanya karena ada udzur dari pihak petani.
Ulama Syafi’iyah: bahwa akad al-musaqah tidak boleh dibatalkan meskipun ada udzur, dan apabila petani penggarap mempunyai halangan, maka wajib petani penggarap itu menunjuk salah seorang untuk melanjutkan pekerjaan itu.
Ulama Hanabilah: akad musaqah sama dengan akad muzara’ah, yaitu akad yang tidak mengikat bagi kedua belah pihak. Maka dari itu masing-masing pihak boleh membatalkan akad itu. Jika pembatalan itu dilakukan setelah pohon berbuah, buah itu dibagi dua antara pemilik dan penggarap sesuai dengan kesepakatan yang telah ada.

2.4. Muzara’ah dan Mukhabarah
2.4.1.   Definisi, Perbedaan dan Ketentuan Hukum Muzara’ah dan Mukharabah
Muzara’ah adalah akad penggarapan tanah kosong produktif dengan sistem bagi hasil yang disepakati bersama, yang benih tanamannya ditanggung oleh pemilik tanah. Sebaliknya, jika benih tanaman ditanggung oleh penggarap ia disebut mukhabarah.
Menurut pengikut Mazhab Syafi’i, hukum muzara’ah dan mukhabarah adalah batal, karena keduanya dilarang untuk dilakukan. Hal ini berdasarkan sabda Rasulullah SAW.:
رَافِعَ بْنَ خَدِيجٍ يَقُولُ إِنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ نَهَى عَنْهَا فَذَكَرْتُهُ
Artinya: ...Rafi' bin Khudaij berkata, "Sesungguhnya Rasulullah SAW melarang muzara'ah....” (HR. Abu Dawud dan Ibnu Majjah)
2.4.2.   Dasar Hukum Muzara’ah yang di Ikutsertakan dengan Masaqah
Para pengikut Mazhab Syafi’i secara bulat memperbolehkan akad muazara’ah yang di ikutsertakan dengan akad musaqah. Misalnya disekitar tanaman kurma atau anggur ada tanah kosong, lalu akad mazara’ah atas lahan kosong dilakukan bersamaan dengan akad atas pohon kurma atau anggur tersebut hukumnya sah. Sementara itu akad mukhabarah hukumnya batal secara mutlak.
Muzara’ah yang di ikutsertakan dengan musaqah harus memenuhi lima persyaratan berikut:
1)        Pelaksana tugas dalam akad kedua akad tersebut harus orang atau sekelompok orang yang sama. Sehingga apabila pemilik mengadakan akad musaqah dengan satu pihak dan akad muzara’ah dengan pihak lain lagi, maka hukumnya tidak sah.
2)        Kesulitan memisahkan perawatan pohon kurma atau anggur, dan mengolah lahan kosng (muzara’ah) karena adanya saluran air dalam tanah dan pengolahan tanah sangat bermanfaat buat pohon kurma. Namun apabila keduanya dapat dipisah, muzara’ah tidak diperbolehkan karena tidak diperlukan lagi.
3)        Kedua pihak yang berakad tidak memisahkan pelaksanaan kedua akad tersebut, bahkan kedua akad itu harus dilakukan berkelanjutan agar sifat keikutsertaan dapat terpenuhi.
4)        Pemilik tidak mengadakan akad muzar’ah lebih dahulu dai akad musaqah, karena status muzara’ah adalah mengikuti. Sesuatu yang mengikuti tidak boleh mendahului sesuatu yang di ikuti.
5)        Harus menjelaskan jenis tanaman yang akan ditanam.




BAB III
PENUTUP

3.1. Kesimpulan
Dari semua uraian di atas, dapat kita peroleh gambaran bahwa agama Islam benar-benar merupakan tuntunan hidup yang sempurna, tiddak ada satu pun sendi kehidupan yang lepas dari pengaturan Islam. Hal ini semakin menegaskan Islam sebagai rahmatan lil ‘alamin, karena ia benar-benar merupakan rahmat bagi semesta.
Semua hukum dalam Islam hanya mencerminkan satu hal, yakni kemaslahatan umat, walaupun terkadang di ingkari oleh orang-orang dungu engikut hawa nafsu, namun itu tidak menutup atau menyembunyikan fakta yang sebenarnya.

3.2. Saran
Sesungguhnya kesempurnaan hanyalah milik Allah ta’ala, kami sebagai manusia biasa tentulah tak lepas dari kekurangan, termasuk pula makalah yang kami tulis ini. Oleh karena itu kami mengharapkan saran dari semua pihak demi perbaikan pada penulisan makalah kami di masa yang akan datang.





Baca juga: